ketiga orang itu

saya tahu sangat salah mengharapkan sesuatu yang buruk agar terjadi bagi orang lain. tapi kali ini saya harus membuat pengecualian, setelah terlebih dahulu merevisi konsep buruk itu sendiri dalam hati dan pikiran saya. dalam beberapa remang malam hampir pagi, saya kadang berharap ketiga orang itu segera saja dieksekusi.
saya menunggu-nunggu kapan juru tembak itu menarik picu. dan mengakhiri riwayat mereka. saya merasa cukup lelah, dan bisa merasakan betapa lebih lelahnya teman-teman yang di cilacap.

ketiga orang itu. beberapa bulan lalu saya bertemu mereka di nusakambangan, wawancara dengan mereka. dan saya membawa pulang kemarahan. sebagai orang islam. sebagai umat manusia. berbulan-bulan setelah itu, di televisi, setelah shalat idul fitri kemarin, saya melihat salah seorang dari mereka masih meneriakkan kata-kata dengan rima yang sama. muklas namanya. dia berjanggut dan bersorban, dan dengan begitu merasa bisa mengobarkan kebencian. atas nama Allah. seperti banyak ustadz lainnya.

imam samudra. saya juga latah memanggilnya “ustadz” ketika itu. sesekali Kang Azis. saya tanya tak pernahkah sekali waktu tergerak hatinya untuk melihat mata istri atau anak orang-orang yang mereka jadikan korban atas nama jihad? saya tak suka jawabannya. dia menyebut tentang kafarat. tak perlulah saya tulis.

hanya amrozi yang tak banyak bicara. dia yang di banyak berita dijadikan ikon, malah terlihat tenggelam oleh dominasi dua sekondannya itu. atau mungkin dia memang pendiam. tak tahulah saya.

dan saya masih dipenuhi bimbang untuk menyetujui atau tidak hukuman mati bagi ketiga orang itu. bukannya saya tidak berusaha untuk memahami. saya berusaha. kadang saya berpikir, mungkin saya akan seperti mereka juga jika seandainya saya telah melihat apa yang mereka lihat. saya tidak pernah ke afghanistan atau irak dan melihat orang islam dibantai. saya hanya pernah mendengar cerita ambon dan poso dari kawan-kawan yang pernah terjebak perang di sana.

kecuali kau terlalu sering nongkrong di starbucks, banyak hal yang bisa membuat dendammu membatu. kata imam samudra, dia berbuat seperti itu salah satunya karena ada seorang wanita muslimah yang diperkosa oleh orang yang disebutnya kafir di Batam. Saya mendengar sendiri dia bilang itu.

entahlah. saya bingung dalam taraf yang cukup memusingkan.

lalu seorang teman mengirimi saya sms. kasih saya pendapatmu tentang hukuman mati, katanya. dan saya membalas: jika yang kau maksud adalah ketiga orang itu, saya setuju mereka dihukum mati. baik buat mereka, dan baik pula untuk korban-korban mereka. hukuman itu mungkin akan segera memenuhi rasa keadilan keluarga korban teror mereka, dan mereka bertiga juga akan segera bertemu dengan ainul mardiah, bidadari surga, seperti yang mereka cita-citakan.

lucu. saya tidak bisa paham mengapa Allah Yang Maha Rahman akan menghadiahimu bidadari cantik setelah engkau membunuh ratusan orang.

begitulah saya menjawab. padahal jujur, saya sesungguhnya berharap ini seperti pilkada dan saya boleh abstain.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

2 Komentar pada “ketiga orang itu”

  1. rendra Says:

    sepakat
    gw juga abstain chan…

  2. just pretty Says:

    ga banyak komen ya seperti biasa…[takut] atau [enggan]…hehe gue sebenarnya kepingin abstain, gw sendiri ngeri kalo komen macem2 dan ada yang neror, huh bisa 2 jadi sasaran seperti seseorang di satu milis yang gue ikuti…tapi, bagi gue, membunuh ratusan orang tidak mungkin berbuah bidadari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: