Arsip untuk Desember 2009

Tertawa Seperti Pocoyo

Desember 25, 2009

(Jumat, 25 Desember 2009)

Alkisah, ada suatu hari saat kami sekeluarga sedang menikmati makan malam. Aku masih kecil dan ganteng. Kira-kira 12 tahun umurku saat itu. Duduk melingkari meja ada Bapak, Ibu, dan kami lima bersaudara. Ari masih kecil, masih disuapi Ibu. Bibi sedang di dapur.

Tiba-tiba Paman datang, bukan dari desa, karena paman memang tinggal bersama kami. Pamanku ini jagoan. Di kampung kami lawannya berbilang jari tangan. Dia disegani, pokoknya. Menyebut namanya saja sudah cukup membuatku aman melenggang ke mana saja. paman ini adik ibuku. Umurnya saat itu sekitar 30 tahunan. Masih muda dan berbahaya.

Paman mengambil kursi. Bapak dan Ibu sudah selesai makan. Sambil menyendok nasi, paman berbicara ke semua yang hadir di meja makan.
“Tadi ada mayat mengambang di temukan di sungai, matanya hilang, dicongkel..”
Di kota kami yang kecil, peristiwa pembunuhan semacam itu sangat jarang terjadi. Pasti ada sesuatu sebab yang sangat serus hingga ada orang yang harus kehilangan nyawa seperti itu.
“Masih belum dikenali,” kata Paman lagi. Seolah tak terpengaruh oleh kabar itu, paman menikmati makan malamnya dengan lahap. Aku juga mencoba terlihat tak terganggu. Begitulah kira-kira cara menjadi laki-laki. Harus terlihat tegar dan tak terusik.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ini pintu belakang yang biasanya hanya dilewati oleh kerabat atau tetangga yang sudah akrab. Kadang-kadang sahabat-sahabat paman yang menurutku lebih mirip pengikutnya, juga sering langsung melewati pintu belakang ini jika ingin bertandang.

Sesosok wajah muncul, terlihat gelisah dan mengandung kabar buruk.
“Bang…” dia memanggil pamanku dari luar. Paman menghentikan makannya.
“Ibet, Bang… mayat yang ditemukan itu Ibet…”

Dan Paman benar-benar menghentikan makannya. Sisa nasinya dibiarkan saja. Tergesa-gesa Paman lalu mencuci tangan, pamit dan melesat pergi.
Banyak yang bilang Ibet adalah preman yang banyak musuh. Tapi bagi pamanku, Ibet tetaplah sahabatnya.

Itulah satu dari dua kasus kriminal paling menghebohkan yang pernah terjadi di kota kecil kami.

Kasus lainnya terjadi ketika aku masih sangat kecil dan belum bisa mengingat banyak. Yang sempat aku ingat hanyalah orang-orang ribut mencari seseorang bernama Kaseng yang dituduh membunuh bupati. Kaseng konon adalah tukang kebun yang bekerja di rumah bupati. Dia menghilang bersamaan Pak Bupati dan sejumlah keluarganya ditemukan tewas bersimbah darah.

Kaseng menyimpan dendam. Cerita itu saya peroleh dari seorang lelaki tua yang menjadi partnerku bermain kartu domino di kantor kelurahan, belasan tahun kemudian. Lelaki itu baru saja menyelesaikan masa tahanannya yang panjang. Bersama Kaseng, dia ikut didakwa terlibat pembunuhan sang bupati.
“Saya cuma membantu memegang sajadahnya,” katanya. Entah sajadah seperti apa yang bisa memberikan hasil begitu rupa.
Dari seorang kawan partner bermain domino yang lainnya, saya dapat penjelasan. Sajadah yang dipegangnya itu digunakan untuk menutup kepala sang bupati sebelum lehernya digorok oleh pelaku utama. Begitulah kabarnya.

—-

River, suatu saat kamu pasti akan mendengar yang seperti itu. Duniamu kelak adalah dunia yang penuh bahaya. Di pekerjaanku, aku pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Setiap hari memburu TKP, mengejar pelaku kejahatan, korban, atau sekadar bertandang ke kantor polsek dan menyapa para reserse. Mereka senang dipanggil ‘Ndan’, singkatan dari ‘Komandan’, tak peduli apapun pangkatnnya. Itulah pekerjaanku dulu -dan mungkin saja nanti. Membawa ketakutan dan kabar buruk ke ruang tengah rumah orang, melalui apa yang disebut televisi.

Aku pernah berpikir untuk menjauhkan televisi dari ruang tengah rumah kita kelak. Televisi sumber ketakutan. Jika tak membuat kita ikut berdosa dengan ghibah atau gosip, dia membuat hidup kita seolah-olah tak pernah aman. Kecuali di pagi hari, ketika ibumu asyik menonton Pocoyo.

Pocoyo, Pato, Elly, dan Loula

Itu mungkin doa. Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

Iklan

Di Jalan Pulang dari Resepsi Pernikahan Sang Mursyid

Desember 25, 2009
(Minggu, 13 Desember 2009)
–kado pernikahan untuk Kang Ule, sekaligus jawaban untuk seorang kawan—

Mungkin, inilah cara paling hemat untuk memberi kado.
Bandung gerimis malam ini. Kami baru saja pulang dari menghadiri sebuah acara pernikahan di daerah Hegarmanah. Yang menikah adalah orang yang kami hormati. Mursyid kami.
Seperti biasa di malam minggu, Bandung disesaki orang-orang luar. Jalanan dipenuhi mobil plat B, D, atau N. Orang-orang bersesakan di gedung-gedung yang disulap menjadi kafe atau resto atau FO. Sementara orang Bandung sendiri mungkin lebih memilih berdiam di rumah, tidak kemana-mana.
Hanya sesekali tampak orang Bandung bergerombol, mengerumuni TV yang dipasang di pos ronda atau gerobak kaki lima. Persib sedang bertanding bola melawan Sriwijaya FC. Istriku orang Bandung berdarah Palembang, sedang aku pendukung setia PSM. Jadi malam ini kami abstain, tidak mendukung siapa-siapa. Biarlah keriuhan itu milik mereka, milik bapak sopir taksi yang kami tumpangi.

Sesekali mengecek Facebook, kami tahu Jakarta sedang disiksa oleh hujan seharian, dan tentu saja macet yang mengikutinya. Status FB teman-teman penuh serapah pada langit dan jalanan. Kenapa hujan kenapa macet! Ingin rasanya kujawab, kenapa tinggal di Jakarta.
Beruntunglah kami, yang meski telah ber-KTP Jakarta, sesekali masih bisa sesekali melarikan diri. Pulang ke rumah isriku di Bandung, atau pulang ke kampungku di Makassar dan Bone.

Seperti kali ini. Kami di Bandung, mencoba menjaga jarak dengan Jakarta.
Beberapa hari lalu, aku menuliskan kekecewaanku di status dan note FB, soal aksi demo mahasiswa yang diwarnai kerusuhan di Makassar. Tak perlu waktu lama untuk mendapat tanggapan beragam.
Sahabatku seorang penyair di Makassar, menulis tanggapannya, bahwa dia sesungguhnya ingin mendengar orang Makassar memberi andil. Secara tersirat —maafkan saya kalau salah, An– dia tidak suka pada orang Makassar yang tinggal di luar Makassar yang hanya ingin melihat Makassar aman –dari jauh, tapi ketika ketika ada apa-apa hanya bisa mengutuk, memaki atau apalah semacamnya tanpa memberi solusi.. (saya kehilangan redaksi lengkapnya, karena ketika saya cek, komen itu telah terhapus). Membaca tanggapannya itu, jujur, saya mesti bilang, saya merasa tersindir.

Seorang aktivis mahasiswa Makassar juga baru saja mengirimkan pesan kepadaku. Dia menyampaikan kekecewaannya soal pernyataanku tentang mahasiswa Makassar yang mappakasiri-siri (bikin malu).
Saya sudah mohon izin padanya untuk memuat sebagian klairifikasinya, dengan perjanjian membuatnya anonim. Untuk memudahkan memahaminya, saya mengoreksi kesalahan ketik dan menerjemahkan sejumlah kalimat atau idiom lokal.

Berikut kutipan pesannya (huruf tegak dari saya)
“…saya mau bilang bahwa peristiwa di Makassar sebagian besar adalah konstruksi media. Kondisinya sangat berbeda. Tanggal 9 Desember itu ada berbagai front/aliansi yang ada di Makassar, dan tidak semua mengusung isu korupsi. Kalau Kak Ochan mengganggap yg pakasiri-siri (bikin malu) adalah meraka yg melakukan aksi di kantor gubernur, saya tidak mau menanggapi karena korlap (kordinator lapangan) aksi di kantor gubernur itu (*******) yang diwawancarai (TV***) di dalam dunia pergerakan di Makassar sudah di-X0 (kali nol- dianggap tidak ada) karena sudah teridentifikasi sebagai banpol (bantuan polisi,=cepu=mata-mata polisi), bahkan sebagian teman2 mencurigai dia adalah sedikit dari mahasiswa yang telah dilatih oleh BIN.

Tapi kalo Kak Ochan mengganggap bahwa mereka yang melakukan aksi penghancuran di KFC (yang sempat diberitakan media), meski bukan itu saja karena teman2 juga melakukan penghancuran terhadap beberapa properti negara seperti kantor polisi, mobil polisi, kantor demokrat, dll…

Kalau kata media tidak ada hubungannya antara korupsi dgn KFC, pertama saya cuma mau bilang bahwa teman2 yg melakukan aksi hari itu TIDAK membawa ISU ANTI-KORUPSI , tapi membawa ISU ANTI KAPITALISME DAN MILITERISME.

Jika media menganggap bahwa aksi KFC itu ditunggangi, maka teman-teman memang telah ditunggangi oleh keinginan untuk bebas dari sistem banal kapitalisme yg telah menghujam jauh ke sendi kehidupan kami. Kami memilih pola gerakan ini sebagai sebuah PILIHAN POLITIK.”


Membaca pesan itu membuatku menghela nafas panjang. Aku kasih lihat isi pesan itu ke istriku. Kami berpandangan sesaat. Tiba-tiba saya merasa betapa jauhnya jarakku dengan mereka kini. Sesekali, setiap pulang ke Makassar, aku memang sering menyempatkan diri bertemu mereka. Ngobrol dan berdiskusi. Pertemuan-pertemuan semacam itu juga sesungguhnya berfaedah untukku. Aku bisa mencuri semangat dari mereka, sekaligus mengukur sudah seberapa jauh aku “hilang” dari radar mereka.

Dan kini, mereka mengirimkan surat bernada kecewa kepadaku, dan sahabatku yang penyair itu juga mungkin telah menggolongkanku ke dalam golongan orang-orang Makassar yang tak lagi peduli pada Makassar –yang hanya bisa mengutuk dari jauh.

Baiklah. Lalu istriku bertanya kepadaku: mau dijawab apa?
Ini jawabanku.
Semoga kalian percaya, saya selalu mendukung apapun yang kalian perjuangan, tapi saya juga tidak kuat lihat kalian memecahkan piring nasi orang lain.

Ya. Semoga mereka percaya. Sampai batas yang mereka bisa. Sebagaimana mursyid kami, sang guru yang tadi malam kami hadiri pernikahannya suatu hari pernah bilang, “Saya akan selalu percaya pada seseorang, sampai pada batas ketika dia membuktikan sebaliknya.”

Baiklah, Kang. Selamat berbahagia dan selamat menikmati. 🙂

Seekor Kucing di Depan Restoran A&W part. 2

Desember 25, 2009
(Kamis, 10 Desember 2009)
–cerita untuk mahasiswa Makassar–

Kalau sedang ada duit lebih, aku dan istriku suka nongkrong di restoran AW. Menikmati sedikit kemewahan makan memakan. Meski namanya junkfood, tapi bagi kami itu sudah cukup mewah. Sudah cukup bikin senang.
Pernah suatu kali aku cerita tentang seekor kucing di depan restoran itu. Tapi tidak lengkap. Lengkapnya begini.
Saat itu kami –aku dan istriku maksudnya, bukan dengan kucing itu—makan di dekat pintu masuk. Sejak kami mulai duduk, seekor kucing juga ikut duduk, diam memandangi kami dari luar pintu kaca.
Aku membelakanginya waktu itu. Desan, istriku, yang duduk menghadap ke luar ke arah jalan, melihat ada yang sedikit aneh dengan kucing itu. Karena terhalang pintu kaca, kami tak jelas mendengar apa dia mengeong-ngeong. Tapi yang kami lihat, kucing itu hanya duduk tenang, benar-benar tenang. Dia mungkin semacam kucing yang pernah ikut kursus John Robert Power, karena sekalipun tampak lapar, dia tak menunjukkan perilaku agresif meminta makanan. Dia paham table manner rupanya, tidak seperti kucing-kucing liar lain yang biasa berkeliaran di sekitar warteg. Setiap ada orang yang mau masuk melewati pintu, kucing itu menyingkir dan lalu kembali ke posisi semula, duduk seperti celengan. Dia tak berusaha merangsek masuk. Tapi kalau saat itu kamu berada di situ, subhanallah, kamu pasti akan sependapat dengan kami bahwa tampang kucing itu memang sangat memelas. Matanya itu!

Istriku yang merasa kasihan, tiba-tiba memintaku untuk membagi ayam goreng dengan kucing itu. Ayam gorengku sendiri. Aku sempat berpikir mengapa istriku meminta padaku, kenapa dia tidak membagi ayam gorengnya sendiri? Tidakkah dia melihatku sangat menyayangi ayam goreng itu?
Tapi begitulah. ’Selama bukan hal prinsipil, ikutilah kemauan istrimu.’ Demikian nasehat perkawinan yang sering aku dengar. Maka aku pun menuruti perintah istriku. Toh memberi atau tidak memberi makan kepada kucing lapar tidak termasuk hal yang prinsipil dalam daftarku.

Hanya beberapa detik setelah aku meletakkan sepotong kecil ayam goreng di dekat kucing itu, tiba-tiba seekor kucing lain yang lebih kecil mendekat. Aku yang sudah kembali duduk di kursiku, melihat dari balik kaca, kucing yang lebih besar itu tidak jadi memakan ayam goreng pemberianku dan mempersilahkan kucing yang lebih kecil itu memakannya. Sungguh, kami dibuat terperangah. Kucing itu benar-benar baik hati.

Karena aku juga baik hati dan tidak pelit, aku berniat memberinya sepotong kecil lagi. Tapi sebelum aku sempat membuka pintu, kucing besar itu sudah pergi meninggalkan sang kucing kecil menikmati makan malamnya. Meninggalkan kami. Oh, semoga dia diterima di sisi-Nya. Lagi-lagi aku dibuat tesentak. Aku tidak mau tahu ada relasi apa di antara mereka berdua. Mungkin kucing kecil itu anaknya, anak tetangganya, atau bukan siapa-siapanya. Entahlah.

Dan ketika kucing itu benar-benar hilang dari pandangan kami, aku mendengar istriku menyampaikan satu anjuran lagi, ”Bungkusin tulang-tulangnya, Kak. Siapa tau nanti pas pulang kita ketemu di jalan.”

Ahay!! Itulah istriku. Istriku yang sangat aku sayangi. Bagaimana mungkin aku bisa meragukan cinta dan kasih sayangnya kepadaku, jika kepada kucing yang tak dia kenal sekalipun dia bisa begitu peduli..
Maka jadilah kami membawa pulang bungkusan tisu berisi tulang dan remah daging ayam sisa makanan kami. Rumah kami dan restoran AW tak terlalu jauh, jadi kami bisa pulang berjalan kaki. Jaraknya kira-kira 600 meter.
Tapi hingga kami tiba di depan rumah, kucing lapar yang baik itu tak juga terlihat. Dengan perasaan campur aduk, kami akhirnya membuang bungkusan tulang itu ke tempat sampah di depan rumah. Entah apa namanya perasaan yang muncul saat itu. Bukannya mau lebay, tapi benar-benar seperti antara sedih dan kecewa. Sedih dan kecewa karena Tuhan tidak mengizinkan kami untuk berbuat baik, yang mungkin bisa sedikit mengurangi tumpukan dosa kami.

Kejadian itu sekitar 3 atau 4 bulan lalu. Tapi soal kucing baik hati di depan restoran AW itu tiba-tiba melintas lagi di kepalaku ketika aku menonton berita pagi ini. Mahasiswa yang berunjuk rasa di Makassar melempari sebuah restoran cepat saji lain, KFC.

Dari sejak kemarin sore, kemarahan mulai buncah di kepalaku. Seorang teman produser yang mengedit berita untuk berita sore bertemu denganku di selasar dekat toilet. ”Kenapa lagi itu anak makassar, Chan? KFC dilempari…”
Teman itu sebenarnya hanya bertanya ”kenapa”, tapi aku yakin sesungguhnya dia ingin bilang ”kenapa sebodoh itu” atau ”kenapa setolol itu”. Apa hubungannya KFC dengan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia?
Aku juga tak tahu ada apa sebenarnya. Ada yang bilang karena gubernur Sulsel yang tak berada di tempat, menolak menandatangani petisi mereka. Ada juga yang bilang, kerusuhan itu dipicu oleh perilaku oknum anggota dewan. Whatever lah!
Bahwa mereka memang mudah marah dan tersulut, iya aku tahu. Aku pernah berada dan menjadi seperti mereka. Yang tak aku mengerti kenapa mereka bisa setolol itu? Wahai, inilah dia mahasiswa makassar yang pabbambangeng na tolo.
Tidakkah mereka sadar, suatu kali mereka akan berhadapan dengan personalia sebuah kantor yang menolak lamaran pekerjaan mereka hanya karena mereka dulunya mahasiswa makassar yang mudah marah!
Sekarang seluruh Indonesia tak mau lagi mengerti kata oknum. Satu yang berbuat semua terimbas akibatnya. Di berita semua media, tak ada lagi istilah ”oknum mahasiswa makassar”. Yang ada mahasiswa makassar rusuh! Puas kalian?

Pagi ini, aku masih terus mencoba menghubungi seorang teman di Makassar. Tapi hingga saat ini aku tulis, nomernya yang aku hubungi itu belum juga tersambung. Dia bukan mahasiswa. Dia tak pernah jadi mahasiswa.
Ayahnya yang guru SD meninggal sejak dia masih kecil, ditabrak lari oleh orang tak dikenal. Ibunya akhirnya harus bekerja serabutan untuk membiayai hidupnya, bekerja apa saja yang halal, berjualan makanan, kain, dan lain-lain.
Temanku itu, sebagai anak tertua, akhirnya mengambil alih tanggung jawab keluarganya. Dia harus membantu ibunya membiayai sekolah dua orang adiknya. Selesai SMU, dia memutuskan untuk bekerja. Itulah sebabnya dia tak pernah jadi mahasiswa.
Terakhir aku bertemu dengannya, dia sedang mengelap mejaku. Aku sedang makan di KFC waktu itu.

Dan pagi ini, aku masih terus berusaha menghubunginya. Setahuku, dia ada di KFC yang kemarin dilempari mahasiswa di Makassar itu. Tapi dia bukan mahasiswa yang merasa pintar dan bisa melempari apa saja. Dia hanya pelayan. Pekerjaannya mengelap dan membersihkan meja pelanggan KFC. Jika ada remah-remah ayam sisa yang tak dimakan orang, dia suka membawanya pulang dan memberikannya pada kucing-kucing di jalan.

My IKEA Dream

Desember 25, 2009
(Senin, 7 Desember 2009)
Nak, seringkali jika tak bisa tidur seperti ini, maka aku akan memelototi katalog IKEA yang sengaja aku simpan di dekat tempat tidur. Katalog itu diperoleh ibumu dari temannya, dan temannya itu entah bagaimana cara mendapatkannya karena di sampulnya jelas-jelas tertulis itu katalog khusus toko dan tidak untuk dibawa pulang. Satu yang pasti, katalog setebal 150-an halaman itu diembat dari sebuah toko IKEA di Malaysia, karena harga yang tercantum semuanya dalam ringgit (RM).

Itulah kebiasaanku belakangan ini. Kebiasaan yang sebenarnya tidak aku sukai. Melihat-lihat buku atau majalah tentang rumah yang membuatku berangan-angan untuk memiliki satu yang sedemikian. Lembar demi lembar yang aku buka semakin membawaku pada perasaan bahwa rumah kontrakan yang kami tempati sekarang ini tak lagi cukup. Impian tentang sebuah rumah permanen mandiri atau town house entah di mana beserta perabotan IKEA-nya, mulai sering bermain-main di kepala. Cukup mengganggu. Benarlah bahwa keinginan itu memang sumber penderitaan.

Tapi, begitulah, mungkin hanya seorang yogi di tepi sungai Gangga yang bisa bebas dari keinginan. Waktulah yang membuat kita seperti ini. Kita berubah seiring waktu. Maka aku sangat menghormati orang-orang yang tetap berusaha menempatkan dirinya pada posisi yang ideal. Ideal bagi pikiran dan hatinya. Ada yang bilang, seseorang yang TIDAK idealis sebelum usia 30 adalah tidak tahu malu, tapi seseorang yang MASIH idealis setelah usia 30 adalah tidak tahu diri. Aku sudah 31. Entah dimana posisiku sekarang.

Nak, di kantorku sekarang sedang menghadapi cobaan siklus. Siklus yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri. Pola manajemen seperti yang mereka terapkan itu memang akan menghasilkan turn over yang tinggi. Arus karyawan keluar masuk dengan cepat dan spartan. 100 orag bisa masuk, tapi 100 orang juga bisa keluar dalam saat sama. Kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, teman-teman kerja banyak yang pindah atau berniat pindah. Ini sudah pernah terjadi setidaknya 3 kali selama yang aku catat.

Ketika gelombang exodus pertama terjadi, aku berusaha untuk tidak terpengaruh. Padahal, jujur, itu saat yang berat. Teman-teman satu batch, yang sama-sama training dan belajar dari nol, tiba-tiba menyeberang ke perusahaan TV lain. Ada semacam rasa ditinggalkan yang melankolik, rasa kehilangan. Tapi ya itu tadi, aku mencoba untuk tidak terpengaruh.

Gelombang yang kedua tidak lebih ringan cobaannya. Sebuah stasiun “baru terbarukan” merekrut karyawan besar-besaran. Teman-teman kembali berangkat. Seorang teman kerja sekaligus sahabat akrabku juga ikut exodus itu. Bisa dibilang kami teman seperjuangan. Kami bareng dari sejak kuliah. Masuk di kantor ini juga bareng. Dan kamu tahu, Nak, retak jiwaku ketika dia menyebut salary yang dia terima di tempat barunya itu. Nyaris 4 kali lipat gaji lamaku. Dia bilang masih ada tempat jika aku ingin ikut. Pusing aku, Nak. Bimbang…

Dan di tengah kebimbangan itu, aku memutuskan cuti dan pulang kampung. Di kultur keluarga kami, kami terbiasa menjadikan orang tua sebagai center of universe, pusat semesta. Semua keputusan besar yang kami ambil harus melibatkan pertimbangan orang tua. Ini sekadar contoh saja, Nak. Kami tak memaksamu untuk memperlakukan kami seperti itu kelak.
Ketika aku bilang ke ibuku soal kebimbangan itu, beliau cuma bertanya, “Kamu merasa nyaman bekerja di tempat yang sekarang?”
Aku bilang iya. Sangat nyaman malah. Aku tidak yakin bisa menemukan tempat bekerja lain yang senyaman ini.
“Kalau begitu jangan pindah,” kata ibuku. “Jika masalahnya adalah uang, jangan pindah. Kantor ini mempekerjakanmu ketika kamu masih tidak tahu apa-apa. Tidak bijak jika kamu meninggalkannya hanya karena uang. Bertahanlah dulu, siapa tahu nanti akan ada perbaikan…”

Dan begitulah ceritanya mengapa aku masih di sini hingga hari ini. Hingga ke gelombang ketiga ini. Tapi entahlah apa aku masih bisa bertahan melewati gelombang ketiga ini. Karena situasinya sudah beda, Nak. Pada gelombang pertama dan kedua itu aku masih kelas pekerja yang tak perlu bertanggung jawab apa-apa. Sekarang sudah ada ibumu yang harus aku bikin senang dan bahagia, dan kamu yang insya Allah 3 bulan lagi akan lahir, Nak.
Dulu aku sudah cukup senang menikmati hari dengan berburu DVD bajakan di Ambasador dan menimatinya di kamar kosan. Sekarang sudah ada ibumu yang membawa pulang katalog IKEA itu.
Tempora mutantur, Kid!

Saat ini, menyambut kelahiranmu, kami cuma bisa berdoa, Nak. Semoga Allah senantiasa membuat kami selalu merasa cukup, qana’ah. Kami yakin, dengan karunia-Nya yang maha luas, Dia pasti akan memberikan semua yang kami butuhkan pada saatnya.
Kami hanya perlu diingatkan.
Seperti halnya aku menulis ini agar selalu ingat: betapa maha baiknya Dia karena hingga kini masih membiarkanku mengoceh tentang katalog IKEA, padahal 6 tahun lalu –ketika pertama kali datang ke Jakarta– aku hanya berbekal ransel berisi pakaian dan sebuah matras gunung.

Selai Mutiara

Desember 25, 2009
(Sabtu, 28 November 2009)
Seminggu yang lalu, aku membawamu ke konser pertamamu. Hanya sebuah pertunjukkan musik kecil sebenarnya, tapi mari kita sepakat menyebut itu konser. Digelar di bawah hujan gerimis di sebuah mini stage di parkir timur Senayan. Bittertone membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Kami semua, penghayat dan pengamal selai mutiara, mendengarkan dengan khusuk. Ibumu duduk di kursi, yang sengaja kusiapkan agar dia tak terlalu lelah menopangmu yang dikandungnya. Di sampingnya seorang ibu muda yang juga sedang hamil, juga duduk di kursi. Lihatlah, mereka berdua adalah korban selera suami. Suami wanita muda itu berdiri di depan, mengawasi anaknya yang masih balita yang berlarian ke sana-kemari. Di bajunya –bocah mungil itu- tersemat sebuah pin PJID. Pearl Jam Indonesia.
Sedang aku, suami ibumu, berdiri tak jauh dari ibumu. takut kenapa-napa. Ini gempuran speaker raksasa pertamamu. Sebagai suami siaga, aku harus pandai membaca tanda-tanda. Aku harus sigap membawa ibumu menjauh jika dia menunjukkan tanda-tanda bosan atau tak suka. Tapi ibumu tenang-tenang saja, dan kamu juga, River. Bahkan hingga lagu Alive dan Yellow Ledbetter yang fenomenal itu.

Yellow Ledbetter. Inilah lagu yang membantuku melewati masa-masa sulit di zaman kuliah. Bagiku, ini adalah hymne yang hampir mantra, sekalipun aku tak benar-benar mengerti liriknya tentang apa. Tapi itulah Pearl Jam. Engkau tak harus mengerti untuk menyukainya. Seperti halnya kau tak akan mengerti Mohammad siapa yang mereka maksud di lagu Not For You. Restless soul, enjoy your youth. Like Mohammad hits the truth!, begitulah Eddie Vedder berteriak. Eddie sendiri pun tak pernah mengkonfirmasi Mohammad siapa itu. Tapi secara pribadi, saya menduga itu adalah Rasulullah Muhammad SAW, mengingat kedekatan Eddie Vedder dengan Yusuf islam a.k.a Cat Steven dan Nusrat Fateh Ali Khan.

Mungkin kamu bertanya, mengapa harus Pearl Jam? Ada jutaan band bertebaran di kolong langit ini, mulai dari yang menye’-menye’ seperti ST 12 hingga yang naudzubillah garang seperti Cradle of Filth. Kenapa harus Pearl jam?

Baiklah aku ceritakan, Nak.
Tapi besok ya.
Sudah hampir subuh. Ngantuk nih…

Tafsir Penderitaan dari Soda Gembira

Desember 25, 2009
(Rabu, 18 November 2009)
River, semoga kita semua dianugerahi umur panjang, Nak. Engkau, aku, ibumu, dan semua yang ingin melihatmu tumbuh.
Tak sabar ingin segera kucium pipimu dan kuhirup wangi susu dari tubuh mungilmu. Tak sabar ingin segera kutuntun tanganmu berjalan dan mengenali bunga-bunga. Tak sabar ingin segera kulepas engkau di kayuhan pertama sepedamu, setelah kita singkirkan roda bantu itu dan kau pun mulai mengakrabi giroskopis. Hingga suatu hari kamu mungkin akan kabur dan ngebut di jalan seolah-olah kau Valentino Rossi. Tak akan kularang kau, Nak. Hanya akan kuingatkan bahwa itu akan membahayakan orang lain, dan dirimu juga. Lalu kau akan patuh, dan mungkin juga tidak. Tak apa-apa.

Lalu semakin besar kamu mulai belajar menyembunyikan sesuatu. Kau mulai belajar menghisap rokok pertamamu. Tak perlu sembunyi, Nak. Sini aku kasih tahu rokok apa yang bagus untuk pemula sepertimu. Tapi jangan bilang-bilang ibumu ya. Bisa digampar kita nanti.

Bir? Jangan. Di trah kita tak ada yang peminum. Sekalipun sekarang sudah ada Bintang Zero. Ini larangan besar. Sekali kau lakukan, bisa dicoret dari kartu keluarga. Minum soda saja, ditambah sirup dan susu dia bisa jadi minuman paling gembira. Itulah dia soda gembira namanya.

Iya, seperti soda, kita harus selalu gembira. Jangan menganggap hidup ini terlalu rumit atau serius. Kata guruku, hidup itu hanya sarana untuk mencapai mati. Aerosmith bilang life is a journey, not destination. Eddie Vedder bilang, yes I understand that every life must end. As we sit alone, I know someday we must go. Ahmad Albar bilang hidup ini panggung sandiwara.
Siapa lagi? Dewi Persik? Dia nggak bilang apa-apa.

Nikmatilah hidupmu, Nak. Jadilah apa yang kau mau. Selama tidak dilarang agama, bebaskan dirimu memilih jalan. Kau bercita-cita jadi dokter seperti Che Guevara, silahkan. Mau jadi insinyur, oke. Pemadam kebakaran, oke. Terserah. Sekalipun kau ingin jadi peneliti yang mengumpulkan semua spesies ikan di sunga Amazone.
Pilih jalanmu, Nak. Kecuali kalau kau tak punya pilihan lain atau sedemikian putus asanya, jadilah politikus. Lihatlah, politikus sesungguhnya banyak yang putus asa. Kompensasinya mereka selalu menempatkan diri mereka sebagai orang yang serba penting. Cape deh!!!

Sebelum menikah dulu aku pernah berpikir untuk mencetak jundi-jundi. Tentara agama Allah. Kau akan berdiri di barisan paling depan untuk melawan para penentang. Berjihad. Berangkat ke Palestina. Membunuhi orang Israel. Hingga aku mulai berpikir ulang dan meredefinisi arti pertentangan. Ya, engkau akan selalu menjadi jundi. Tapi jundi untuk dirimu sendiri. Tentara untuk hati nuranimu sendiri. Apa gunanya engkau bersorban dan berjubah jika setiap hari kerjamu hanya mengobarkan perang dan kebencian.

Kalau kau merasa cukup tangguh, jadilah jurnalis. Jurnalis yang baik. Yang tidak suka merecoki urusan rumah tangga orang, atau membesar-besarkan gosip kiamat bakal datang di tahun 2012. Jurnalis yang baik membuat orang tenang tapi sekaligus waspada. Jurnalis enak loh. Jam kerjanya tak terbatas. 26 jam sehari. Jurnalis adalah penafsir kepedihan rakyat. Dia tulis yang dia lihat, yang dia rasakan. Dia bagi keresahannya. Seorang jurnalis mengemban sisa-sisa misi kenabian, hermeneutik. Menjaga peradaban umat manusia agar tetap berjalan harmonis dengan sesuatu yang mungkin dianggapnya wahyu.

Tapi seperti politikus, jurnalis juga kadang-kadang merasa sok penting. Hero complex. Seolah-olah persoalan bangsa atau dunia bisa selesai di tangannya, padahal tidak selalu juga.
Sok sibuk juga. Bilang sama istri tidak bisa pulang dengan alasan deadline atau rapat, padahal sibuk nge-blog dan main fesbuk di kantor. Hehehe. Kalau yang ini bukan aku tentunya. Aku ini jenis jurnalis yang rajin pulang dan tidak suka bohong sama istri. Dan suka minum soda gembira. Kecuali kalau sakit maag lagi kumat.

Ibu Juga Ingin Naik haji

Desember 25, 2009

(Minggu, 16 November 2009)

River, ini cerita tentang naik haji.
Aku belum menonton film “Emak Ingin Naik Haji”, padahal seorang teman baik mengundangku menonton premire-nya di awal November lalu. Tapi aku tak sempat, karena harus mengerjakan tugas di waktu yang ditentukan itu. Biarlah. Mungkin lain kali. Ada yang ingin aku bandingkan. Samakah perasaanku dengan tokoh anak yang emaknya ingin naik haji itu?

Ibuku juga belum naik haji, meskipun beliau sangat ingin. Ibuku PNS, bekerja sebagai hakim di kantor Pengadilan Agama di kota kami. Ia menyidang perceraian, kasus waris, dan beberapa kasus perdata yang tak aku mengerti. Di kota kami yang kecil, ibuku termasuk hakim angkatan pertama bersama dengan 7 atau 8 orang rekannya. Ayahku pegawai Bea Cukai di salah satu kantor kelas bawah di pelabuhan penyeberangan Bajoe. Konon, dulu dia pernah bertugas sebagai Petugas Pemberantasan Penyelundupan. Aku percaya, karena melihat beberapa foto dan sebuah dokumen yang membolehkan dia membawa senjata api dan senjata tajam.

Begitulah. Secara sosial, sebenarnya keluarga kami cukup terpandang di kota kecil itu. Kami juga tak hidup kekurangan. Makan kami cukup. aku bahkan sempat tumbuh sebagai anak penyandang obesitas. Tapi mengapa Ibu belum juga bisa naik haji, dan demikian pula Bapak yang akhirnya wafat tanpa pernah melihat tanah suci itu?

Ketika rekan-rekan kerja bapak dan ibuku satu persatu berangkat ke tanah suci, aku berpikir pasti ada sesuatu yang salah dengan cashflow kami. Mereka juga sama posisinya, sama-sama PNS, tapi toh mereka bisa punya uang lebih untuk bayar ONH. Kesimpulanku waktu itu, orangtuaku tak terlalu pandai mencari uang. Semakin aku bertambah besar, pikiran lain pun muncul. Aku berpikir, mungkin kamilah penghalangnya. 5 orang anak yang harus bersekolah dengan biaya dari gaji PNS. Bukan hal mudah mengongkosi 5 orang anak hingga ke bangku kuliah. Kami bukannya tak pernah mengalami masa-masa sulit. Beberapa waktu yang lalu, adikku yang rajin mengumpulkan surat-surat kiriman ibu waktu kami masih kuliah, menunjukkan salah satu surat kepadaku. Dalam surat yang biasanya menyertai uang kiriman bulanan itu, ibuku meminta aku berbagi dengan abangku. Kamu tahu, River, berapa jumlah uang yang harus kami bagi? 50 ribu! Waktu itu harga kartu perdana handphone saja sudah (atau masih) 250 ribu rupiah. Menetes airmataku membacanya. Sekarang, 50 ribu itu bisa aku habiskan dengan ibumu hanya untuk sekali makan di restoran A&W.

Bisa jadi karena film “Emak Ingin Naik Haji” itu sehingga aku menulis ini. Selaksa pertanyaan mengganggu di pikiranku. Kenapa Allah masih menahan langkah ibuku untuk melihat Makkah yang Karamah? Apa pasalnya?
Dan di khotbah Jumat kemarin, aku merasa menemukan jawabannya. Di mimbar itu, seorang khatib uzur yang bersuara lantang membahas tentang panggilan berhaji. Aku teringat ibuku, tiba-tiba.

Mungkin karena Allah masih menyayangi kami semua, River.
Sehingga aku diingatkan kembali arti wara’.
Ibuku adalah salah satu orang paling wara’ yang aku tahu. Wara’ yang aku pahami artinya berhati-hati terhadap segala hal yang meragukan. Jika ragu apakah sesuatu itu halal atau haram, maka orang yang wara’ akan meninggalkannya. Orang wara’ cenderung berpikir hitam putih, dan tak membiarkan sesuatu yang subhat mengganggu ibadahnya.

Kau akan dengar cerita ini, River. Uce’, pamanmu itu, adikku nomer 3, suatu malam pernah dibuat menangis oleh ibuku. Begini ceritanya:
Yang paling aku ingat adalah sinar warna kuning dari lampu 45 watt yang menerangi ruang tengah rumah kami. Malam itu, aku dan Uce, duduk melantai setelah makan malam selesai. Di tengah-tengah kami ada Ibu, seperti malam-malam sebelumnya: memeriksa tas sekolah anak-anaknya.
Adalah kebiasaan Ibuku untuk melakukan hal itu, sekedar memastikan anak-anaknya membawa pulang pelajaran dari sekolahnya, dan bukan hanya lumpur yang melekat di baju seragam.
Kalau tidak salah ingat, saat itu aku kelas 4 SD, dan Uce masih di kelas 2.

Ketika memeriksa tas sekolah Uce, Ibuku menemukan sebatang pensil yang masih baru. Merasa tidak pernah membelikan pensil seperti itu, Uce pun diinterogasi oleh Ibu.
“Ini punya siapa?” tanya Ibu.
Uce mengaku menemukan pensil itu di bawah bangkunya. Ibu marah. Dan setelah beliau memperingatkan kami semua untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami, malam itu juga Ibu menyuruh Uce mengembalikan benda itu ke tempat dia menemukannya.
Sekolah kami memang tidak terlalu jauh dari rumah, tapi kalau harus berkeliaran malam-malam demi sebatang pensil, sepertinya bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi Ibu tak mau tahu, baginya sebuah ketidakjujuran tak pantas dibiarkan menunggu pagi.

Meski samar-samar, tapi kejadian itu masih terekam dengan baik di kepalaku, karena aku yang menemani Uce ke sekolah malam-malam dan meletakkan kembali pensil itu di bawah bangkunya.
Entah di jalan menuju atau pulang, seingatku Uce menangis malam itu….

ini cerita yang lain lagi, River. Ibuku pernah dengan sangat terpaksa harus membuang makanan. Waktu itu, Ibu baru pulang kantor dan menemukan beberapa makanan enak di meja. Aku ingat saat itu ada nenek yang menjaga rumah. Kata Nenek, barusan ada orang datang yang mengantarkan makanan itu. Orang yang bukan famili karena Nenekku sama sekali tak mengenalnya.
Saat itu ibuku sedang menangani kasus sengketa, dan mencurigai makanan itu dibawa oleh orang yang sedang berperkara.
“Dia tak akan membawakan makanan itu kalau saya bukan hakim,” kata ibuku. Dan dengan dengan sangat terpaksa, makanan itu berakhir di selokan di belakang rumah.

Begitulah cara ibuku mengajarkan wara’. Bahkan dalam hal-hal yang mungkin menurutku sepele. Saat berbelanja, misalnya, Ibu tidak akan menawar terlalu sering. Paling banter sekali, jika tak dikasih ibu akan mencari pedagang lainnya atau membelinya jika memang butuh sekali. Menurut ibuku, keraguan seorang pedagang bisa jadi akan memberatkan pembelinya kelak di akhirat.

River anakku, aku menulis ini bukan untuk membanggakan ibuku, nenekmu itu. Ibuku juga manusia biasa, terkadang ada juga hal-hal darinya yang tidak kami sepakati. Tapi itu tak sedikitpun mengurangi kecintaan kami padanya.
Tentang cinta, sini kuceritakan lagi padamu suatu cerita tentang bagaimana dia sangat mencintaiku, mencintai kami semua dan berharap kami dijauhkan dari hal-hal buruk. Setamat SMA, saat akan memilih jurusan di universitas, aku punya 2 pilihan lain selain masuk ke jurusan Komunikasi dan menjadi wartawan. Aku bisa saja mengikuti jejak ayah dengan mendaftar di program kedinasan Bea Cukai atau masuk di jurusan Hukum. Tapi apa kata ibuku? Ibu melarangku mengikuti jejaknya maupun jejak ayah.
“Di masa datang, hidupmu kelak akan lebih banyak godaannya dibanding kami sekarang. Mama tak yakin kamu akan sekuat kami mengadapi godaan-godaan itu.” kata ibuku kepadaku.

Jadi mungkin itu jawabannya. Mungkin uang yang diam-diam aku kumpulkan untuk membantu biaya ibuku naik haji, belum benar-benar bersih.

(jakarta, 16 November 2009, ditulis saat tidak bisa tidur karena batuk mendera tenggorokanku seperti maset Tramontina. juga sebagai hadiah ulangtahun ke-29 untuk adikku Uce’ a.k.a Muhammad Yusran Mukrim yang mungkin sudah lupa soal pensil itu)