Cacat

Dalam mata yang diserang kantuk, saya melihat dia di dalam mobil sedan merah. Seorang laki-laki turun lebih dulu, membuka bagasi dan mengeluarkan kursi roda yang masih terlipat. Setelah itu dia menyusul turun, berpindah dari jok depan mobil ke kursi roda.

Laki-laki itu, mungkin suaminya atau pacarnya atau kakaknya, mendorongnya kemudian. Dia menguap kecil  menandakan tidurnya belum paripurna hari ini. mungkin dia harus bangun sahur, atau bangun memasakkan sahur. Saya tidak tahu. Hanya sebegitu saya bisa melihatnya. setelah itu dia menghilang di balik bingkai kaca yang berembun, disebabkan hujan yang membantai Jakarta dini hari tadi.

Saya tidak mengenalnya. mungkin dia dari lantai 5,6, atau 7. Entahlah. yang pasti bukan dari lantai 3, tempatku bekerja. Di lantaiku, semua bisa berjalan normal, kecuali mesin Automatic News Networking (ANN) yang sudah dua hari ini mogok tidak mau jalan, yang menyebabkan semua proses siaran berita pagi harus dikerjakan manual, dan software canggih sekian ratus juta itu terpaksa digantikan oleh Microsoft Excel, juga mesin prompter harus diinput satu-satu supaya presenter di studio bisa tetap tampak pintar dan hapal di luar kepala berita yang dibawakannya.

Dan perempuan di kursi roda itu, mengingatkanku kembali kepada guru peradaban Aristoteles, yang mengkhotbahi murid-muridnya pada suatu pagi: tak ada yang bercacat selain pikiran, Anakku. Hanya dia yang jahat yang boleh disebut cacat.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: