Tertawa Seperti Pocoyo

(Jumat, 25 Desember 2009)

Alkisah, ada suatu hari saat kami sekeluarga sedang menikmati makan malam. Aku masih kecil dan ganteng. Kira-kira 12 tahun umurku saat itu. Duduk melingkari meja ada Bapak, Ibu, dan kami lima bersaudara. Ari masih kecil, masih disuapi Ibu. Bibi sedang di dapur.

Tiba-tiba Paman datang, bukan dari desa, karena paman memang tinggal bersama kami. Pamanku ini jagoan. Di kampung kami lawannya berbilang jari tangan. Dia disegani, pokoknya. Menyebut namanya saja sudah cukup membuatku aman melenggang ke mana saja. paman ini adik ibuku. Umurnya saat itu sekitar 30 tahunan. Masih muda dan berbahaya.

Paman mengambil kursi. Bapak dan Ibu sudah selesai makan. Sambil menyendok nasi, paman berbicara ke semua yang hadir di meja makan.
“Tadi ada mayat mengambang di temukan di sungai, matanya hilang, dicongkel..”
Di kota kami yang kecil, peristiwa pembunuhan semacam itu sangat jarang terjadi. Pasti ada sesuatu sebab yang sangat serus hingga ada orang yang harus kehilangan nyawa seperti itu.
“Masih belum dikenali,” kata Paman lagi. Seolah tak terpengaruh oleh kabar itu, paman menikmati makan malamnya dengan lahap. Aku juga mencoba terlihat tak terganggu. Begitulah kira-kira cara menjadi laki-laki. Harus terlihat tegar dan tak terusik.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ini pintu belakang yang biasanya hanya dilewati oleh kerabat atau tetangga yang sudah akrab. Kadang-kadang sahabat-sahabat paman yang menurutku lebih mirip pengikutnya, juga sering langsung melewati pintu belakang ini jika ingin bertandang.

Sesosok wajah muncul, terlihat gelisah dan mengandung kabar buruk.
“Bang…” dia memanggil pamanku dari luar. Paman menghentikan makannya.
“Ibet, Bang… mayat yang ditemukan itu Ibet…”

Dan Paman benar-benar menghentikan makannya. Sisa nasinya dibiarkan saja. Tergesa-gesa Paman lalu mencuci tangan, pamit dan melesat pergi.
Banyak yang bilang Ibet adalah preman yang banyak musuh. Tapi bagi pamanku, Ibet tetaplah sahabatnya.

Itulah satu dari dua kasus kriminal paling menghebohkan yang pernah terjadi di kota kecil kami.

Kasus lainnya terjadi ketika aku masih sangat kecil dan belum bisa mengingat banyak. Yang sempat aku ingat hanyalah orang-orang ribut mencari seseorang bernama Kaseng yang dituduh membunuh bupati. Kaseng konon adalah tukang kebun yang bekerja di rumah bupati. Dia menghilang bersamaan Pak Bupati dan sejumlah keluarganya ditemukan tewas bersimbah darah.

Kaseng menyimpan dendam. Cerita itu saya peroleh dari seorang lelaki tua yang menjadi partnerku bermain kartu domino di kantor kelurahan, belasan tahun kemudian. Lelaki itu baru saja menyelesaikan masa tahanannya yang panjang. Bersama Kaseng, dia ikut didakwa terlibat pembunuhan sang bupati.
“Saya cuma membantu memegang sajadahnya,” katanya. Entah sajadah seperti apa yang bisa memberikan hasil begitu rupa.
Dari seorang kawan partner bermain domino yang lainnya, saya dapat penjelasan. Sajadah yang dipegangnya itu digunakan untuk menutup kepala sang bupati sebelum lehernya digorok oleh pelaku utama. Begitulah kabarnya.

—-

River, suatu saat kamu pasti akan mendengar yang seperti itu. Duniamu kelak adalah dunia yang penuh bahaya. Di pekerjaanku, aku pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Setiap hari memburu TKP, mengejar pelaku kejahatan, korban, atau sekadar bertandang ke kantor polsek dan menyapa para reserse. Mereka senang dipanggil ‘Ndan’, singkatan dari ‘Komandan’, tak peduli apapun pangkatnnya. Itulah pekerjaanku dulu -dan mungkin saja nanti. Membawa ketakutan dan kabar buruk ke ruang tengah rumah orang, melalui apa yang disebut televisi.

Aku pernah berpikir untuk menjauhkan televisi dari ruang tengah rumah kita kelak. Televisi sumber ketakutan. Jika tak membuat kita ikut berdosa dengan ghibah atau gosip, dia membuat hidup kita seolah-olah tak pernah aman. Kecuali di pagi hari, ketika ibumu asyik menonton Pocoyo.

Pocoyo, Pato, Elly, dan Loula

Itu mungkin doa. Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

3 Komentar pada “Tertawa Seperti Pocoyo”

  1. atut Says:

    sedang apa pocoyo?
    “main”
    dengan siapa, pocoyo?
    “river”

    (eh, pocoyo bisa bilang “r” gak ya?)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: