Seekor Kucing di Depan restoran A&W

(Kamis, 29 Oktober 2009)
River, akan kuceritakan kepadamu tentang hewan.
Pada suatu hari, sekitar 8 tahun yang lalu, aku menemani seseorang menikmati sore di pantai Losari, Makassar. Sebut saja GG, namanya. Karena suatu kebetulan, kami bertemu. Aku adalah mahasiswa pemimpi waktu itu, dan dia adalah penulis terkenal yang melalui serial bukunya, BSR, banyak membentuk mimpi masa mudaku. Kelak jika kamu sudah bisa membaca, kamu harus punya itu buku. Semoga masih dicetak ulang. Tapi kalaupun tidak dicetak ulang lagi, jangan khawatir, Nak, aku sudah menyimpannya untukmu. Suatu hari nanti boleh kamu tagih ke aku atau ibumu. Ada di rak buku di ruang tamu.

Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama. GG mungkin sudah lupa apa yang kami obrolkan di sore yang berangin sepoi itu. Aku juga hampir lupa, jika bukan karena seekor kucing yang duduk meringkuk kelaparan di depan restoran A&W di Mampang.

Maafkan jika ada mis-akurasi dalam cerita ini. Ya, itu karena –seperti yang aku bilang tadi- delapan tahun itu sudah lama sekali. Dengan jangkauan ingatan yang terbatas ini, aku coba menceritakan ulang cerita GG ini kepadamu. Begini ceritanya.

Begitu anak pertamanya lahir, GG memutuskan untuk memelihara beberapa ekor hewan. Kalo tidak salah ada monyet, beberapa ekor burung, dan hewan lain yang aku lupa. Hewan-hewan itu kemudian menjadi hewan peliharaan anaknya. Dari sejak belajar mengenai benda-benda, putri GG bermain bersama hewan-hewan itu. Mereka pun tumbuh bersama sebagai sahabat. Mereka saling menyayangi. Hingga kemudian, saat putri GG beranjak besar –mungkin sekitar empat atau lima tahun- GG mengajak putrinya ke hutan. Di sana, GG meminta putrinya untuk melepaskan hewan-hewan peliharaannya itu. Sang anak tentu saja keberatan. Dan mulailah GG memberikan pelajarannya. GG mengingatkan putrinya bahwa hewan-hewan itu seperti dirinya juga, mereka juga punya rumah, dan rumahnya di hutan. Sang putri akhirnya ikhlas melepaskan kembali hewan-hewan kesayangannya ke alam liar.
”Selesai sudah pelajaran ’melepaskan’,” kata GG mengakhiri ceritanya.
Jadi, River, GG sengaja memelihara hewan-hewan itu selama bertahun-tahun hanya untuk sebuah pelajaran tentang ’melepaskan’ kepada anaknya, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Betul-betul seorang ayah yang visioner. Dan anak-anaknya tentulah anak yang beruntung.

Lalu bagaimana dengan seekor kucing di depan restoran A&W itu yang mengingatkanku pada cerita ini? Baiklah, kapan-kapanlah aku ceritakan kepadamu. Aku menulis ini di kantor, dan ibumu yang juga berkantor di gedung yang sama tapi beda lantai, sudah mengajak pulang. Pekerjaan kami sudah beres, dan sekarang sudah malam. Sudah seharian kamu dibawa-bawa di perut ibumu. Kamu pasti capek. Kasihan ibumu juga. Kakinya semakin membesar. 40 sekarang nomor sepatu ibumu? Gede kan?
Hehehe….

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: