Menjadi Ayah

Saat itu adalah sore yang hujan. Bandung basah. Mengguyur orang-orang yang pulang kerja. Tukang sapu RS. AL Islam mondar-mandir mengepel lantai lobi yang tak henti berlumpur oleh kaki-kaki orang yang datang. Datang membawa sakit, atau kabar gembira.

Di ruang bayi, Nak, suster Irma membantuku menghitung jari-jarimu. Lengkap. Kamu menangis, telanjang dan kedinginan. Kamis, 25 Februari 2010. 16.35 WIB, kamu akhirnya lahir setelah serangkaian penantian panjang dari bukaan satu yang tidak nambah-nambah selama hampir satu minggu. Kamu lahir menjelang peringatan maulid nabi. Semoga kelak perangaimu menyerupai atau setidaknya mendekati beliau, junjungan kita Muhammad SAW.

Ah, begini toh rasanya menjadi ayah. Roh yang diciptakan bersamaan itu akhirnya hadir sebagai ayah dan anak. Akhirnya kamu menyusulku, meramaikan dunia. Apa lagi yang bisa aku bilang selain takjub? Malu rasanya, Nak, kalau mengingat aku pernah mencoba berpikir agnostik.

Dan setelah 4 hari tertahan di rumah sakit karena kadar bilirubinmu agak tinggi, kamu akhirnya boleh kami bawa pulang ke rumah, dengan syarat kamu harus rajin dijemur di bawah matahari jam 8 pagi. Bilirubin, kata dokter, bikin bayi jadi berwarna kuning.
Di rumah, Nak, ibumu akhirnya bisa memakaikan baju yang sudah lama dia siapkan. Baju mungil yang nyaris hanya sebesar dua telapak tanganku. Lucu. Betapa bahagianya kami. Aku juga bisa iseng-iseng menata rambutmu yang agak lebat untuk ukuran bayi baru lahir.

Lahirmu diramaikan oleh degelan Century dan demo mahasiswa yang rusuh. Di tempatku dulu bersekolah, Nak, mahasiswa-mahasiswa sekarang banyak yang sok jago. Sedikit-sedkit menutup jalan, seolah-olah itu jalan punya mereka. Sedikit-sedikit batu-batu beterbangan. Jika kelak kamu punya rezeki untuk bisa kuliah juga, jangan seperti mereka ya, Nak. Rasulullah mengajarkan kita untuk menyingkirkan duri dari jalanan, bukan menutup dan menghalangi jalan orang lain. Menyatakan pendapat tidak harus seperti itu. Dzalim itu namanya.

Hidup itu harus bermanfaat. Kalau engkau besar nanti, carilah orang-orang yang sering aku ceritakan padamu di sini. Masih ada banyak orang baik di dunia ini, Nak. Orang-orang seperti dr. Joserizal Jurnalis, Butet Manurung, atau Suster Andi Rabiah. Mereka semua adalah orang-orang yang rengkuhan tangannya melebihi lebar bahunya. Dan hatinya melebihi luas lapangan bola yang kau kalikan berapapun.
Tirulah mereka, Nak, dan jangan sekali-sekali kau tiru mereka yang hanya bisa melempar batu.

Jangan berpikir aku mendiktemu. Tidak sama sekali, Nak. Aku sadar zamanmu sudah pasti beda. Mungkin kau akan lebih bahagia atau sebaliknya, yang pasti tugasku untuk mengarahkan jalanmu. Kalau kamu suka, kamu boleh turun ke jalan. Silahkan. Selama tidak kau pecahkan piring nasi orang lain. Rasanya tak adil melarangmu, karena aku juga sudah pernah mengalaminya. Aku pernah kena tendang tentara, dipentung polisi, ditembaki gas air mata. Rasanya tidak enak dan hanya akan membuatmu membenci mereka. Tapi suatu saat kamu juga akan bertemu bagian dari mereka yang baik hati. Di Aceh, aku ditolong oleh tentara, dikasih makan oleh tentara saat aku kehabisan bekal. Temanku yang polisi juga banyak yang baik hati. Dulu ada tetangga kita di kampung, Pak Mariyanto namanya. Waktu aku kecil, beliau suka mengantar kami menyewa video dengan motor Enduro-nya. Akhirnya kau akan mengerti kebaikan dan kedzaliman itu bukan monopoli satu golongan. Seperti halnya mahasiswa juga banyak yang brengsek.

Sini, Nak, aku ceritakan sesuatu padamu. Ini agak vulgar, tapi tak apa-apalah. Tutup kupingmu untuk bagian yang tak sesuai umurmu. Begini ceritanya.

Suatu hari, aku ditugaskan bikin feature personalisasi single mother yang tak menikah sama sekali. Setelah riset dan bertanya kemana-mana, ketemulah satu narasumber yang bersedia bicara, dengan syarat yang “aneh”.
“Saya nggak mau wajah saya digelapin, saya bukan penjahat, saya tak bersalah,” begitu katanya di telpon saat aku membuat janji wawancara dengannya.
Tentu saja aku sepakat. Untuk kasus kayak begini, yang ada biasanya narasumber minta identitasnya dirahasiakan. Yang ini lain.
Dan akhirnya kami menemui dia di rumah kontrakannya di daerah Kemang. Seorang perempuan muda, usainya mungkin dua atau tiga tahun di bawahku. Waktu kami tiba, putrinya masih dalam perjalanan pulang dari rumah kakeknya.

Akhir tahun 2001, dalam keadaan hamil dua bulan dan putus asa karena merasa tidak mungkin menikah, dia dan pacarnya mendatangi klinik aborsi di Paseban.
“Dokternya bilang biayanya sejuta dua ratus, kami cuma bawa sejuta hasil minjem kemana-mana. Kita injek-injekan kaki di bawah meja. Duitnya gak cukup aku bilang. Tapi akhirnya dokternya mau sejuta.”
Perempuan itu mengenang dengan memori yang hampir fotografis.
“Kita nunggu lama, waktu itu kan antriannya panjang. Tiba-tiba dia bilang, ‘jangan [digugurin], ini anak gue’. Terus dia bilang akan ngusahain nikah, bagaimanapun caranya. Ya sudah, kita pulang, duitnya kita ambil lagi setelah dipotong.”

Tapi pernikahan yang dia impikan itu tak pernah terjadi. Laki-laki yang menghamilinya itu melarikan diri dua hari sebelum hari pernikahan yang disepakati.
“Orang rumahnya bilang dia hilang. Aku udah cari dia keliling Jakarta. Dari panas ke hujan, pagi ke malam sampe ini baju kering sendiri. Aku datangin teman-temannya. Gak ada yang tau dia kemana, mungkin diumpetin sama mereka. Mereka bilang perbuatan dia itu bukan tanggung jawab organisasi. Masa mereka ngomong gini, ‘dia nidurin lo itu gak ada dalam keputusan rapat!’. Gila apa!!” katanya setengah meradang.

Sepeninggal laki-laki tak bertanggung jawab itu, beberapa kali muncul godaan untuk kembali ke klinik di Paseban. Tapi kesedihan sudah cukup membuatnya kuat. Juga kemarahan.
“Ada yang nyaranin lagi, tapi aku bilang, aku memang pezinah, tapi bukan pembunuh…”
Dan begitulah, ketika aku menemuinya, putri kecilnya itu sudah berumur 2 setengah tahun, lagi lucu-lucunya, dan belum sekalipun bertemu bapaknya.

Bergeser sedikit. Beberapa tahun sebelumnya, semasa aku masih mahasiswa, puluhan aktivis mahasiswa se-Indonesia berkumpul di kotaku. Aku lupa bagaimana prosesnya, yang pasti kemudian terbentuk sebuah jaringan pergerakan mahasiswa nasional. Karena merasa setujuan, kami semua kenal baik satu sama lain. Kontak-kontak tetap terjaga setiap ada isu krusial yang harus dibahas atau dilawan. Itulah saat zaman romantisme perlawanan masih menggelegak kencang.

Suatu waktu jaringan lokal yang kami bentuk di kampusku hampir ambruk karena perpecahan intern. Jaringan nasional terancam kehilangan satu kakinya. Lalu datanglah seorang kawan, jauh-jauh dari Jakarta. Aku tanya buat apa dia datang sejauh itu hanya untuk membicarakan kelangsungan organisasi yang tak jelas tujuannya. Waktu itu kami mungkin mulai putus asa, regenerasi tidak jalan, dan sebagian teman yang oportunis mulai berlompatan ke partai-partai. Aku masih ingat sekali apa katanya waktu itu.
“Ini bukan persoalan tujuan. Kawan-kawan di Jakarta tahu kalian lagi susah di sini, makanya kami datang. Kalau kalian tanya buat apa, jawabannya sederhana: karena nggak ada sejarahnya kita meninggalkan kawan!”
Begitu katanya, tapi toh kami tetap bubar.
Dan itulah terakhir kali aku bertemu dengan anak muda bertubuh tinggi kurus dan berambut gondrong itu.

Aku tak tahu seperti apa yang dianggapnya “kawan yang tak boleh ditinggalkan” itu. Tapi -tanpa disangka-sangka– aku akhirnya bertemu dengan orang yang dia tinggalkan; bukan kawannya, tapi perempuan yang dulu dia hamili dan kini telah memiliki putri yang di akte kelahirannya tak ada nama bapak.

Kembali ke cerita perempuan yang aku wawancarai itu. Di akhir wawancara, perempuan itu bertanya, “Mas, aku boleh nunjukin ini ke kamera nggak?” Dia mengangkat jari tengahnya. “Siapa tau temanmu itu nonton…”
Aku tidak mengiyakan, tidak juga menggeleng. Aku yakin dia tahu itu tidak akan diperbolehkan di tivi manapun.
Menanggapinya aku hanya tersenyum, getir. Rasanya sempit sekali bumi tempatku berpijak ini.

===
Jadi begitu ceritanya, River. Jika tak jelas ujung pangkalnya, maafkan aku, itu tidak aku sengaja, Nak. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Aku hanya berharap kau mengerti maksudku. Sebagai lelaki.
Pantaslah, ketika memberi ucapan selamat atas kelahiranmu, Gola Gong menulis di wall FB-ku.
“Kamu sudah mati sebagai lelaki, Chan. kamu sekarang ayah. Banyak laki-laki yang berubah menjadi pengecut setelah menjadi ayah.”
Iya, Nak. semoga aku tidak pernah menjadi lelaki pengecut. Jika kamu bersedia, peganglah janji kami ini, kami akan membuatmu merasa beruntung telah lahir melalui kami.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

9 Komentar pada “Menjadi Ayah”

  1. imgar Says:

    selamat menjadi ayah..
    🙂


  2. great post! great dad! great River!

    *sambil merinding dan haru*

  3. henee Says:

    selamat ya….semoga apa yg di cita2kan bisa terwujud…selamat jadi ayah ..

  4. endang Says:

    selamat jadi ayah ka Ochan…………

  5. yayie Says:

    Haduw daku telat.. Baru mampir lg soalnya. Selamat ya.. Smg bs menjadi ayah yg baik bg sang buah hati.. Amiin..

    Dear River… Selamat datang ya..

  6. Faisal Says:

    gilee… gw sampe nangis bacanya… gw jg bakal calon ayah… thanks ya udah share pengalaman lo.. takjub gw

  7. Miranda Says:

    terharu membacanya…semoga blog ini menjadi sejarah buat anakmu kelak..juga bukumu
    “Mencari Tepi Langit”

  8. Nurina Malinda Says:

    great post,mas…aku ampek hampir nangis bacanya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: