Arsip untuk Februari 2010

Tadinya Mau Nulis Tentang Ikyu-San Tapi Malah Ngelantur Kemana-mana

Februari 17, 2010
River, inilah yang terjadi malam ini.
Bosku yang baru saja menerima petuah dari bosnya dalam rapat mingguan, mendatangiku yang sedang sibuk main fesbuk. Karena dia bos, tentu saja saya harus memberi atensi padanya dan menelantarkan fesbuk. Beliau duduk sebentar, mengusap-usap kepalanya yang ditumbuhi rambut tipis nyaris semua putih. Aku ingat ikyu-san.
“Kayaknya gue mesti minta turun gaji nih,” katanya tiba-tiba. Menurutku dia bercanda sehingga aku menertawainya. Atau mungkin dia serius tapi sedang menerapkan ilmu logika terbalik.
“Kegedean kayaknya gaji gue buat kerjaan cuma gini doang,” katanya lagi.
Aku menangkap nada ironi. Sesuatu mungkin telah terjadi di perbincangan sebelumnya.
“Ada gitu, Bang, yang kayak gitu?” tanyaku.
“Ada,” katanya.

Lalu dia bercerita tentang Kalifah Umar bin Abdul Aziz.
Sebagai khalifah, Umar menerima gaji dari negara yang dananya diambil dari Baitul Maal, semacam kas negara.
Alkisah pada suatu hari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz mendapati istrinya menyediakan makanan yang beda dari biasanya. Di deretan hidangan, ada sepotong roti yang masih hangat dan harum.
Umar merasa heran dan bertanya kepada istrinya, “Dari mana roti ini?”
Istrinya menjawab bahwa itu buatannya sendiri dan sengaja dia buat untuk Umar.
“Setiap hari engkau sibuk dengan urusan negara dan umat, sesekali apa salahnya menyenangkanmu, wahai Amirul Mukminin,” kata istrinya.
“Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini?” tanya Khalifah Umar.
“Hanya tiga setengah dirham. Kenapa memangnya?”
“Semua yang masuk ke perutku akan aku pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang aku makan,” jawab Khalifah.
Istrinya terdiam.
“Lalu darimana uang yang tiga setengah dirham itu kau dapatkan?” tanya Umar lagi.
“Aku menyisihkan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku, jadi dalam seminggu terkumpullah tiga setengah dirham. Itu cukup untuk membuat roti seperti ini,” kata istri Umar.
“Baiklah. Saya percaya asal usul roti ini halal dan bersih. Aku hanya berpikir bahwa itu berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat.”

Kemudian Khalifah memanggil bendahara Baitul Maal dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham.
Lalu kepada istrinya, Khalifah Umar berkata, “Aku akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut kita tenang dari perasaan bersalah karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi.”

Demikian bos-ku bercerita tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tentu dia tidak berpretensi untuk menyamakan dirinya dengan Umar, karena sesekali dia juga seperti atasan pada umumnya yang punya kekurangan dalam manajerial. Tapi aku bisa menjamin bahwa bos-ku ini seorang yang tawaddu’, rendah hati dan wara’ (berhati-hati).
Suatu hari dia pernah kehabisan pulsa dan harus menelepon istrinya di rumah. Rata-rata kami punya dua handphone, 1 nomer pribadi dan 1 lagi nomer XL yang pulsanya disediakan kantor setiap bulan. Aku lalu meminjamkan salah satu handphone-ku padanya, tapi dia menolak ketika tahu yang aku sodorkan itu handphone bernomer XL fasilitas kantor.
“Ini urusan pribadi,” katanya.
Ketika itu aku merasa cukup malu dan segera mencari pembenaran bahwa kami juga sering menggunakan handphone pribadi kami untuk pekerjaan kantor. Jadi impaslah, begitu hitung-hitunganku. Tapi bos-ku itu tetap menolak. Sungguh, betapa aku sangat beruntung bisa bekerja di bawah supervisinya.

Selain bosku itu, aku juga mengenal seseorang yang benar-benar pernah minta turun gaji. Dia seorang dokter yang bekerja di sebuah klinik swasta. Karena ada urusan pribadi, dia terpaksa tidak bisa masuk beberapa hari dalam sebulan. Pihak manajemen klinik yang selama ini puas dengan pekerjaan dokter muda itu sama sekali tak merasa keberatan dan tidak menerapkan pemotongan gaji.
Suatu hari sang dokter muda menghadap kepada direktur klinik. Sang direktur yang mengira dokter muda itu ingin meminta kenaikan gaji, dibuat terkejut karena sang dokter justru minta gajinya dikurangi.
“Bulan ini hari kerja saya berkurang. Saya tidak berhak untuk gaji sebesar bulan sebelumnya,” katanya.

Sang direktur sangat terpukau oleh si dokter muda itu, dan berandai-andai sekiranya dia masih punya anak gadis maka akan dia nikahkan dengan dokter muda tersebut.

Begitulah. Cerita ini benar adanya, River, kecuali bagian di mana sang direktur berniat menikahkan anaknya dengan si dokter. Itu karanganku saja supaya kau merasa terhibur.

Hal yang aku ceritakan padamu ini, Nak, mari kita beri nama integritas. Integritas tak bisa diwariskan, tapi bisa diajarkan atau ditularkan. Belajarlah dari siapa saja. Mungkin dari kami, bila kelak masih ada sisa yang kami punya untukmu. Kamu tahu, Nak, betapa susahnya menjaga integritas di zaman seperti sekarang.

Tapi percayalah, Nak, Allah Maha Menjaga. Selalu dikirimkan-Nya kepadamu orang-orang yang bisa kau pegang juntai jubahnya. Orang-orang yang bisa memberi tameng tangan ketika api lilinmu hampir padam. Orang-orang seperti bosku itu.

Malam ini bosku itu bertahan di kantor karena hujan dan dia tak bisa pulang. Demikian pula aku yang berpikir untuk apa memaksa pulang ke rumah karena toh kau dan ibumu ada di Bandung.
Setelah perbincangan tadi, bosku minta izin tidur duluan, di bawah meja komputer. Karena dia bosku, aku meminjamkan sleeping bag-ku. Tak apa-apa. Aku ikhlas. Dia sudah tua, kasihan. Aku belum tidur karena masih harus mengerjakan naskah sambil “korupsi” menulis catatan ini di komputer kantor. Aku sebenarnya bawa laptop tapi Wi-fi sedang lemot. Jadi termaafkanlah ini menurut versiku. 🙂

Cepatlah lahir, Nak. Dan segeralah kau temui orang-orang. Sebagian orang mungkin akan mengecewakanmu, dan sebagian lagi akan memenuhi ekspektasimu. It’s ok. Itulah hidup, kata Ned Kelly.
Mari berjuang. Dalam hidup, setidaknya ada satu orang yang akan rela mati untuk seseorang yang lain.
Dan yakinlah, Nak, kamu punya. Aku.

Dia Bukan Lagi Alay

Februari 15, 2010

River, tadi malam aku termenung di semacam balkon di lantai 2, dan tak terhalang pandanganku hingga ke pelataran lobi. Di situ sedang ada acara tapping (rekaman) program musik. Performernya The Dance Company, D’ Masiv, dan seorang artis cewek yang aku gak tahu namanya. Sebelumnya Slank sudah tampil live untuk episode yang berbeda.

Apa yang ingin kuceritakan padamu ini bukan tentang artis yang tampil atau lagu-lagu mereka. Yang ingin aku ceritakan adalah penonton-penontonnya, yang mungkin sering engkau lihat berjoget dengan gerakan yang tak terlalu seragam, dan dengan itu engkau pasti menduga itu baru saja dilatih atau dilatih tapi kurang serius. Ya, karena mereka memang bukan dancer profesional seperti Agnes punya. Mereka pada umumnya adalah remaja-remaja yang tinggal di sekitar gedung kantor, atau tinggal jauh tapi sengaja didatangkan oleh talent agen seperti Mpok Elly.
Setiap kali ada tapping atau live acara-acara musik, remaja-remaja seperti mereka berdatangan, menyemut di pelataran lobi atau dekat air mancur. Kadang-kadang mereka juga berbaur dengan mahasiswa-mahasiswa berjaket almamater yang datang untuk bertepuk tangan di acara talkshow Tukul atau semacamnya.

Mereka datang dengan dandanan yang nyaris serupa, baju ketat dan celana pensil serta aksesoris yang mencolok. Bisa jadi itu pakaian terbaiknya. Di kantor, teman-teman menyebut mereka alay. Aku tak tahu pasti apa sebenarnya alay itu. Ada yang bilang itu singkatan “anak layangan”, dipakai untuk menyebutkan segerombolan ABG-ABG yang tak jelas juntrungannya. Semakin ke sini, sebutan alay itu makin mengerucut. Alay cewek sering diidentikkan dengan dandanan yang norak, kerjanya hanya gosipin cowok ganteng, dan kalau nulis sms pake gabungan huruf dan angka yang bisa bikin pening guru Bahasa Indonesia. Sedang alay cowok sering disamakan dengan maho, cowok kebanci-bancian yang rela melakukan apa saja asal disorot kamera. Mereka benar-benar ada. Muncul dari banyak tempat, seperti dari gang-gang sempit di belakang tembok pagar kantor.

Ada yang datang karena memang nge-fans dengan grup band yang tampil, tapi pada umumnya mereka datang karena dibayar. Mereka memang dbayar, biasanya 30 hingga 50 ribu satu kali tapping. Itulah honor mereka untuk berjoget tanpa malu-malu.

Dan yang aku lihat tadi malam itu cukup memukau. Sebaris alay berbaris mepet ke panggung. 5 orang. 4 cowok dan 1 cewek yang –maafkan– agak susah membedakannya dari jauh. Gerakannya seragam dan berulang-ulang. Dua kali tangan diputar ke atas, dua kali ke kiri bawah, dan dua kali ke kanan bawah. Kadang dikasih improvisasi seperti orang menarik tali atau menggoyangkan saputangan imajinatif. Itu mereka lakukan sepanjang lagu. Bahkan untuk lagu melow seperti milik D’Masiv, mereka tetap menerapkan gerakan yang sama.
“Merusak lagu!” gerutu seorang teman yang menemaniku di balkon itu.
Teman itu tidak sendiri. Aku tahu ada banyak orang yang tak simpatik pada mereka. Seorang temanku yang necis dan parlente, jelas-jelas bilang jijik pada mereka.

Sejauh ini aku tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap mereka. Aku menulis ini karena kawan-kawan di program tempatku mencari nafkah duniawi berencana untuk mengangkat fenomena alay ini. Secara pribadi aku tidak bersepakat. Hal terakhir yang akan aku lakukan adalah menghakimi orang lain, dan aku tak membayangkan diriku akan sampai pada tahap itu.

Tadi pagi, pulang kantor setelah semalaman menjaga editan, di pelataran lobi aku berpapasan lagi dengan kumpulan penonton alay-alay itu. Sebagian sepertinya sisa penonton-penonton acara tadi malam. Mereka mungkin menunggu taping program Derings, acara musik yang host-nya Sandra Dewi yang sentosa. Di dekat taman kurma yang sering menjadi tempat mereka nongkrong, aku menangkap sekilasan percakapan. Seorang alay cewek tampak memegang-megang perut seorang temannya.
“Hei, masih dateng aja, kasian bayinya tuh!” katanya. Wanita yang dipegang-pegang perutnya itu rupanya sedang hamil. Aku ingat istriku tiba-tiba. Ibumu yang kian tak sabar menanti kau lahir, Nak. Di Palasari, Bandung, sana.

Inikah alay itu? Inikah mereka yang oleh kami sering distereotipekan hanya mencari kesempatan untuk populer dengan menjadi groupies kacangan? Mungkin kami salah. Atau aku yang salah. Di kilatan mata perempuan yang baru dielus perutnya itu, aku melihat semacam usaha untuk kompromi dengan penderitaan. Dengan janin di dalam perutnya itu, apakah yang membawanya ke sini? Suara vokalis yang mewek2 kah? Bisa jadi bukan. Uang 35 ribu rupiah, mungkin.

Dan tadi siang, saat berangkat kembali ke kantor untuk menunaikan tugas lanjutan. Di gang sebelum kantor, aku berjalan di belakang seorang perempuan yang sering aku lihat ada di antara kerumunan penonton-penonton alay itu. Tapi kali ini dia tidak sedang menjadi alay. Pakaiannya bukan yang sering dia pakai saat menonton acara-acara musik. Aku lihat ada sedikit lubang di dekat kerah bajunya. Mungkin baju lungsuran dari entah siapa. Baju yang dipakainya itu adalah seragam kerja cleaning service di kantor di gedung baru sebelah kantorku.

Dia memakainya dengan bangga. Dia bukan lagi alay, sehingga kami bisa berhenti memandangnya dengan tatapan seolah-olah tengkorak kepala kami lebih tinggi dari dia.

Tentang Seorang Lelaki

Februari 13, 2010

Saturday, February 6, 2010

Kelak, ingatkan aku untuk selalu mengulang menceritakan ini padamu. Karena aku tak akan pernah bosan, dan –aku yakin– kamu juga tak akan bosan. River, ini kisah tentang seorang lelaki pemberani, yang aku harap akan kamu tiru semangatnya seperti halnya aku berusaha melakukannya. Kisah tentangnya aku mulai dari lembaran sebuah buku, di mana dia menulis:

“seorang lelaki harus berani mengusir ketakutan
ketakutan untuk berbuat salah
ketakutan untuk berbicara salah
dan seorang perempuan harus berani memiliki jiwa lelaki
berani mendampingi gelisah lelaki
berani untuk tidak takut kehilangan lelaki”

Suatu kali dia pernah mengayuh sepedanya melintasi sejumlah negara di Asia. Setiap kali bertemu orang yang heran melihatnya mengendarai sepeda dengan satu tangan, dia selalu menjawab, “satu tangan oleh saya, satu ‘tangan’ lagi oleh Tuhan.”
Iya, River, tak seperti kita, lelaki yang aku ceritakan padamu ini hanya memiliki satu tangan yang kasat mata. Sebuah kecelakaan di masa kecilnya telah membuat lengan sebelah kirinya diamputasi sebatas siku. Tapi satu tangan yang hilang itu tak membatasinya. Dia bahkan pernah menjadi juara badminton.

Lelaki yang aku ceritakan padamu ini juga telah menulis banyak buku, termasuk sepuluh seri kisah perjalanan yang fenomenal. Aku menyebutnya kitab para pejalan. Buku-buku itulah yang membuatku menjadi pejalan. Aku membawa buku-bukunya ketika meninggalkan rumah pertama kali 14 tahun lalu. Dan hingga kemarin, aku mendengar ada seorang anak muda lagi terkena “kutukan” buku itu. Seorang remaja dari Karanganyar menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk bertemu dengan sang penulis. Bayangkan, Nak, seorang anak muda merasa perlu menggerakkan kakinya karena buku yang diterbitkan belasan tahun sebelum dia lahir. Aku membayangkan, mungkin itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang membaca Ibn Batutah atau Codex Calixtinus, ratusan tahun sebelum kita.

Singkat cerita, Nak, lelaki yang aku ceritakan padamu ini kini tak lagi berpetualang. Ransel yang pernah dia bawa berkeliling dunia itu sudah dia lelang untuk membantu korban tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Dia sudah berhenti berjalan. Suatu kali dia pernah bilang, “berhenti menjadi lelaki. Kini saatnya untuk belajar menjadi suami dan ayah.”

Selesai, dia bilang. Tapi bagiku, dia tak pernah selesai menjadi lelaki. Dia tetap lelaki pemberani.
Tadi pagi, aku melihatnya berada di tengah-tengah keluarganya, merayakan ulangtahun ke-12 anak pertamanya. Di rumahnya yang teduh dan terbuka untuk siapa saja, dia memberi wejangan kepada anak gadisnya yang beranjak dewasa itu. Sama sekali tak ada yang mewah dalam perayaan ulangtahun itu. Hanya ada kue dan beberapa gelas minuman dingin. Yang membuatnya mewah adalah kegembiraan dan kasih sayang di antara mereka.
“Mama hampir meninggal lho waktu melahirkan Bella,” katanya mengingatkan si sulung. “Kepalamu sudah keluar tapi tiba-tiba masuk lagi…”

Aku tersedak. Baru kali ini aku mendengar petuah ulang tahun seperti itu. Tapi aku tak heran. Dia memang jenis lelaki yang tidak gampang kita temui di sembarang tempat. Pikirannya kuantum dan kohesif. Seperti halnya aku dibuat termangu saat dia menanggapi ucapan seorang kawan yang mempersoalkan feng shui rumahnya. Menurut sang kawan, rumah yang ditempatinya itu tak bagus feng shuinya. Rezeki yang datang akan bablas hingga ke belakang.
Lalu apa jawabnya?
“Tak apa-apa,” katanya, ” Biarin bablas ke belakang selama masih ada orang lain yang menerimanya.”
Kamu tahu, Nak, di belakang rumahnya itu dia membangun tempat belajar dan menyediakan ribuan buku untuk dibaca oleh anak-anak di sekitar rumahnya. Sebuah gudang ilmu tak ternilai yang dia bangun dari nol bersama istrinya.

“Sini peluk ayah, Nak, dulu suka meluk, sekarang jarang…” katanya lagi menggoda putrinya.
“Malu..” kata putrinya merajuk. Aku tersenyum melihatnya.
Aku menduga inilah putri yang pernah dia bikinkan puisi “Mencari Pelagi”.

kini giliranmu menikmati dunia
barangkali akan lebih keras menderita
atau lebih gembira

tapi tak kan kujanjikan kamu
bisa bermain-main air hujan
karena mencari pelangi
adalah siksaan tak terperi

kini giliranmu menikmati hidup
walau yang kuwariskan adalah jejak-jejakku
silahkan kamu mencarinya sendiri
kini giliranmu menikmati semuanya

pesanku: berilah ibumu kado pelangi
karena kami rindu hujan!

Aku takjub pada caranya memelihara cinta. Di sekitar meja tempat kue brownies tanpa lilin itu ditaruh, dia dikelilingi oleh seorang istri dan empat anak yang beruntung.
Juga seorang calon ayah yang sedang menyerap pelajaran.

Calon ayah itu adalah aku, River, yang tak sabar menanti kau lahir. Belasan hari lagi. Yang bisa aku lakukan kini adalah berjalan sejauh mungkin dan mengambil saripati kehidupan dari orang-orang, termasuk dari lelaki yang aku ceritakan padamu ini.

Aku tahu aku tak akan pernah penuh seperti lebah memiliki madu. Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa bilang padamu: “Ada banyak cinta yang menunggumu di sini, Nak.”

Jangan Hujan Malam Ini

Februari 3, 2010

Nak, tadinya aku berharap hujan turun lagi malam ini. Gerah rasanya seharian tadi. Mungkin karena aku lumayan banyak berkeringat. Dua kali rit ke kantor. Rit kedua naik sepeda. Rit pertama tadi yang jalan kaki, ke kantor lalu ke Pasar mampang terus ke tukang jahit untuk memperbaiki baby carrier. Itu baby carrier untukmu, Nak. Aku ke tukang jahit untuk menguatkan jahitan kancingnya, supaya kuat menyangga tubuhmu nanti. Kata Bu Dokter tadi, beratmu sekarang sudah 3,4 kilogram, dan sudah masuk ke jalan lahir. Alhamdulillah, sejauh ini baik dan normal saja.

Tadi kunjungan terakhir kami ke Dokter Sri Pudiastuti di Jakarta Medical Centre. Besok kita akan ke Bandung, Nak, beramai-ramai. Ibumu ingin melahirkan kamu di sana, biar dekat dengan ibunya, katanya. Biasalah, perempuan, mereka selalu merasa lebih aman bila dekat dengan ibunya. Tak apa-apa ya, Nak. Bandung juga keren kok di akta kelahiran. Setidaknya lebih keren daripada tempat lahirku: Watampone. Di mana itu? Jauh dan sering tidak ditulis di peta Indonesia. Kamu akan tahu kelak bila masih ada pelajaran Geografi di sekolahmu.

Tadi sama dokter Sri, kami minta didoakan. Minta didoakan semoga semuanya lancar. Dokter Sri itu baik, meski agak kaku. Setidaknya selama 8 bulan periksa dan konsultasi kehamilan ke dia, kami tak pernah ada kesulitan. Dokter Sri selalu kasih harapan-harapan baik yang tentu saja penting untuk psikologi ibu hamil. Kalau aku bilang agak kaku, ya mungkin itu perasaanku saja. Mungkin aku sedikit subjektif karena pernah ditolak waktu aku minta nomer handphone-nya. Tapi its ok kok. Kami bisa memakluminya.

Bubar periksa, kami tidak langung pulang, Nak. Aku dan ibumu singgah dulu nongkrong di tukang kerak telor yang mangkal di depan Rumah Sakit JMC. Selama 8 bulan mondar-mandir ke JMC, baru kali itu kami melihatnya.
“Sering kehalang mobil…” katanya waktu aku tanya kenapa baru melihatnya di situ. Namanya Pak Rahmat, dan seperti kepada tukang-tukang kerak telor lainnya, aku memanggilnya Babe. Bertahun-tahun dia berjualan di pojok parkiran RS. JMC itu. Jika parkiran penuh, Babe akan semakin tak terlihat. Malam tadi tak terlalu ramai, jadi kami bisa leyeh-leyeh. Ibumu duduk di tembok pagar, aku duduk di besi pembatas ban. Babe Rahmat duduk di antara kami, sambil mengipas-ipas tungkunya.

Sebelum berjualan di sini, Babe berjualan di Monas. Di Monas dia berhenti setelah ongkos angkutan dari rumahnya di Pejaten Barat semakin mahal, dan rematik mulai mendera badannya.
Bila rematiknya kambuh, “Sakitnya terasa sampai di sini,” kata Babe sambil menunjuk bagian perutnya. Dia bukannya tidak mencoba berobat. Babe bahkan pernah memeriksakan diri ke dokter JMC, tapi tidak banyak perubahan. Tubuh 68 tahun itu mungkin sudah susah bereaksi dengan obat apapun.

Babe bercerita soal sakitnya atau soal hari-hari di mana tak ada satupun pembeli, semuanya dengan ekspresi yang sama. Tersenyum. Itu benar-benar senyum. Senyum yang sama seperti saat dia bercerita tentang cucu-cucunya. Babe Rahmat tak pernah sinis terhadap kehidupan, rupanya.

Aku tiba-tiba ingat bapakku almarhum. Bapakku juga murah senyum. Seumur hidupku, tak pernah aku berhasil tahu kapan dia mengalami masa-masa sulit. Semua masalah dilaluinya dengan senyum, kadang disertai lelucon-lelucon garing yang membuat kami merasa berdosa bila tidak ikut tertawa.
Aku rindu cerita-cerita bapakku. Demi Allah, andai kamu bisa melihatku sekarang, Nak, mataku basah saat menulis ini…

Ironis ya, Nak. Bapakku yang selalu mengajarkanku arti tertawa riang justru lebih sering aku ceritakan dengan haru biru. Itu karena aku merasa berutang sangat banyak padanya. Utang tak terbayar sebagai konsekuensiku memilih jalan pedang ini. Halah! 🙂

Kenapa aku tulis ini, sederhana saja sebabnya. Aku ingin kelak engkau bisa mengenangku seperti aku mengenang bapakku. Berilah aku waktu untuk belajar. Seperti bapakku, aku ingin jadi ayah yang baik, yang tak pernah menyentuhkan kulit tangannya ke badan anaknya dalam keadaan marah. Apakah lagi yang lebih berarti bagi seorang pria selain saat ketika anaknya dengan ikhlas menulis “I’m just a happy kid”, dan istrinya menulis “I’m a happy wife”. Subhanallah. I so wish this would happen to me, Son!

Jadi begitulah, Nak. Tadinya aku berharap hujan turun malam ini. Hingga tadi, sebelum aku bertemu tukang kerak telor di depan Rumah Sakit JMC itu. Babe Rahmat yang tanpa henti mengipasi tungku dan berkali-kali meminta maaf karena telah membuat kami menunggu, telah mengajari kami satu lagi sudut pandang kebahagiaan.
Dia guru kami malam ini. Dan sungguh sangat tak berterima kasihlah kami jika mengharapkan hujan turun. Babe Rahmat masih akan di sana hingga tengah malam. Tanpa atap.
Adapun kami yang berharap turun hujan, seringkali hanya menginginkan romansa dan sedikit melankoli.