Jangan Hujan Malam Ini

Ditulis Februari 3, 2010 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

Nak, tadinya aku berharap hujan turun lagi malam ini. Gerah rasanya seharian tadi. Mungkin karena aku lumayan banyak berkeringat. Dua kali rit ke kantor. Rit kedua naik sepeda. Rit pertama tadi yang jalan kaki, ke kantor lalu ke Pasar mampang terus ke tukang jahit untuk memperbaiki baby carrier. Itu baby carrier untukmu, Nak. Aku ke tukang jahit untuk menguatkan jahitan kancingnya, supaya kuat menyangga tubuhmu nanti. Kata Bu Dokter tadi, beratmu sekarang sudah 3,4 kilogram, dan sudah masuk ke jalan lahir. Alhamdulillah, sejauh ini baik dan normal saja.

Tadi kunjungan terakhir kami ke Dokter Sri Pudiastuti di Jakarta Medical Centre. Besok kita akan ke Bandung, Nak, beramai-ramai. Ibumu ingin melahirkan kamu di sana, biar dekat dengan ibunya, katanya. Biasalah, perempuan, mereka selalu merasa lebih aman bila dekat dengan ibunya. Tak apa-apa ya, Nak. Bandung juga keren kok di akta kelahiran. Setidaknya lebih keren daripada tempat lahirku: Watampone. Di mana itu? Jauh dan sering tidak ditulis di peta Indonesia. Kamu akan tahu kelak bila masih ada pelajaran Geografi di sekolahmu.

Tadi sama dokter Sri, kami minta didoakan. Minta didoakan semoga semuanya lancar. Dokter Sri itu baik, meski agak kaku. Setidaknya selama 8 bulan periksa dan konsultasi kehamilan ke dia, kami tak pernah ada kesulitan. Dokter Sri selalu kasih harapan-harapan baik yang tentu saja penting untuk psikologi ibu hamil. Kalau aku bilang agak kaku, ya mungkin itu perasaanku saja. Mungkin aku sedikit subjektif karena pernah ditolak waktu aku minta nomer handphone-nya. Tapi its ok kok. Kami bisa memakluminya.

Bubar periksa, kami tidak langung pulang, Nak. Aku dan ibumu singgah dulu nongkrong di tukang kerak telor yang mangkal di depan Rumah Sakit JMC. Selama 8 bulan mondar-mandir ke JMC, baru kali itu kami melihatnya.
“Sering kehalang mobil…” katanya waktu aku tanya kenapa baru melihatnya di situ. Namanya Pak Rahmat, dan seperti kepada tukang-tukang kerak telor lainnya, aku memanggilnya Babe. Bertahun-tahun dia berjualan di pojok parkiran RS. JMC itu. Jika parkiran penuh, Babe akan semakin tak terlihat. Malam tadi tak terlalu ramai, jadi kami bisa leyeh-leyeh. Ibumu duduk di tembok pagar, aku duduk di besi pembatas ban. Babe Rahmat duduk di antara kami, sambil mengipas-ipas tungkunya.

Sebelum berjualan di sini, Babe berjualan di Monas. Di Monas dia berhenti setelah ongkos angkutan dari rumahnya di Pejaten Barat semakin mahal, dan rematik mulai mendera badannya.
Bila rematiknya kambuh, “Sakitnya terasa sampai di sini,” kata Babe sambil menunjuk bagian perutnya. Dia bukannya tidak mencoba berobat. Babe bahkan pernah memeriksakan diri ke dokter JMC, tapi tidak banyak perubahan. Tubuh 68 tahun itu mungkin sudah susah bereaksi dengan obat apapun.

Babe bercerita soal sakitnya atau soal hari-hari di mana tak ada satupun pembeli, semuanya dengan ekspresi yang sama. Tersenyum. Itu benar-benar senyum. Senyum yang sama seperti saat dia bercerita tentang cucu-cucunya. Babe Rahmat tak pernah sinis terhadap kehidupan, rupanya.

Aku tiba-tiba ingat bapakku almarhum. Bapakku juga murah senyum. Seumur hidupku, tak pernah aku berhasil tahu kapan dia mengalami masa-masa sulit. Semua masalah dilaluinya dengan senyum, kadang disertai lelucon-lelucon garing yang membuat kami merasa berdosa bila tidak ikut tertawa.
Aku rindu cerita-cerita bapakku. Demi Allah, andai kamu bisa melihatku sekarang, Nak, mataku basah saat menulis ini…

Ironis ya, Nak. Bapakku yang selalu mengajarkanku arti tertawa riang justru lebih sering aku ceritakan dengan haru biru. Itu karena aku merasa berutang sangat banyak padanya. Utang tak terbayar sebagai konsekuensiku memilih jalan pedang ini. Halah! 🙂

Kenapa aku tulis ini, sederhana saja sebabnya. Aku ingin kelak engkau bisa mengenangku seperti aku mengenang bapakku. Berilah aku waktu untuk belajar. Seperti bapakku, aku ingin jadi ayah yang baik, yang tak pernah menyentuhkan kulit tangannya ke badan anaknya dalam keadaan marah. Apakah lagi yang lebih berarti bagi seorang pria selain saat ketika anaknya dengan ikhlas menulis “I’m just a happy kid”, dan istrinya menulis “I’m a happy wife”. Subhanallah. I so wish this would happen to me, Son!

Jadi begitulah, Nak. Tadinya aku berharap hujan turun malam ini. Hingga tadi, sebelum aku bertemu tukang kerak telor di depan Rumah Sakit JMC itu. Babe Rahmat yang tanpa henti mengipasi tungku dan berkali-kali meminta maaf karena telah membuat kami menunggu, telah mengajari kami satu lagi sudut pandang kebahagiaan.
Dia guru kami malam ini. Dan sungguh sangat tak berterima kasihlah kami jika mengharapkan hujan turun. Babe Rahmat masih akan di sana hingga tengah malam. Tanpa atap.
Adapun kami yang berharap turun hujan, seringkali hanya menginginkan romansa dan sedikit melankoli.

Allah Menjawab Semua Doa, Hanya Saja Kadang-kadang Jawaban-Nya Adalah ‘Belum’ dan ‘Tidak’

Ditulis Januari 18, 2010 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

Nak, selalu ada masa-masa sulit yang harus dilewati dalam hidup. Masa-masa sulit itu sering kita beri nama macam-macam. Kadang kita sebut dia cobaan, ujian, musibah, atau azab. Tergantung sejauh mana kita melihat dan menyetujuinya. Pernah suatu kali saya hampir meninggalkan sebuah shalat Jumat hanya karena khotibnya bilang tsunami di Aceh dan gempa di Padang itu adalah azab, hukuman. Saya tidak sepakat ,dan jika bukan karena terpaksa, saya berniat mencari masjid lain yang khotbahnya tidak menggeneralisir seenaknya seperti itu.
Maafkan saya, ya Allah. Mungkin itu benar. Tapi siapalah kita ini, merasa bisa menentukan dan menilai penderitaan orang lain?
Saya ingat seorang anak kecil yang terhimpit di tengah antrian makanan di Aceh, setelah tanah mereka rata oleh tsunami 26 Desember 2004. Saya ingat ibu kawan saya yang tinggal di tenda di Padang Sago setelah gempa 30 September 2009. Demi Allah, tak sedikitpun saya berani bilang mereka menanggung azab. Ya Allah, dengan segala kebodohan yang saya miliki, ijinkan saya untuk tak sepakat dengan dia yang berjubah wangi dan berdiri di mimbar itu.

Ada seorang da’i terkenal yang pernah bilang, “Ini ujian bagi saya”. Yang dia maksud dengan ujian adalah kondisi ketika dia harus beristri dua dan disorot publik dan dihujat jemaahnya yang tidak setuju. Ada juga seorang bintang sinetron yang berujar serupa. Tapi yang dia maksud dengan ujian adalah wajahnya yang tampan yang membuatnya dikejar-kejar cewek-cewek ABG dan alay-alay.
Di lain kesempatan, ada seorang haji kaya raya yang dengan entengnya bilang, “Kekayaan yang saya miliki ini adalah ujian dari Allah”. Teman saya yang pengamen menimpali, “Kalau ujiannya kaya raya, semua orang juga pengen diuji, Pak Haji…”

Nak, saya sama sekali tidak berpretensi untuk menjelaskan padamu apa itu cobaan, ujian, musibah, atau azab. Saya juga bukan semacam moderator diskusi yang sering merasa sok tahu untuk menyimpulkan apa-apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kawan saya yang suka menyederhanakan masalah itu bilang, “Apapun jenisnya, mari kita sepakat menyebutnya masa sulit. Mau ujian kek, cobaan kek, azab kek, sebut saja tough days!

Sebenarnya, Nak, saya menulis ini karena saya merasa juga sedang mengalami masa-masa sulit. Di luar kondisi bahwa kita harus selalu bersyukur pada apa yang terjadi, kadang kita memang tidak bisa selalu berpura-pura menjadi Rambo. Kadang-kadang kita ini Rinto, ST12, suka mewek…
Saya pun dengan sangat tak tahu diri menyebut situasi yang sedang saya alami ini sebagai masa-masa sulit. Padahal ini tak ada sepersejutanya dari penderitaan yang dirasakan oleh, misalnya, ibu kawan saya di Padang Sago itu.

Untuk menulis ini pun, saya harus mengesampingkan nasehat Buya Hamka yang pernah bilang, berbahagialah dengan apa yang kau punyai, dan yang tidak kau punyai.
Mungkin itulah masalahnya, Nak. Jakarta tak pernah membiarkanmu untuk bahagia dengan sesuatu yang tidak kau punyai. Di Jakarta, kita dibuat tak pernah puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar saja. Kota ini selalu membuat kita ingin lebih. Entah kenapa, saya merasa orang-orang hanya melihat kita dari apa yang kita punya. Bukan dari apa yang tidak kita punyai. Tak pernah saya mendengar ada yang bilang, “Gila! Lo keren banget ya.. gak punya Blackberry!”.

Nak, insya Allah, sekitar sebulan lagi kamu lahir. Kamu tahu, di usia kehamilan ibumu yang memasuki delapan bulan ini, saya sering dihinggapi rasa bersalah. Jangan kau ragukan, saya selalu ingin yang terbaik untukmu dan ibumu. Saya sudah berusaha cari duit mati-matian, tapi entah kenapa yang terjadi adalah saya selalu merasa usahaku itu tidak cukup keras. Tidak cukup kuat untuk menembus batu Chin mi. Ini masalahku, Nak. Seorang dosen yang menurutku lebih cocok jadi motivator pernah memberi kuliah, “Bagilah semangatmu menjadi dua, masing-masing 50 persen. Setelah itu, dua semangat 50 persen itu kamu jadikan masing-masing 100 persen. Sekarang kamu punya 200 persen semangat!” Begitu katanya, Nak. Matematika apa itu! Hehehe..

Nak, aku selalu berharap kelak kamu akan mendapatkan guru agama yang baik. Guru agama yang selalu mengingatkan dan meyakinkanmu bahwa Allah tidak tidur. Gusti Allah ora sare, kata teman-teman kami yang orang Jawa.

Oya, Nak, untuk sementara, saya tak membiarkan ibumu naik angkot. Jadi kemana-mana kami membawamu naik taksi. Bukannya mau riya, tapi kami kalau naik taksi kami suka kasih lebihan Rp5000 sampai Rp10000 ke sopir taksinya. Dan kemarin itu, saya dapat jawaban lagi kenapa sampai sekarang belum bisa membeli mobil untuk ibumu.
Ada yang datang di mimpiku, Nak, dan dia bilang kami masih harus jadi perantara rezeki sopir taksi itu, melalui lebihan yang sering kami kasih itu. Rezeki mereka masih ada di saluran kami.

Jadi, Nak. Allah itu benar-benar tidak tidur. Allah menjawab semua doa. Hanya saja kadang-kadang jawabannya adalah Belum dan Tidak.

Didiklah Ayahmu Sejak Kau Masih Dalam Kandungan

Ditulis Januari 11, 2010 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

Dalam sejumlah nasehat, teori, maupun buku-buku, banyak ajaran yang sering disampaikan kepada para calon orangtua yang sedang menanti kelahiran buah hatinya. Salah satunya adalah: “didiklah anakmu sejak dia masih dalam kandungan”.
Bentuk pendidikan itu ada banyak macam. Mulai dari yang ilmiah-metodik hingga yang abstrak-transendental (ini kata asal comot saja, supaya kedengaran keren).
Contoh yang ilmiah-metodik adalah, kaum ibu biasanya mulai memperdengarkan musik klasik kepada calon bayinya. Komposisi nada dalam musik klasik ini –biasanya gubahan Mozart- dipercaya selaras dengan ritme kondisi lingkungan bayi di dalam perut ibunya. Dengan demikian bayi konon akan menjadi tenang dan damai.
Di awal-awal kehamilannya, istriku juga ikut-ikutan cara ini. Alhasil, headphone Philips-ku pun aku relakan untuk ditekuk-regangkan mengikuti anatomi perutnya. Tak apa. Ini demi River. Kalau misalnya saya ada duit lebih, headphone Sennheiser pun akan aku belikan untuk mendapatkan kualitas suara yang standar broadcast.

Adapun ibuku, sejak tahu istriku hamil, langsung menyuruhku banyak-banyak shalat, berdoa, dan mengaji. Salah satu surah dalam Al-Quran yang sering dianjurkan untuk dibaca saat menanti kelahiran bayi adalah surah Maryam dan Surah Yusuf. Pengharapannya jelas, jika kelak dia lelaki akan setampan Nabi Yusuf, dan apabila dia wanita maka akan secantik dan setangguh Maryam. Nah, ini salah satu contoh teknik abstrak-transendental.

Tambahan. Dalam sebuah buku tebal yang kami baca, pada minggu kehamilan ke-sekian, orangtua dianjurkan untuk mulai berbicara dengan sang janin. Pada minggu tersebut, sang calon bayi diperkirakan sudah bisa mendengar dan belajar mengenali suara ayah ibunya.
Demikianlah sekilas mengenai pendidikan pra-lahir ini. Intinya, seperti yang saya sebutkan di awal tadi, adalah mendidik seorang anak sejak dia masih dalam kandungan. Subhanallah. Betapa mulianya…

Sebagai calon ayah yang baik, saya pun selalu berusaha untuk menjalankan semua yang disarankan oleh para cerdik-pandai dan tetua tersebut. Tentu saja itu tidak mudah. Teori-teori pengasuhan tentu saja banyak berasal dari pengalaman empiris. Tapi, sekali lagi, selalu ada kemungkinan teori-teori tersebut bersifat kasuistik. Untuk si Svetlana cocok, belum tentu cocok untuk Asep. Demikian pula sebaliknya. Seorang pakar psikologi perkembangan bahkan pernah bilang, “Sebelum punya anak, saya punya LIMA teori tentang cara mengasuh anak. Tapi setelah itu apa yang terjadi? Saya punya LIMA anak yang tak punya teori.” Nah lho!

Orangtua zaman sekarang wajib berterimakasih karena sudah banyak pelajaran yang telah diajarkan oleh para pendahulu. Kahlil Gibran misalnya, dengan lantangnya dia bisa bilang:

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa memberikan rumah bagi raganya, tapi bukan bagi jiwanya
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok,
yang tak pernah dapat engkau kunjungi bahkan dalam mimpimu sekalipun…”

Atau ajaran yang disampaikan oleh Dorothy Law Nolte, seorang penyair Amerika dalam aforismanya yang termasyhur, Children Learn What They Live.


Anak belajar dari Kehidupannya.
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
JIka anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Dalam sebuah shirah zaman nabi, ada seorang ibu yang memarahi anaknya karena sang anak tanpa sengaja mengencingi baju Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah pun menegurnya dengan bijak, “Noda di pakaianku ini dapat segera hilang tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu.”

Di kisah yang lain, khalifah Umar Ibnu Khattab pernah dibuat heran oleh perilaku seorang sahabatnya. Sahabat ini dikenal sebagai seorang jago perang yang berperawakan gagah. Bahkan untuk menjaga citra kegagahan dan kegarangannya, dia tak pernah mencium anaknya. Umar pun menegurnya.
“Bagaimana mungkin engkau dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan sujudnya ketika shalat karena sang cucu bermain-main di punggungnya.”

Saya juga mengenal seorang pria yang menurutku sangat memenuhi kriteria kejantanan. Dia seorang legenda pendaki gunung. Di masa mudanya dia pendiri sebuah kelompok pecinta alam kampus terkenal. Ratusan gunung dan medan sudah dijajalnya. Namanya Herman Lantang. Suatu kali saya mengajak istriku –waktu itu masih belum istri, masih penjajakan ceritanya– main ke rumah Herman Lantang. Bang Herman –begitu dia selalu ingin disapa– menyambut kami dengan baik. Saya yang terobsesi dengan Soe Hok Gie dapat banyak cerita dari Bang Herman, termasuk detik-detik terakhir saat Soe Hok Gie meninggal di pangkuannya.
Saat kami sedang asyik ngobrol, obrolan kami dijeda oleh kedatangan dua orang anaknya yang baru saja pulang entah dari mana. Errol dan Cernan namanya. Errol gagah dan gondrong. Cernan agak gempal. Umurnya sekitar 20-an. Jauh lebih muda dari saya.
Ada satu pemandangan yang membuatku takjub. Begitu masuk rumah, Errol dan Cernan bukannya langsung ke dalam tapi singgah dulu mencium pipi ayahnya!
Aku takjub karena membandingkan mereka dengan diriku sendiri. Saat seusia mereka, maukah saya singgah mencium pipi bapak saya saat dia sedang menerima tamu?
Saya bahkan lupa kapan terakhir mencium pipi Bapak semasa hidupnya…

Di jalan pulang dari rumah Bang Herman itu, saya bilang ke Desanti, “saya ingin anakku kelak tak malu mencium pipi ayahnya, sekalipun ia gondrong dan bandel”. Saya bilang “anakku” bukan “anak kita” karena waktu itu Desanti masih menimbang-nimbang untuk menerima saya sebagai calon suaminya. Alhamdulillah sekarang dia sudah jadi istriku dan sedang mengandung anak pertama kami. Insya Allah, River namanya.

Jadi begitulah. Sejak tahu River ada di perut istriku, saya mencoba mengingat-ingat kembali pelajaran-pelajaran kecil namun berharga yang mungkin tercecer atau terlupa. Ada banyak. Dari rupa-rupa orang dan tempat. Dari Kahlil Gibran hingga Herman Lantang.

Menanti kelahiran River buat saya seperti men-daras bacaan lagi. Mengulang pelajaran tentang hidup. Saya beruntung bisa memasuki fase hidup ini; menjadi suami dan, insya Allah, seorang ayah. Saya tahu ada jutaan orang di luar sana yang berjuang untuk sekadar menjadi suami atau ayah, sementara ada sejumlah orang lain yang melalaikannya. Ada banyak suami yang menyakiti hati istrinya, dan ada ayah yang tega meletakkan anaknya di atas rel kereta api hingga kaki sang anak putus terlindas.

Menjadi ayah itu seperti madrasah. Seorang lelaki yang tahu dirinya akan segera menjadi ayah, akan belajar untuk menekan egonya. Mengabaikan nafsunya pada sepatu boot Oakley, speaker Bose, Bike Friday, atau teleskop Sky-watcher…

Belakangan ini, saya semakin jago, saya tak pernah lagi telat meletakkan tangan di perut istriku setiap kali River bergerak. Mungkin karena River sudah semakin besar sehingga gerakannya juga sudah semakin lama dan sering. Di saat-saat seperti itu, semakin terasa kecilnya kami sebagai manusia. Sebuah detak kecil saja bisa membuat kami meneteskan airmata saking bahagianya…
Ya Allah, mahluk mungil yang Kau titipkan itu, telah mendidik kami untuk bersyukur, bahkan sejak dia masih dalam kandungan.

Lalu, menjadi ayah itu seperti tetirahan. Tempat istirahat setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Seperti Anhony Swofford, seorang marinir Amerika, sepulangnya dari bertugas di Irak menulis sebuah memoar yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama, Jarhead.
Ceritanya panjang, tapi di bagian akhir dia menulis:

A story.
A man fires a rifle
for many years…
and he goes to war.

And afterwards
he comes home…
and he sees that
whatever else he might do
with his life…

build a house…
love a woman…
change his son’s diaper…

Doa Teknis di Tahun Baru

Ditulis Januari 1, 2010 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

River, semoga Allah selalu melindungimu, Nak.
Insya Allah, jika semuanya lancar, 2 bulan lagi kamu akan lahir ke dunia. Menyelesaikan satu fase dalam hidupmu, fase alam rahim. Kamu akan bergabung dengan kami di dunia yang keras ini. Kuatkan dirimu, Nak.

Ini malam tahun baru dalam hitungan Masehi. 2010. Kami tidak kemana-mana. Di rumah saja, menikmati letusan kembang api yang bersahut-sahutan di atas atap rumah. Mendirikan shalat beberapa rakaat lalu menyambungnya dengan doa-doa. Doa lama yang selalu berulang, berharap Allah melindungi orang-orang tercinta kami di sepanjang tahun ini. Dan kali ini, Nak, dengan bahagia dan penuh harap, kami mengikutkan namamu dalam daftar nama orang-orang tercinta kami.

Tahun lalu patut disyukuri. Banyak keajaiban terjadi. Terutama yang bulan Maret, saat dimana aku akhirnya berani memutuskan untuk tidak lagi soliter dan membiarkan seseorang masuk menata hidupku yang semrawut. Itu momen indah, Nak, tentu saja selain keajaiban lain bahwa kamu akan hadir melengkapi hidup kami. Subhanallah walhamdulillah.
Keajaiban lain lagi: bukuku akhirnya selesai dan aku bisa membuatnya masuk daftar tunggu di penerbit (meski belum jelas juga kapan terbitnya, namanya juga daftar tunggu..:-))
keajaiban lain lagi: aku berhasil menurunkan 7 kilogram berat badan, meski sekarang sudah naik lagi mendekati angka awal. But its ok, Kid. aku janji akan mencapai berat badan ideal saat kamu lahir nanti –atau setidaknya sampai kamu bisa aku ajak jalan. Aku punya rencana mau mengajakmu naik gunung bareng, dan itu tak bagus bila bawa lemak berlebih.

Tapi tahun kemarin juga banyak sedihnya, Nak. Banyak kasus yang bikin miris. Cicak versus buaya lah, Prita lah, Century lah, dan banyak lagi. Gus Dur juga baru saja wafat. Indonesia kehilangan satu lagi guru bangsa. Beliau ulama yang kontroversial. Dia ulama yang kharismatik tapi kadang-kadang juga bikin kesal. Aku pernah dimarahi Gus Dur karena dia tidak suka pertanyaanku waktu mewawancarainya. Tapi dia juga pernah bikin aku tertawa terpingkal-pingkal karena celutukan dan humornya yang luar biasa lucu. Sebagai pengikut NU, mari kita mendoakan beliau semoga dilapangkan jalannya ke surga.

Oya, Nak, perlu kamu ketahui, keluarga dari garis ayahmu ini adalah pengikut NU. Kalau dari garis ibumu belum sempat aku konfirmasi. Kami belum ngobrol banyak soal ini. Ibumu masih tidur. Besoklah kalau dia sudah bangun baru aku tanya. Tapi dugaanku sih keluarga ibumu berafiliasi ke Muhammadiyah atau ahlus sunnah.
Tapi jangan khawatir, kami tak akan memaksamu untuk taqlid pada aliran apapun. Di rumah, kadang-kadang aku juga keluar dari pakem NU. Orangtuaku, misalnya, bisa menerima bila aku shalat subuh tanpa membaca doa qunut. Tak ada paksaan. Kami beragama dengan rileks dan santun.

Jadi begitu, Nak. Tahun ini ada banyak janji prospektif. Jadi tak ada salahnya kita menaruh harap. Berharap kepada Allah tentu saja, bukan kepada tahun. Kemarin di rapat terakhir di tahun 2009, bos bilang pencapaian marketing perusahaan sudah melebihi target, dan ada cukup banyak kelebihan yang bisa dibagi-bagi ke karyawan sebagai bonus. Amien. Mari berharap. Toh kalau sudah rezeki tak akan kemana juga ya, Nak..

Pernah suatu kali, aku ketemu dengan seorang tukang roti di pelabuhan. Sambil ngobrol aku membeli rotinya. Tanpa sengaja, duit yang baru saja aku bayarkan lepas dari tangannya dan meluncur turun ke gorong-gorong tembus jatuh ke laut. Aku berniat menggantinya tapi dia menolak dengan keras.
“Itu artinya belum rezeki saya, Mas,” katanya santai.
Aku melongo.
“Kalau sudah sampai di sini.. baru rezeki saya,” katanya lagi sambil menunjuk lehernya.
Subhanallah. Betap hanifnya dia, seorang tukang roti yang mungkin tak pernah ikut training ESQ atau Quantum Ikhlas.

Kemarin, Nak, aku dapat satu pelajaran lagi. Saat mereview naskah untuk program acara, produserku, Bang Abaw yang baik hati dan bijak itu memintaku memasukkan satu ayat tambahan. yaa laytani kuntu turaabaa’.
Aku sudah sering membacanya, tapi kali ini entah kenapa, demi Allah, ayat itu membuatku merinding. Ini lengkapnya:
Innaa andzarnaakum ‘adzaabaan qariibaa yawma yanzhurul-mar-u maa qaddamat yadaahu wa yaquulul-kaafiru yaalaytanii kuntu turaabaa.

Dalam tafsir Al Misbah, ayat terakhir dalam surah An nabaa ini diterjemahkan:
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Ya ampun, Nak, ayat ini tentang pertanggungjawaban yang akan ditimpakan kepada kita kelak. Semua harta dan perbuatan akan dihisab sedemikian cermat, hingga orang-orang yang lalai di dunia, saking putus asanya sampai berandai-andai jika dia bukan manusia. “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Begitulah, Nak. Semoga tahun ini lebih barokah. Aku titip minta didoakan ya. Kamu yang belum punya dosa mungkin lebih di-ijabah doanya oleh Allah dibanding doa kami ini yang penuh karat. Semoga dimudahkan semua urusan kami ya, Nak. Dikaruniakan kesehatan kepada kami semua. Dilancarkan rezeki kami.

Ya Allah, kami tahu diri. Setahun kemarin sudah penuh dengan karunia-Mu. Kali ini kami tak minta banyak. Aku hanya minta kesehatan dan rezeki yang yang halal yang bisa kami pertanggungjawabkan, yang tak akan membuat kami kelak berharap lebih baik jadi tanah saja.
Ya Allah, perkenanlah kami untuk memanjatkan doa yang sedikit teknis kepadamu.
Berilah kesempatan kepada tanganku ini ya Allah, tanganku yang sudah mulai sering kesemutan ini. Aku ingin membuatkan River sebuah rumah pohon, di halaman depan rumah kami, lengkap dengan taman bacaan untuk anak-anak tetangga. Teman-temannya River kelak.

(Photograph courtesy of Derek Saunderson & Gordon Brown)



Tertawa Seperti Pocoyo

Ditulis Desember 25, 2009 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

(Jumat, 25 Desember 2009)

Alkisah, ada suatu hari saat kami sekeluarga sedang menikmati makan malam. Aku masih kecil dan ganteng. Kira-kira 12 tahun umurku saat itu. Duduk melingkari meja ada Bapak, Ibu, dan kami lima bersaudara. Ari masih kecil, masih disuapi Ibu. Bibi sedang di dapur.

Tiba-tiba Paman datang, bukan dari desa, karena paman memang tinggal bersama kami. Pamanku ini jagoan. Di kampung kami lawannya berbilang jari tangan. Dia disegani, pokoknya. Menyebut namanya saja sudah cukup membuatku aman melenggang ke mana saja. paman ini adik ibuku. Umurnya saat itu sekitar 30 tahunan. Masih muda dan berbahaya.

Paman mengambil kursi. Bapak dan Ibu sudah selesai makan. Sambil menyendok nasi, paman berbicara ke semua yang hadir di meja makan.
“Tadi ada mayat mengambang di temukan di sungai, matanya hilang, dicongkel..”
Di kota kami yang kecil, peristiwa pembunuhan semacam itu sangat jarang terjadi. Pasti ada sesuatu sebab yang sangat serus hingga ada orang yang harus kehilangan nyawa seperti itu.
“Masih belum dikenali,” kata Paman lagi. Seolah tak terpengaruh oleh kabar itu, paman menikmati makan malamnya dengan lahap. Aku juga mencoba terlihat tak terganggu. Begitulah kira-kira cara menjadi laki-laki. Harus terlihat tegar dan tak terusik.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ini pintu belakang yang biasanya hanya dilewati oleh kerabat atau tetangga yang sudah akrab. Kadang-kadang sahabat-sahabat paman yang menurutku lebih mirip pengikutnya, juga sering langsung melewati pintu belakang ini jika ingin bertandang.

Sesosok wajah muncul, terlihat gelisah dan mengandung kabar buruk.
“Bang…” dia memanggil pamanku dari luar. Paman menghentikan makannya.
“Ibet, Bang… mayat yang ditemukan itu Ibet…”

Dan Paman benar-benar menghentikan makannya. Sisa nasinya dibiarkan saja. Tergesa-gesa Paman lalu mencuci tangan, pamit dan melesat pergi.
Banyak yang bilang Ibet adalah preman yang banyak musuh. Tapi bagi pamanku, Ibet tetaplah sahabatnya.

Itulah satu dari dua kasus kriminal paling menghebohkan yang pernah terjadi di kota kecil kami.

Kasus lainnya terjadi ketika aku masih sangat kecil dan belum bisa mengingat banyak. Yang sempat aku ingat hanyalah orang-orang ribut mencari seseorang bernama Kaseng yang dituduh membunuh bupati. Kaseng konon adalah tukang kebun yang bekerja di rumah bupati. Dia menghilang bersamaan Pak Bupati dan sejumlah keluarganya ditemukan tewas bersimbah darah.

Kaseng menyimpan dendam. Cerita itu saya peroleh dari seorang lelaki tua yang menjadi partnerku bermain kartu domino di kantor kelurahan, belasan tahun kemudian. Lelaki itu baru saja menyelesaikan masa tahanannya yang panjang. Bersama Kaseng, dia ikut didakwa terlibat pembunuhan sang bupati.
“Saya cuma membantu memegang sajadahnya,” katanya. Entah sajadah seperti apa yang bisa memberikan hasil begitu rupa.
Dari seorang kawan partner bermain domino yang lainnya, saya dapat penjelasan. Sajadah yang dipegangnya itu digunakan untuk menutup kepala sang bupati sebelum lehernya digorok oleh pelaku utama. Begitulah kabarnya.

—-

River, suatu saat kamu pasti akan mendengar yang seperti itu. Duniamu kelak adalah dunia yang penuh bahaya. Di pekerjaanku, aku pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Setiap hari memburu TKP, mengejar pelaku kejahatan, korban, atau sekadar bertandang ke kantor polsek dan menyapa para reserse. Mereka senang dipanggil ‘Ndan’, singkatan dari ‘Komandan’, tak peduli apapun pangkatnnya. Itulah pekerjaanku dulu -dan mungkin saja nanti. Membawa ketakutan dan kabar buruk ke ruang tengah rumah orang, melalui apa yang disebut televisi.

Aku pernah berpikir untuk menjauhkan televisi dari ruang tengah rumah kita kelak. Televisi sumber ketakutan. Jika tak membuat kita ikut berdosa dengan ghibah atau gosip, dia membuat hidup kita seolah-olah tak pernah aman. Kecuali di pagi hari, ketika ibumu asyik menonton Pocoyo.

Pocoyo, Pato, Elly, dan Loula

Itu mungkin doa. Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

Di Jalan Pulang dari Resepsi Pernikahan Sang Mursyid

Ditulis Desember 25, 2009 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

(Minggu, 13 Desember 2009)
–kado pernikahan untuk Kang Ule, sekaligus jawaban untuk seorang kawan—

Mungkin, inilah cara paling hemat untuk memberi kado.
Bandung gerimis malam ini. Kami baru saja pulang dari menghadiri sebuah acara pernikahan di daerah Hegarmanah. Yang menikah adalah orang yang kami hormati. Mursyid kami.
Seperti biasa di malam minggu, Bandung disesaki orang-orang luar. Jalanan dipenuhi mobil plat B, D, atau N. Orang-orang bersesakan di gedung-gedung yang disulap menjadi kafe atau resto atau FO. Sementara orang Bandung sendiri mungkin lebih memilih berdiam di rumah, tidak kemana-mana.
Hanya sesekali tampak orang Bandung bergerombol, mengerumuni TV yang dipasang di pos ronda atau gerobak kaki lima. Persib sedang bertanding bola melawan Sriwijaya FC. Istriku orang Bandung berdarah Palembang, sedang aku pendukung setia PSM. Jadi malam ini kami abstain, tidak mendukung siapa-siapa. Biarlah keriuhan itu milik mereka, milik bapak sopir taksi yang kami tumpangi.

Sesekali mengecek Facebook, kami tahu Jakarta sedang disiksa oleh hujan seharian, dan tentu saja macet yang mengikutinya. Status FB teman-teman penuh serapah pada langit dan jalanan. Kenapa hujan kenapa macet! Ingin rasanya kujawab, kenapa tinggal di Jakarta.
Beruntunglah kami, yang meski telah ber-KTP Jakarta, sesekali masih bisa sesekali melarikan diri. Pulang ke rumah isriku di Bandung, atau pulang ke kampungku di Makassar dan Bone.

Seperti kali ini. Kami di Bandung, mencoba menjaga jarak dengan Jakarta.
Beberapa hari lalu, aku menuliskan kekecewaanku di status dan note FB, soal aksi demo mahasiswa yang diwarnai kerusuhan di Makassar. Tak perlu waktu lama untuk mendapat tanggapan beragam.
Sahabatku seorang penyair di Makassar, menulis tanggapannya, bahwa dia sesungguhnya ingin mendengar orang Makassar memberi andil. Secara tersirat —maafkan saya kalau salah, An– dia tidak suka pada orang Makassar yang tinggal di luar Makassar yang hanya ingin melihat Makassar aman –dari jauh, tapi ketika ketika ada apa-apa hanya bisa mengutuk, memaki atau apalah semacamnya tanpa memberi solusi.. (saya kehilangan redaksi lengkapnya, karena ketika saya cek, komen itu telah terhapus). Membaca tanggapannya itu, jujur, saya mesti bilang, saya merasa tersindir.

Seorang aktivis mahasiswa Makassar juga baru saja mengirimkan pesan kepadaku. Dia menyampaikan kekecewaannya soal pernyataanku tentang mahasiswa Makassar yang mappakasiri-siri (bikin malu).
Saya sudah mohon izin padanya untuk memuat sebagian klairifikasinya, dengan perjanjian membuatnya anonim. Untuk memudahkan memahaminya, saya mengoreksi kesalahan ketik dan menerjemahkan sejumlah kalimat atau idiom lokal.

Berikut kutipan pesannya (huruf tegak dari saya)
“…saya mau bilang bahwa peristiwa di Makassar sebagian besar adalah konstruksi media. Kondisinya sangat berbeda. Tanggal 9 Desember itu ada berbagai front/aliansi yang ada di Makassar, dan tidak semua mengusung isu korupsi. Kalau Kak Ochan mengganggap yg pakasiri-siri (bikin malu) adalah meraka yg melakukan aksi di kantor gubernur, saya tidak mau menanggapi karena korlap (kordinator lapangan) aksi di kantor gubernur itu (*******) yang diwawancarai (TV***) di dalam dunia pergerakan di Makassar sudah di-X0 (kali nol- dianggap tidak ada) karena sudah teridentifikasi sebagai banpol (bantuan polisi,=cepu=mata-mata polisi), bahkan sebagian teman2 mencurigai dia adalah sedikit dari mahasiswa yang telah dilatih oleh BIN.

Tapi kalo Kak Ochan mengganggap bahwa mereka yang melakukan aksi penghancuran di KFC (yang sempat diberitakan media), meski bukan itu saja karena teman2 juga melakukan penghancuran terhadap beberapa properti negara seperti kantor polisi, mobil polisi, kantor demokrat, dll…

Kalau kata media tidak ada hubungannya antara korupsi dgn KFC, pertama saya cuma mau bilang bahwa teman2 yg melakukan aksi hari itu TIDAK membawa ISU ANTI-KORUPSI , tapi membawa ISU ANTI KAPITALISME DAN MILITERISME.

Jika media menganggap bahwa aksi KFC itu ditunggangi, maka teman-teman memang telah ditunggangi oleh keinginan untuk bebas dari sistem banal kapitalisme yg telah menghujam jauh ke sendi kehidupan kami. Kami memilih pola gerakan ini sebagai sebuah PILIHAN POLITIK.”


Membaca pesan itu membuatku menghela nafas panjang. Aku kasih lihat isi pesan itu ke istriku. Kami berpandangan sesaat. Tiba-tiba saya merasa betapa jauhnya jarakku dengan mereka kini. Sesekali, setiap pulang ke Makassar, aku memang sering menyempatkan diri bertemu mereka. Ngobrol dan berdiskusi. Pertemuan-pertemuan semacam itu juga sesungguhnya berfaedah untukku. Aku bisa mencuri semangat dari mereka, sekaligus mengukur sudah seberapa jauh aku “hilang” dari radar mereka.

Dan kini, mereka mengirimkan surat bernada kecewa kepadaku, dan sahabatku yang penyair itu juga mungkin telah menggolongkanku ke dalam golongan orang-orang Makassar yang tak lagi peduli pada Makassar –yang hanya bisa mengutuk dari jauh.

Baiklah. Lalu istriku bertanya kepadaku: mau dijawab apa?
Ini jawabanku.
Semoga kalian percaya, saya selalu mendukung apapun yang kalian perjuangan, tapi saya juga tidak kuat lihat kalian memecahkan piring nasi orang lain.

Ya. Semoga mereka percaya. Sampai batas yang mereka bisa. Sebagaimana mursyid kami, sang guru yang tadi malam kami hadiri pernikahannya suatu hari pernah bilang, “Saya akan selalu percaya pada seseorang, sampai pada batas ketika dia membuktikan sebaliknya.”

Baiklah, Kang. Selamat berbahagia dan selamat menikmati. 🙂

Seekor Kucing di Depan Restoran A&W part. 2

Ditulis Desember 25, 2009 oleh halamanrawa
Kategori: Uncategorized

(Kamis, 10 Desember 2009)
–cerita untuk mahasiswa Makassar–

Kalau sedang ada duit lebih, aku dan istriku suka nongkrong di restoran AW. Menikmati sedikit kemewahan makan memakan. Meski namanya junkfood, tapi bagi kami itu sudah cukup mewah. Sudah cukup bikin senang.
Pernah suatu kali aku cerita tentang seekor kucing di depan restoran itu. Tapi tidak lengkap. Lengkapnya begini.
Saat itu kami –aku dan istriku maksudnya, bukan dengan kucing itu—makan di dekat pintu masuk. Sejak kami mulai duduk, seekor kucing juga ikut duduk, diam memandangi kami dari luar pintu kaca.
Aku membelakanginya waktu itu. Desan, istriku, yang duduk menghadap ke luar ke arah jalan, melihat ada yang sedikit aneh dengan kucing itu. Karena terhalang pintu kaca, kami tak jelas mendengar apa dia mengeong-ngeong. Tapi yang kami lihat, kucing itu hanya duduk tenang, benar-benar tenang. Dia mungkin semacam kucing yang pernah ikut kursus John Robert Power, karena sekalipun tampak lapar, dia tak menunjukkan perilaku agresif meminta makanan. Dia paham table manner rupanya, tidak seperti kucing-kucing liar lain yang biasa berkeliaran di sekitar warteg. Setiap ada orang yang mau masuk melewati pintu, kucing itu menyingkir dan lalu kembali ke posisi semula, duduk seperti celengan. Dia tak berusaha merangsek masuk. Tapi kalau saat itu kamu berada di situ, subhanallah, kamu pasti akan sependapat dengan kami bahwa tampang kucing itu memang sangat memelas. Matanya itu!

Istriku yang merasa kasihan, tiba-tiba memintaku untuk membagi ayam goreng dengan kucing itu. Ayam gorengku sendiri. Aku sempat berpikir mengapa istriku meminta padaku, kenapa dia tidak membagi ayam gorengnya sendiri? Tidakkah dia melihatku sangat menyayangi ayam goreng itu?
Tapi begitulah. ’Selama bukan hal prinsipil, ikutilah kemauan istrimu.’ Demikian nasehat perkawinan yang sering aku dengar. Maka aku pun menuruti perintah istriku. Toh memberi atau tidak memberi makan kepada kucing lapar tidak termasuk hal yang prinsipil dalam daftarku.

Hanya beberapa detik setelah aku meletakkan sepotong kecil ayam goreng di dekat kucing itu, tiba-tiba seekor kucing lain yang lebih kecil mendekat. Aku yang sudah kembali duduk di kursiku, melihat dari balik kaca, kucing yang lebih besar itu tidak jadi memakan ayam goreng pemberianku dan mempersilahkan kucing yang lebih kecil itu memakannya. Sungguh, kami dibuat terperangah. Kucing itu benar-benar baik hati.

Karena aku juga baik hati dan tidak pelit, aku berniat memberinya sepotong kecil lagi. Tapi sebelum aku sempat membuka pintu, kucing besar itu sudah pergi meninggalkan sang kucing kecil menikmati makan malamnya. Meninggalkan kami. Oh, semoga dia diterima di sisi-Nya. Lagi-lagi aku dibuat tesentak. Aku tidak mau tahu ada relasi apa di antara mereka berdua. Mungkin kucing kecil itu anaknya, anak tetangganya, atau bukan siapa-siapanya. Entahlah.

Dan ketika kucing itu benar-benar hilang dari pandangan kami, aku mendengar istriku menyampaikan satu anjuran lagi, ”Bungkusin tulang-tulangnya, Kak. Siapa tau nanti pas pulang kita ketemu di jalan.”

Ahay!! Itulah istriku. Istriku yang sangat aku sayangi. Bagaimana mungkin aku bisa meragukan cinta dan kasih sayangnya kepadaku, jika kepada kucing yang tak dia kenal sekalipun dia bisa begitu peduli..
Maka jadilah kami membawa pulang bungkusan tisu berisi tulang dan remah daging ayam sisa makanan kami. Rumah kami dan restoran AW tak terlalu jauh, jadi kami bisa pulang berjalan kaki. Jaraknya kira-kira 600 meter.
Tapi hingga kami tiba di depan rumah, kucing lapar yang baik itu tak juga terlihat. Dengan perasaan campur aduk, kami akhirnya membuang bungkusan tulang itu ke tempat sampah di depan rumah. Entah apa namanya perasaan yang muncul saat itu. Bukannya mau lebay, tapi benar-benar seperti antara sedih dan kecewa. Sedih dan kecewa karena Tuhan tidak mengizinkan kami untuk berbuat baik, yang mungkin bisa sedikit mengurangi tumpukan dosa kami.

Kejadian itu sekitar 3 atau 4 bulan lalu. Tapi soal kucing baik hati di depan restoran AW itu tiba-tiba melintas lagi di kepalaku ketika aku menonton berita pagi ini. Mahasiswa yang berunjuk rasa di Makassar melempari sebuah restoran cepat saji lain, KFC.

Dari sejak kemarin sore, kemarahan mulai buncah di kepalaku. Seorang teman produser yang mengedit berita untuk berita sore bertemu denganku di selasar dekat toilet. ”Kenapa lagi itu anak makassar, Chan? KFC dilempari…”
Teman itu sebenarnya hanya bertanya ”kenapa”, tapi aku yakin sesungguhnya dia ingin bilang ”kenapa sebodoh itu” atau ”kenapa setolol itu”. Apa hubungannya KFC dengan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia?
Aku juga tak tahu ada apa sebenarnya. Ada yang bilang karena gubernur Sulsel yang tak berada di tempat, menolak menandatangani petisi mereka. Ada juga yang bilang, kerusuhan itu dipicu oleh perilaku oknum anggota dewan. Whatever lah!
Bahwa mereka memang mudah marah dan tersulut, iya aku tahu. Aku pernah berada dan menjadi seperti mereka. Yang tak aku mengerti kenapa mereka bisa setolol itu? Wahai, inilah dia mahasiswa makassar yang pabbambangeng na tolo.
Tidakkah mereka sadar, suatu kali mereka akan berhadapan dengan personalia sebuah kantor yang menolak lamaran pekerjaan mereka hanya karena mereka dulunya mahasiswa makassar yang mudah marah!
Sekarang seluruh Indonesia tak mau lagi mengerti kata oknum. Satu yang berbuat semua terimbas akibatnya. Di berita semua media, tak ada lagi istilah ”oknum mahasiswa makassar”. Yang ada mahasiswa makassar rusuh! Puas kalian?

Pagi ini, aku masih terus mencoba menghubungi seorang teman di Makassar. Tapi hingga saat ini aku tulis, nomernya yang aku hubungi itu belum juga tersambung. Dia bukan mahasiswa. Dia tak pernah jadi mahasiswa.
Ayahnya yang guru SD meninggal sejak dia masih kecil, ditabrak lari oleh orang tak dikenal. Ibunya akhirnya harus bekerja serabutan untuk membiayai hidupnya, bekerja apa saja yang halal, berjualan makanan, kain, dan lain-lain.
Temanku itu, sebagai anak tertua, akhirnya mengambil alih tanggung jawab keluarganya. Dia harus membantu ibunya membiayai sekolah dua orang adiknya. Selesai SMU, dia memutuskan untuk bekerja. Itulah sebabnya dia tak pernah jadi mahasiswa.
Terakhir aku bertemu dengannya, dia sedang mengelap mejaku. Aku sedang makan di KFC waktu itu.

Dan pagi ini, aku masih terus berusaha menghubunginya. Setahuku, dia ada di KFC yang kemarin dilempari mahasiswa di Makassar itu. Tapi dia bukan mahasiswa yang merasa pintar dan bisa melempari apa saja. Dia hanya pelayan. Pekerjaannya mengelap dan membersihkan meja pelanggan KFC. Jika ada remah-remah ayam sisa yang tak dimakan orang, dia suka membawanya pulang dan memberikannya pada kucing-kucing di jalan.