Dia

Begitu saya bisa berpikir, saya segera mengenalnya sebagai orang yang selalu ingin membahagiakan keluarganya. Istrinya, anak-anaknya, adik-adiknya, ibunya yang masih hidup, dan ayahnya yang telah pergi tak lama setelah dia bisa memberinya cucu pertama.

Saya tahu, dia berjuang-juang mati-matian untuk itu. Kadang-kadang dengan caranya yang tampak aneh bagi saya. Dia mengisi rumahnya dengan kesenangan, ketika semua orang di sekitarnya masih bergelut dengan hidup yang keras. Dia membawa pulang Mitsubhisi Colt yang dia beri nomer DD 1048, yang anak-anaknya bikin jadi rumah-rumahan dan sesekali pura-pura menyetir. Dia bawa pulang Betamax Video Player sehingga ruang tamu rumahnya setiap hari penuh anak-anak tetangga yang menonton Megaloman atau Gaban. Gratis. Dia bawa pulang aquarium besar dengan ikan-ikan gendut untuk ditaruh di ruang tengah, supaya anak keduanya tidak lagi keluar mencari ikan cupang di kubangan bekas galian pabrik batu bata. Dia beli kompor gas Rinnai keluaran pertama lengkap dengan tabung gasnya, jauh sebelum pemerintah menyuruh konversi minyak tanah. Dia beli rice cooker ukuran paling besar, yang akhirnya dibiarkan menganggur karena tak cukup untuk kebutuhan 11 orang di dalam rumahnya. Akhirnya kembali ke kukusan dandang yang bisa dipakai masak untuk dapur umum.

Dia punya senapan angin Benjamin. Dia punya kamera Kodak. Dia beli buku “Seratus Tokoh” yang legendaris itu untuk anak-anaknya yang bahkan belum bisa baca. Untuk istrinya, dia beli permadani Persia dan guci-guci Cina dari sebuah kapal dagang Singapura yang merapat di dermaga dekat kantornya.

Ketika terjadi malaise ekonomi di rumah tangganya, sebagian benda-benda itu pernah terpaksa harus menginap di Pegadaian. Anak-anaknya dan anak-anak tetangga kehilangan tontonan Voltus. Tapi dia tetap sempurna untuk disebut sebagai suami dan ayah yang baik.

Dia sayang bukan main pada anak-anaknya. Tak satu pun anak-anaknya pernah merasakan pukulan tangannya. Dia sering bawa pulang lelucon yang bikin anak-anaknya tertawa terpingkal. Dia sering bawa anak-anaknya jalan bertamasya atau sekadar makan di warung kaki lima. Bahkan ketika dia tak lagi punya mobil tapi hanya sebuah motor dinas butut yang tak kuat menanjak. Saya pernah menemaninya bertugas ke sebuah pabrik gula yang harus melewati jalan  bergunung-gunung. Motor dinasnya tidak kuat menanjak dan terpaksa ditipkan ke rumah penduduk dan selanjutnya kami menumpang truk.

Suatu hari saya menemaninya mengunjungi anak sulungnya yang sedang berkemah pramuka di sebuah desa, dan di perjalanan ke sana kami dapat masalah karena tak sengaja dia menyenggol kaca spion sebuah angkot dengan bahunya dan si sopir minta ganti. Dia menggantinya setelah menghitung sisa uang di dompetnya masih cukup untuk membawa kami berdua pulang. Si anak sulung tak tahu kejadian ini.

Dia selalu tertawa, seberat apapun  situasi yang dia hadapi. Dia selalu menunjukkan betapa cintanya kepada istrinya. Sebelum istrinya pulang kerja, dia sudah ada di beranda kantor istrinya siap menjemput, ngobrol apa saja dengan semua teman-teman istrinya, yang kadang membuat istrinya ingin segera beranjak dari situ. Dia pernah ngasih baju Korpri dan sepatu PDH miliknya untuk seorang pesuruh di kantor istrinya, dan istrinya tidak tahu.

Beberapa hari sebelum tepat dua tahun lalu, dia duduk di pinggir ranjang dengan kepayahan. Minta maaf karena tidak bisa mengantar saya yang sudah harus berangkat lagi. Dia cuma membekali selarik doa yang menurutnya bisa mempertemukan kami lagi sebelum ajal menjemputnya.

Saya membaca dan menghapal doa itu, di perjalanan, di pesawat, di tempat tujuan. Selalu. Kadang dengan gemetar.

Tapi tidak semua doa manjur, kiranya. Apalagi jika dirapal oleh orang penuh dosa seperti saya. Dua tahun lalu, saya pulang. Memberi ciuman di keningnya yang dingin. Saya pulang sebagai anak yang kalah.

Tenang di sana ya, Pak…

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

10 Komentar pada “Dia”

  1. hafidzohalmawaliy Says:

    Segala sesuatunya kembali pada-Nya, karena dunia sementara. Bukan begitu Kang.. Dan ia telah menjalaninya dengan BAIK, maka tersenyumlah untuk “kekalahanmu” yang juga “kemenanganmu” menurutku.. Kau orang yang beruntung karenanya.. 🙂

  2. atut Says:

    Bahagia disana ya, pak……..!

  3. pewariswaktu Says:

    dua tahun yang lalu, nenek saya yang penuh senyum juga pernah berkata: seperti kerbau, dimana berkubang, disitu senang! saya percaya, nenek saya dan bapak kamu, sudah berbahagia sejak dari sini. saya percaya!

  4. yati Says:

    semoga selalu tenang di sisi-Nya, Amin

  5. uwie Says:

    Tdk ada doa yg tdk manjur…. ALLOH itu penuh CINTA kok..jd suka ga tega gitu kalo ga dengerin doa hamba2nya apalagi doa untuk orang tua.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku mengikuti sangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya sepanjang ia ingat kepadaKu.”

    (h.r. Bukhari dan Muslim)

    Dan jika kamu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadhiratNya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.”

    (h.r. Ahmad)

  6. Pretty M Says:

    mas ochan, kisah ini mengharukan sekali. Begitu banyak kebahagiaan yang kita miliki dari orangtua kita. Saya tak habis – habis bersyukur punya Ayah seperti Ayah saya dan mas Ochan beruntung punya bapak yang begitu baik dan penyayang.
    Semoga Bapak nya selalu tenang dan bahagia dan terang di sisi Tuhan YME. Amin.

  7. vira Says:

    saya terharu. walaupun belum tergerak untuk memeluk ayah saya yang masih di sini.

  8. abi Says:

    maaf… kamu tidak pernah cerita.
    saya merasa bersalah chan.
    semoga Allah merahmatinya

  9. babo Says:

    nice story, bro…

  10. Dani 99 Says:

    Mengharukan….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: