Mengapa Saya Golput bag. 1

(Kamis, 4 Juni 2009)

Pagi itu, di tahun 2004 yang saya lupa harinya, saya ditugaskan mewawancarai Jusuf Kalla. Saya menemui dia di kantornya, di hari terakhirnya sebagai Menko Kesra.
Selepas wawancara, kami ngobrol santai. Saya bilang saya orang Bone, dan besar di Bukaka, di kampung yang sama dengannya. Rumahku hanya berjarak beberapa rumah dari rumah masa kecilnya yang kini jadi pesantren.
JK tanya kapan saya terakhir pulang, dan saya juga tanya sebaliknya. “Kita, Puang, kapanki terakhir ke Bone?” tanya saya. Saya memangggilnya Puang, sebagai bentuk penghormatan untuk orang tua dalam kultur kami.
Dia lalu cerita tentang safari politiknya ke kampung halaman kami itu. Saya pernah dengar cerita yang sama dari teman saya yang ikut dalam rombongan dia. “Gue lewat depan rumahmu, Chan,” kata teman saya itu.
Saya jamin, Pak JK pasti lupa pada pertemuan kami itu. Dia bertemu dengan ribuan orang penting setiap hari, kenapa pula dia harus ingat pada seorang wartawan culun seperti saya? Tapi biar begitu, saya merasa gembira. Kau akan tahu apa yang aku rasakan jika seandainya kau berasal dari Pacitan dan bertemu dengan SBY.

Setelah itu, saya menyimpan niat dalam hati, akan memilih JK jika dia maju sebagai Calon Presiden. Alasannya sederhana, proksimitas geografis dan kultural. Terdengar primordial dan chauvin? Jangan salahkan saya. Itulah kenyataannya.
Dan dia memang maju bertarung, meski hanya sebagai cawapres, bersanding dengan SBY. Saya kecewa, tapi kemudian sedikit terhibur mendengar kabar bahwa dia punya nilai tawar yang tinggi terhadap SBY.Di kemudian hari, JK memang membuktikan itu. Pada malam pengumuman kabinet setelah mereka terpilih, kami menunggu cukup lama dari jadwal yang direncanakan. Belakangan, seorang kawan yang baru balik dari istana bilang, pengumuman kabinet molor karena JK “memaksakan” orang-orangnya untuk jadi menteri di pos tertentu, yang kabarnya membuat SBY terpaksa mengalah. Hebat!

Oya, meski dalam hati saya mendukung JK pada pilpres 2004 itu, tapi saya tidak mencoblos sama sekali. Saya hampir selalu ketiduran pada hari pencoblosan.
Pertama dan terakhir saya bisa mencoblos, waktu partai masih 3 biji. Itupun saya coblos semua. Biar adil.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: