Arsip untuk November 2008

badut dari surga

November 17, 2008

..akan datang.. akan datang…

Iklan

formasi 100-3-100

November 9, 2008

dua tahun lalu, di depan monumen korban bom Bali di Kuta, saya berdiri menghitung nama-nama yang tertera di situ. 200 lebih.

dini hari ini, saya membayangkan mereka berdiri membuat barisan seperti penyambut tamu pengantin. 100 di kiri, 100 di kanan. menyambut 3 orang yang baru saja berangkat, dan akan segera menginjak karpet merah mereka.

[breaking news eksekusi mati amrozi cs: tvone, CNN, Trans7, ANTV…]

ketiga orang itu

November 4, 2008

saya tahu sangat salah mengharapkan sesuatu yang buruk agar terjadi bagi orang lain. tapi kali ini saya harus membuat pengecualian, setelah terlebih dahulu merevisi konsep buruk itu sendiri dalam hati dan pikiran saya. dalam beberapa remang malam hampir pagi, saya kadang berharap ketiga orang itu segera saja dieksekusi.
saya menunggu-nunggu kapan juru tembak itu menarik picu. dan mengakhiri riwayat mereka. saya merasa cukup lelah, dan bisa merasakan betapa lebih lelahnya teman-teman yang di cilacap.

ketiga orang itu. beberapa bulan lalu saya bertemu mereka di nusakambangan, wawancara dengan mereka. dan saya membawa pulang kemarahan. sebagai orang islam. sebagai umat manusia. berbulan-bulan setelah itu, di televisi, setelah shalat idul fitri kemarin, saya melihat salah seorang dari mereka masih meneriakkan kata-kata dengan rima yang sama. muklas namanya. dia berjanggut dan bersorban, dan dengan begitu merasa bisa mengobarkan kebencian. atas nama Allah. seperti banyak ustadz lainnya.

imam samudra. saya juga latah memanggilnya “ustadz” ketika itu. sesekali Kang Azis. saya tanya tak pernahkah sekali waktu tergerak hatinya untuk melihat mata istri atau anak orang-orang yang mereka jadikan korban atas nama jihad? saya tak suka jawabannya. dia menyebut tentang kafarat. tak perlulah saya tulis.

hanya amrozi yang tak banyak bicara. dia yang di banyak berita dijadikan ikon, malah terlihat tenggelam oleh dominasi dua sekondannya itu. atau mungkin dia memang pendiam. tak tahulah saya.

dan saya masih dipenuhi bimbang untuk menyetujui atau tidak hukuman mati bagi ketiga orang itu. bukannya saya tidak berusaha untuk memahami. saya berusaha. kadang saya berpikir, mungkin saya akan seperti mereka juga jika seandainya saya telah melihat apa yang mereka lihat. saya tidak pernah ke afghanistan atau irak dan melihat orang islam dibantai. saya hanya pernah mendengar cerita ambon dan poso dari kawan-kawan yang pernah terjebak perang di sana.

kecuali kau terlalu sering nongkrong di starbucks, banyak hal yang bisa membuat dendammu membatu. kata imam samudra, dia berbuat seperti itu salah satunya karena ada seorang wanita muslimah yang diperkosa oleh orang yang disebutnya kafir di Batam. Saya mendengar sendiri dia bilang itu.

entahlah. saya bingung dalam taraf yang cukup memusingkan.

lalu seorang teman mengirimi saya sms. kasih saya pendapatmu tentang hukuman mati, katanya. dan saya membalas: jika yang kau maksud adalah ketiga orang itu, saya setuju mereka dihukum mati. baik buat mereka, dan baik pula untuk korban-korban mereka. hukuman itu mungkin akan segera memenuhi rasa keadilan keluarga korban teror mereka, dan mereka bertiga juga akan segera bertemu dengan ainul mardiah, bidadari surga, seperti yang mereka cita-citakan.

lucu. saya tidak bisa paham mengapa Allah Yang Maha Rahman akan menghadiahimu bidadari cantik setelah engkau membunuh ratusan orang.

begitulah saya menjawab. padahal jujur, saya sesungguhnya berharap ini seperti pilkada dan saya boleh abstain.