Arsip untuk Januari 2010

Allah Menjawab Semua Doa, Hanya Saja Kadang-kadang Jawaban-Nya Adalah ‘Belum’ dan ‘Tidak’

Januari 18, 2010
Nak, selalu ada masa-masa sulit yang harus dilewati dalam hidup. Masa-masa sulit itu sering kita beri nama macam-macam. Kadang kita sebut dia cobaan, ujian, musibah, atau azab. Tergantung sejauh mana kita melihat dan menyetujuinya. Pernah suatu kali saya hampir meninggalkan sebuah shalat Jumat hanya karena khotibnya bilang tsunami di Aceh dan gempa di Padang itu adalah azab, hukuman. Saya tidak sepakat ,dan jika bukan karena terpaksa, saya berniat mencari masjid lain yang khotbahnya tidak menggeneralisir seenaknya seperti itu.
Maafkan saya, ya Allah. Mungkin itu benar. Tapi siapalah kita ini, merasa bisa menentukan dan menilai penderitaan orang lain?
Saya ingat seorang anak kecil yang terhimpit di tengah antrian makanan di Aceh, setelah tanah mereka rata oleh tsunami 26 Desember 2004. Saya ingat ibu kawan saya yang tinggal di tenda di Padang Sago setelah gempa 30 September 2009. Demi Allah, tak sedikitpun saya berani bilang mereka menanggung azab. Ya Allah, dengan segala kebodohan yang saya miliki, ijinkan saya untuk tak sepakat dengan dia yang berjubah wangi dan berdiri di mimbar itu.

Ada seorang da’i terkenal yang pernah bilang, “Ini ujian bagi saya”. Yang dia maksud dengan ujian adalah kondisi ketika dia harus beristri dua dan disorot publik dan dihujat jemaahnya yang tidak setuju. Ada juga seorang bintang sinetron yang berujar serupa. Tapi yang dia maksud dengan ujian adalah wajahnya yang tampan yang membuatnya dikejar-kejar cewek-cewek ABG dan alay-alay.
Di lain kesempatan, ada seorang haji kaya raya yang dengan entengnya bilang, “Kekayaan yang saya miliki ini adalah ujian dari Allah”. Teman saya yang pengamen menimpali, “Kalau ujiannya kaya raya, semua orang juga pengen diuji, Pak Haji…”

Nak, saya sama sekali tidak berpretensi untuk menjelaskan padamu apa itu cobaan, ujian, musibah, atau azab. Saya juga bukan semacam moderator diskusi yang sering merasa sok tahu untuk menyimpulkan apa-apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kawan saya yang suka menyederhanakan masalah itu bilang, “Apapun jenisnya, mari kita sepakat menyebutnya masa sulit. Mau ujian kek, cobaan kek, azab kek, sebut saja tough days!

Sebenarnya, Nak, saya menulis ini karena saya merasa juga sedang mengalami masa-masa sulit. Di luar kondisi bahwa kita harus selalu bersyukur pada apa yang terjadi, kadang kita memang tidak bisa selalu berpura-pura menjadi Rambo. Kadang-kadang kita ini Rinto, ST12, suka mewek…
Saya pun dengan sangat tak tahu diri menyebut situasi yang sedang saya alami ini sebagai masa-masa sulit. Padahal ini tak ada sepersejutanya dari penderitaan yang dirasakan oleh, misalnya, ibu kawan saya di Padang Sago itu.

Untuk menulis ini pun, saya harus mengesampingkan nasehat Buya Hamka yang pernah bilang, berbahagialah dengan apa yang kau punyai, dan yang tidak kau punyai.
Mungkin itulah masalahnya, Nak. Jakarta tak pernah membiarkanmu untuk bahagia dengan sesuatu yang tidak kau punyai. Di Jakarta, kita dibuat tak pernah puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar saja. Kota ini selalu membuat kita ingin lebih. Entah kenapa, saya merasa orang-orang hanya melihat kita dari apa yang kita punya. Bukan dari apa yang tidak kita punyai. Tak pernah saya mendengar ada yang bilang, “Gila! Lo keren banget ya.. gak punya Blackberry!”.

Nak, insya Allah, sekitar sebulan lagi kamu lahir. Kamu tahu, di usia kehamilan ibumu yang memasuki delapan bulan ini, saya sering dihinggapi rasa bersalah. Jangan kau ragukan, saya selalu ingin yang terbaik untukmu dan ibumu. Saya sudah berusaha cari duit mati-matian, tapi entah kenapa yang terjadi adalah saya selalu merasa usahaku itu tidak cukup keras. Tidak cukup kuat untuk menembus batu Chin mi. Ini masalahku, Nak. Seorang dosen yang menurutku lebih cocok jadi motivator pernah memberi kuliah, “Bagilah semangatmu menjadi dua, masing-masing 50 persen. Setelah itu, dua semangat 50 persen itu kamu jadikan masing-masing 100 persen. Sekarang kamu punya 200 persen semangat!” Begitu katanya, Nak. Matematika apa itu! Hehehe..

Nak, aku selalu berharap kelak kamu akan mendapatkan guru agama yang baik. Guru agama yang selalu mengingatkan dan meyakinkanmu bahwa Allah tidak tidur. Gusti Allah ora sare, kata teman-teman kami yang orang Jawa.

Oya, Nak, untuk sementara, saya tak membiarkan ibumu naik angkot. Jadi kemana-mana kami membawamu naik taksi. Bukannya mau riya, tapi kami kalau naik taksi kami suka kasih lebihan Rp5000 sampai Rp10000 ke sopir taksinya. Dan kemarin itu, saya dapat jawaban lagi kenapa sampai sekarang belum bisa membeli mobil untuk ibumu.
Ada yang datang di mimpiku, Nak, dan dia bilang kami masih harus jadi perantara rezeki sopir taksi itu, melalui lebihan yang sering kami kasih itu. Rezeki mereka masih ada di saluran kami.

Jadi, Nak. Allah itu benar-benar tidak tidur. Allah menjawab semua doa. Hanya saja kadang-kadang jawabannya adalah Belum dan Tidak.

Iklan

Didiklah Ayahmu Sejak Kau Masih Dalam Kandungan

Januari 11, 2010

Dalam sejumlah nasehat, teori, maupun buku-buku, banyak ajaran yang sering disampaikan kepada para calon orangtua yang sedang menanti kelahiran buah hatinya. Salah satunya adalah: “didiklah anakmu sejak dia masih dalam kandungan”.
Bentuk pendidikan itu ada banyak macam. Mulai dari yang ilmiah-metodik hingga yang abstrak-transendental (ini kata asal comot saja, supaya kedengaran keren).
Contoh yang ilmiah-metodik adalah, kaum ibu biasanya mulai memperdengarkan musik klasik kepada calon bayinya. Komposisi nada dalam musik klasik ini –biasanya gubahan Mozart- dipercaya selaras dengan ritme kondisi lingkungan bayi di dalam perut ibunya. Dengan demikian bayi konon akan menjadi tenang dan damai.
Di awal-awal kehamilannya, istriku juga ikut-ikutan cara ini. Alhasil, headphone Philips-ku pun aku relakan untuk ditekuk-regangkan mengikuti anatomi perutnya. Tak apa. Ini demi River. Kalau misalnya saya ada duit lebih, headphone Sennheiser pun akan aku belikan untuk mendapatkan kualitas suara yang standar broadcast.

Adapun ibuku, sejak tahu istriku hamil, langsung menyuruhku banyak-banyak shalat, berdoa, dan mengaji. Salah satu surah dalam Al-Quran yang sering dianjurkan untuk dibaca saat menanti kelahiran bayi adalah surah Maryam dan Surah Yusuf. Pengharapannya jelas, jika kelak dia lelaki akan setampan Nabi Yusuf, dan apabila dia wanita maka akan secantik dan setangguh Maryam. Nah, ini salah satu contoh teknik abstrak-transendental.

Tambahan. Dalam sebuah buku tebal yang kami baca, pada minggu kehamilan ke-sekian, orangtua dianjurkan untuk mulai berbicara dengan sang janin. Pada minggu tersebut, sang calon bayi diperkirakan sudah bisa mendengar dan belajar mengenali suara ayah ibunya.
Demikianlah sekilas mengenai pendidikan pra-lahir ini. Intinya, seperti yang saya sebutkan di awal tadi, adalah mendidik seorang anak sejak dia masih dalam kandungan. Subhanallah. Betapa mulianya…

Sebagai calon ayah yang baik, saya pun selalu berusaha untuk menjalankan semua yang disarankan oleh para cerdik-pandai dan tetua tersebut. Tentu saja itu tidak mudah. Teori-teori pengasuhan tentu saja banyak berasal dari pengalaman empiris. Tapi, sekali lagi, selalu ada kemungkinan teori-teori tersebut bersifat kasuistik. Untuk si Svetlana cocok, belum tentu cocok untuk Asep. Demikian pula sebaliknya. Seorang pakar psikologi perkembangan bahkan pernah bilang, “Sebelum punya anak, saya punya LIMA teori tentang cara mengasuh anak. Tapi setelah itu apa yang terjadi? Saya punya LIMA anak yang tak punya teori.” Nah lho!

Orangtua zaman sekarang wajib berterimakasih karena sudah banyak pelajaran yang telah diajarkan oleh para pendahulu. Kahlil Gibran misalnya, dengan lantangnya dia bisa bilang:

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa memberikan rumah bagi raganya, tapi bukan bagi jiwanya
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok,
yang tak pernah dapat engkau kunjungi bahkan dalam mimpimu sekalipun…”

Atau ajaran yang disampaikan oleh Dorothy Law Nolte, seorang penyair Amerika dalam aforismanya yang termasyhur, Children Learn What They Live.


Anak belajar dari Kehidupannya.
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
JIka anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Dalam sebuah shirah zaman nabi, ada seorang ibu yang memarahi anaknya karena sang anak tanpa sengaja mengencingi baju Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah pun menegurnya dengan bijak, “Noda di pakaianku ini dapat segera hilang tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu.”

Di kisah yang lain, khalifah Umar Ibnu Khattab pernah dibuat heran oleh perilaku seorang sahabatnya. Sahabat ini dikenal sebagai seorang jago perang yang berperawakan gagah. Bahkan untuk menjaga citra kegagahan dan kegarangannya, dia tak pernah mencium anaknya. Umar pun menegurnya.
“Bagaimana mungkin engkau dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan sujudnya ketika shalat karena sang cucu bermain-main di punggungnya.”

Saya juga mengenal seorang pria yang menurutku sangat memenuhi kriteria kejantanan. Dia seorang legenda pendaki gunung. Di masa mudanya dia pendiri sebuah kelompok pecinta alam kampus terkenal. Ratusan gunung dan medan sudah dijajalnya. Namanya Herman Lantang. Suatu kali saya mengajak istriku –waktu itu masih belum istri, masih penjajakan ceritanya– main ke rumah Herman Lantang. Bang Herman –begitu dia selalu ingin disapa– menyambut kami dengan baik. Saya yang terobsesi dengan Soe Hok Gie dapat banyak cerita dari Bang Herman, termasuk detik-detik terakhir saat Soe Hok Gie meninggal di pangkuannya.
Saat kami sedang asyik ngobrol, obrolan kami dijeda oleh kedatangan dua orang anaknya yang baru saja pulang entah dari mana. Errol dan Cernan namanya. Errol gagah dan gondrong. Cernan agak gempal. Umurnya sekitar 20-an. Jauh lebih muda dari saya.
Ada satu pemandangan yang membuatku takjub. Begitu masuk rumah, Errol dan Cernan bukannya langsung ke dalam tapi singgah dulu mencium pipi ayahnya!
Aku takjub karena membandingkan mereka dengan diriku sendiri. Saat seusia mereka, maukah saya singgah mencium pipi bapak saya saat dia sedang menerima tamu?
Saya bahkan lupa kapan terakhir mencium pipi Bapak semasa hidupnya…

Di jalan pulang dari rumah Bang Herman itu, saya bilang ke Desanti, “saya ingin anakku kelak tak malu mencium pipi ayahnya, sekalipun ia gondrong dan bandel”. Saya bilang “anakku” bukan “anak kita” karena waktu itu Desanti masih menimbang-nimbang untuk menerima saya sebagai calon suaminya. Alhamdulillah sekarang dia sudah jadi istriku dan sedang mengandung anak pertama kami. Insya Allah, River namanya.

Jadi begitulah. Sejak tahu River ada di perut istriku, saya mencoba mengingat-ingat kembali pelajaran-pelajaran kecil namun berharga yang mungkin tercecer atau terlupa. Ada banyak. Dari rupa-rupa orang dan tempat. Dari Kahlil Gibran hingga Herman Lantang.

Menanti kelahiran River buat saya seperti men-daras bacaan lagi. Mengulang pelajaran tentang hidup. Saya beruntung bisa memasuki fase hidup ini; menjadi suami dan, insya Allah, seorang ayah. Saya tahu ada jutaan orang di luar sana yang berjuang untuk sekadar menjadi suami atau ayah, sementara ada sejumlah orang lain yang melalaikannya. Ada banyak suami yang menyakiti hati istrinya, dan ada ayah yang tega meletakkan anaknya di atas rel kereta api hingga kaki sang anak putus terlindas.

Menjadi ayah itu seperti madrasah. Seorang lelaki yang tahu dirinya akan segera menjadi ayah, akan belajar untuk menekan egonya. Mengabaikan nafsunya pada sepatu boot Oakley, speaker Bose, Bike Friday, atau teleskop Sky-watcher…

Belakangan ini, saya semakin jago, saya tak pernah lagi telat meletakkan tangan di perut istriku setiap kali River bergerak. Mungkin karena River sudah semakin besar sehingga gerakannya juga sudah semakin lama dan sering. Di saat-saat seperti itu, semakin terasa kecilnya kami sebagai manusia. Sebuah detak kecil saja bisa membuat kami meneteskan airmata saking bahagianya…
Ya Allah, mahluk mungil yang Kau titipkan itu, telah mendidik kami untuk bersyukur, bahkan sejak dia masih dalam kandungan.

Lalu, menjadi ayah itu seperti tetirahan. Tempat istirahat setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Seperti Anhony Swofford, seorang marinir Amerika, sepulangnya dari bertugas di Irak menulis sebuah memoar yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama, Jarhead.
Ceritanya panjang, tapi di bagian akhir dia menulis:

A story.
A man fires a rifle
for many years…
and he goes to war.

And afterwards
he comes home…
and he sees that
whatever else he might do
with his life…

build a house…
love a woman…
change his son’s diaper…

Doa Teknis di Tahun Baru

Januari 1, 2010
River, semoga Allah selalu melindungimu, Nak.
Insya Allah, jika semuanya lancar, 2 bulan lagi kamu akan lahir ke dunia. Menyelesaikan satu fase dalam hidupmu, fase alam rahim. Kamu akan bergabung dengan kami di dunia yang keras ini. Kuatkan dirimu, Nak.

Ini malam tahun baru dalam hitungan Masehi. 2010. Kami tidak kemana-mana. Di rumah saja, menikmati letusan kembang api yang bersahut-sahutan di atas atap rumah. Mendirikan shalat beberapa rakaat lalu menyambungnya dengan doa-doa. Doa lama yang selalu berulang, berharap Allah melindungi orang-orang tercinta kami di sepanjang tahun ini. Dan kali ini, Nak, dengan bahagia dan penuh harap, kami mengikutkan namamu dalam daftar nama orang-orang tercinta kami.

Tahun lalu patut disyukuri. Banyak keajaiban terjadi. Terutama yang bulan Maret, saat dimana aku akhirnya berani memutuskan untuk tidak lagi soliter dan membiarkan seseorang masuk menata hidupku yang semrawut. Itu momen indah, Nak, tentu saja selain keajaiban lain bahwa kamu akan hadir melengkapi hidup kami. Subhanallah walhamdulillah.
Keajaiban lain lagi: bukuku akhirnya selesai dan aku bisa membuatnya masuk daftar tunggu di penerbit (meski belum jelas juga kapan terbitnya, namanya juga daftar tunggu..:-))
keajaiban lain lagi: aku berhasil menurunkan 7 kilogram berat badan, meski sekarang sudah naik lagi mendekati angka awal. But its ok, Kid. aku janji akan mencapai berat badan ideal saat kamu lahir nanti –atau setidaknya sampai kamu bisa aku ajak jalan. Aku punya rencana mau mengajakmu naik gunung bareng, dan itu tak bagus bila bawa lemak berlebih.

Tapi tahun kemarin juga banyak sedihnya, Nak. Banyak kasus yang bikin miris. Cicak versus buaya lah, Prita lah, Century lah, dan banyak lagi. Gus Dur juga baru saja wafat. Indonesia kehilangan satu lagi guru bangsa. Beliau ulama yang kontroversial. Dia ulama yang kharismatik tapi kadang-kadang juga bikin kesal. Aku pernah dimarahi Gus Dur karena dia tidak suka pertanyaanku waktu mewawancarainya. Tapi dia juga pernah bikin aku tertawa terpingkal-pingkal karena celutukan dan humornya yang luar biasa lucu. Sebagai pengikut NU, mari kita mendoakan beliau semoga dilapangkan jalannya ke surga.

Oya, Nak, perlu kamu ketahui, keluarga dari garis ayahmu ini adalah pengikut NU. Kalau dari garis ibumu belum sempat aku konfirmasi. Kami belum ngobrol banyak soal ini. Ibumu masih tidur. Besoklah kalau dia sudah bangun baru aku tanya. Tapi dugaanku sih keluarga ibumu berafiliasi ke Muhammadiyah atau ahlus sunnah.
Tapi jangan khawatir, kami tak akan memaksamu untuk taqlid pada aliran apapun. Di rumah, kadang-kadang aku juga keluar dari pakem NU. Orangtuaku, misalnya, bisa menerima bila aku shalat subuh tanpa membaca doa qunut. Tak ada paksaan. Kami beragama dengan rileks dan santun.

Jadi begitu, Nak. Tahun ini ada banyak janji prospektif. Jadi tak ada salahnya kita menaruh harap. Berharap kepada Allah tentu saja, bukan kepada tahun. Kemarin di rapat terakhir di tahun 2009, bos bilang pencapaian marketing perusahaan sudah melebihi target, dan ada cukup banyak kelebihan yang bisa dibagi-bagi ke karyawan sebagai bonus. Amien. Mari berharap. Toh kalau sudah rezeki tak akan kemana juga ya, Nak..

Pernah suatu kali, aku ketemu dengan seorang tukang roti di pelabuhan. Sambil ngobrol aku membeli rotinya. Tanpa sengaja, duit yang baru saja aku bayarkan lepas dari tangannya dan meluncur turun ke gorong-gorong tembus jatuh ke laut. Aku berniat menggantinya tapi dia menolak dengan keras.
“Itu artinya belum rezeki saya, Mas,” katanya santai.
Aku melongo.
“Kalau sudah sampai di sini.. baru rezeki saya,” katanya lagi sambil menunjuk lehernya.
Subhanallah. Betap hanifnya dia, seorang tukang roti yang mungkin tak pernah ikut training ESQ atau Quantum Ikhlas.

Kemarin, Nak, aku dapat satu pelajaran lagi. Saat mereview naskah untuk program acara, produserku, Bang Abaw yang baik hati dan bijak itu memintaku memasukkan satu ayat tambahan. yaa laytani kuntu turaabaa’.
Aku sudah sering membacanya, tapi kali ini entah kenapa, demi Allah, ayat itu membuatku merinding. Ini lengkapnya:
Innaa andzarnaakum ‘adzaabaan qariibaa yawma yanzhurul-mar-u maa qaddamat yadaahu wa yaquulul-kaafiru yaalaytanii kuntu turaabaa.

Dalam tafsir Al Misbah, ayat terakhir dalam surah An nabaa ini diterjemahkan:
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Ya ampun, Nak, ayat ini tentang pertanggungjawaban yang akan ditimpakan kepada kita kelak. Semua harta dan perbuatan akan dihisab sedemikian cermat, hingga orang-orang yang lalai di dunia, saking putus asanya sampai berandai-andai jika dia bukan manusia. “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Begitulah, Nak. Semoga tahun ini lebih barokah. Aku titip minta didoakan ya. Kamu yang belum punya dosa mungkin lebih di-ijabah doanya oleh Allah dibanding doa kami ini yang penuh karat. Semoga dimudahkan semua urusan kami ya, Nak. Dikaruniakan kesehatan kepada kami semua. Dilancarkan rezeki kami.

Ya Allah, kami tahu diri. Setahun kemarin sudah penuh dengan karunia-Mu. Kali ini kami tak minta banyak. Aku hanya minta kesehatan dan rezeki yang yang halal yang bisa kami pertanggungjawabkan, yang tak akan membuat kami kelak berharap lebih baik jadi tanah saja.
Ya Allah, perkenanlah kami untuk memanjatkan doa yang sedikit teknis kepadamu.
Berilah kesempatan kepada tanganku ini ya Allah, tanganku yang sudah mulai sering kesemutan ini. Aku ingin membuatkan River sebuah rumah pohon, di halaman depan rumah kami, lengkap dengan taman bacaan untuk anak-anak tetangga. Teman-temannya River kelak.

(Photograph courtesy of Derek Saunderson & Gordon Brown)