Salahkah Jadi Pelacur?

Sudah beberapa hari ini kami selalu mendapat pasokan berita razia Pekerja Seks Komersil (PSK) dari koresponden dan kontributor Jakarta maupun daerah. Beberapa hari menjelang Ramadhan, di berbagai tempat polisi maupun Satpol PP rajin menggelar razia. Tugas saya antara lain adalah mem-preview gambar-gambar liputan itu sebelum diedit visual. Editor visual kadang bertanya pada saya, “Mas, ini mukanya di-blured nggak?” Jika mereka bertanya begitu, pasti saya minta di-blur. Saya suka tidak tega melihat PSK-PSK itu. Begitu-begitu mereka juga pasti punya keluarga yang tak mau melihat mereka masuk TV dengan cara seperti itu.

Tadi malam ada satu lagi berita razia PSK yang bikin saya sedih. Bukan pada liputan atau wartawannya, tapi pada cara orang-orang yang merazia itu. Mereka sampai masuk ke kamar-kamar kos atau rumah di lokasi yang dicurigai sebagai sarang PSK. Banyak yang kaget karena dibangunkan malam-malam, diminta menunjukkan KTP, disuruh berpakaian, lalu diangkut paksa dengan mobil ke kantor entah apa itu. Kantor itu mungkin isinya moralis atau nabi semua, sehingga merasa bisa mendudukkan orang di lantai seperti itu hanya karena mereka bekerja menjajakan kelamin.

Razia-razia seperti itu memang semakin sering digelar belakangan ini. Baik itu di jalan-jalan maupun yang langsung jemput bola seperti tadi. Alasannya untuk menjaga kesucian Ramadhan. Ya Allah yang Maha Mengetahui, ampunilah saya, karena tidak bisa memahami cara pikir mereka. Orang-orang pintar itu, mereka telah merendahkan Ramadhan-Mu dengan mengukur kesuciannya berdasarkan seberapa banyak PSK yang bisa digaruk!

Saya pernah punya sahabat yang dianggap PSK, meski saya tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kadang ada saja orang yang nanya, “Kamu berteman sama dia, Chan? Dia itu kan.. bla.. bla…” Atau ada yang cerita, “Iya, dia di SMA-nya dikeluarin gara-gara… bla.. bla.. bla…”
So what! Kalaupun dia benar PSK, memangnya kenapa? Apa bedanya dia dengan kalian? Kalau kalian bekerja dengan pikiran dan sedikit tenaga, dia bekerja dengan kelamin dan sedikit erangan. Sama-sama untuk bertahan hidup juga, bukan?

Ada juga teman SD saya yang sekarang jadi PSK. Saya pernah melihat dia berkeliaran di jalan jam dua pagi. Saya ingin menegurnya, tapi takut membuat dia merasa tidak nyaman. Saya juga khawatir kalau dia melihat saya, dia akan berubah dari PSK menjadi PSTK atau Pekerja Seks Tidak Komersil. Paling tidak mungkin dia akan kasih saya harga teman. Hehehehe…

Ya begitulah, menjelang Ramadhan ini, banyak orang yang tiba-tiba merasa dirinya lebih saleh daripada orang lain. Ustadz-ustadz yang berdiri di mimbar mesjid ramai-ramai menghakimi orang-orang berdosa di luar sana, atau menakut-nakuti jemaahnya akan masuk neraka. Mereka mungkin lupa, bahwa Rasulullah Muhammad tidak berdakwah seperti mereka. Mudah saja berdakwah di depan orang-orang yang sudah duduk manis di mesjid, yang susah adalah mengajak orang untuk datang ke mesjid. Dakwah Rasulullah bertahun-tahun adalah untuk mengajak orang ke mesjid. Kalau hanya menceramahi orang-orang berbaju koko mahal di majelis-majelis pengajian yang terorganisir, saya pikir kontestan Pildacil juga bisa melakukan itu.
Sekalinya ada da’i yang langsung terjun berdakwah ke sarang maksiat, dianggap aneh. Ulama-ulama mapan menganggap dakwah seperti itu akan lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, dan hanya akan menimbulkan fitnah. Ibaratnya meneteskan madu ke dalam segelas racun. Di Surabaya, ada ustadz yang dianggap sableng karena berdakwah di lokalisasi Bangunsari.

kembali ke masalah razia PSK. Saya bukan liberalis tapi tidak juga menentang atau mendukung hukum ala Taliban. Siapalah saya ini. Kalau misalnya diminta, “Hei kamu, coba kasih solusi supaya PSK-PSK tidak perlu dirazia?” Wah, saya sudah pasti teler duluan. Mbok ya, mengurusi diri sendiri saja susahnya minta ampun, apatah lagi kalau disuruh kasih solusi bagaimana cara menghapuskan profesi yang usianya hampir setua peradaban ini sendiri.

Saya hanya berharap, akan ada orang seperti Nabi Isa Alaihissalam, yang ketika seorang pelacur akan dihakimi massa, Nabi Isa segera maju dan menawarkan batu. “Ayo, siapa yang merasa dirinya lebih bersih daripada perempuan ini, silahkan melempar pertama kali.”

Akhirul kalam, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika saya ada berbuat kesalahan yang menyakiti hati atau tubuh teman-teman sekalian. Untuk teman-teman yang berpuasa, selamat menjalankan ibadah puasa, baik itu yang mengikuti NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, maupun pemerintah….

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

9 Komentar pada “Salahkah Jadi Pelacur?”

  1. uwie Says:

    ” Di Surabaya, ada ustadz yang dianggap sableng karena berdakwah di lokalisasi Bangunsari. ” …. eheheh udah tahu belum mas lokalisasinya, kalo belum tar ke surabaya mampir aja saya anterin deh, gratis!!! 😀 😀

  2. ninus Says:

    seperti halnya semua pekerja, PSK kan butuh THR, mereka mau dapet dr mana kl dirazia cuma krn orang2 lain risih dgn kehadiran mereka? kalau ingin pelacuran hilang, ya jangan cari pelacur, nanti itu industri bakal mati sendiri.
    pertanyaan saya, bisakah kita mendapatkan berita yang tidak hanya memuat lapisan terluar dari satu permasalahan?

  3. nuru'ji Says:

    Bro Chan..
    Saya hanya mencari sesuap nasi Chan,.. mereka juga manusia…

  4. cheema Says:

    kalo sudut pandangnya dari mencari nafkah berdasarkan dalil dan qu’ran itu jelas ‘salah’ .
    tapi k ochan ga liat dari situ kan?

  5. yati Says:

    selamat puasa chan…maaf kalo ada salah2…

  6. Pretty M Says:

    begitu deh, orang menghakimi supaya merasa diri lebih baik, bukan begitu ?
    bikin berita sisi lain psk dong kalo gitu 🙂 (a blunt writings, really like this mas Ochan),

  7. rani Says:

    hehe, saya kok malah jadi inget ini ya 😀

    lama2, selain harinya yg lebih panjang, saya kok jadi lebih nyaman berpuasa di negeri so-called kafir cum kumpeni ini yah? bisa menangguk pahala dgn bersabar melihat orang2 makan dan mencium wanginya kopi *glk* kerja tetap full (walopun kuliah jadi terkantuk2) dan gada yg ngeliatin saya makan di kantin dgn tatapan aneh ketika saya emang ga boleh puasa. knp beragama kolektif jadi terasa ga nyaman?

  8. annekepriskila Says:

    Saya hanya berharap, akan ada orang seperti Nabi Isa Alaihissalam, yang ketika seorang pelacur akan dihakimi massa, Nabi Isa segera maju dan menawarkan batu. “Ayo, siapa yang merasa dirinya lebih bersih daripada perempuan ini, silahkan melempar pertama kali.”

    “Bisakah kita berlaku seperti itu?” Menghakimi memang lebih mudah…

    Salam kenal ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: