Gerhana Kemerdekaan

Pagi-pagi sekali. Saya menengok ke langit barat. Bulan perlahan-lahan mulai meninggalkan penumbra. Bentuknya sabit seperti sering digambarkan di komik. Gerhana hampir selesai. Jam dua lewat tadi, saya dan Albert Wiliancoen Sumilat, menonton bulan yang sama itu memasuki penumbra. Tapi kami tidak bisa menikmati puncak gerhananya, karena saya harus bekerja cari nafkah, dan Albert Williancoen Sumilat telah menghilang entah kemana. Meninggalkan saya kelaparan dan kedinginan akibat gempuran AC biadab. Dan tega-teganya pula dia memberi saya rokok menthol.

Roundtable kali ini, alhamdulillah, memberi saya kesempatan luas untuk menikmati malam. Atas nama tour of duty, saya kena rolling ke Reportase Pagi. Artinya, setidaknya hingga enam bulan ke depan, saya akan jarang ketemu matahari. Ada banyak berita hari ini. Kecelakaan kereta di Lampung, razia diskotik di Banten, dan Markis Kido cs dapat emas di Olimpiade.

Ada kabar angin juga. Dalam waktu dekat, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia akan diusir lagi, mengulang peristiwa tahun 2004 dan 2006. Waktu itu sekitar 100.000 orang TKI dienyahkan oleh Pemkot Kinabalu, Negara Bagian Sabah. Mereka diusir lewat Tawau dan terlunta-lunta di penampungan Nunukan. Dan tahukah engkau wahai kawan? 80.000 orang di antara mereka berasal dari daerah yang sama denganku.

Kampungku memang sentra eksportir TKI. Sedari kecil, saya sudah sering mendengar nama Tawau disebut-sebut seperti mantra harapan. Setiap tahun, banyak tetangga dan kerabat kami yang berangkat ke sana mengadu nasib. Indo Rama, yang pernah bekerja pada nenek buyutku, semua anaknya masih berada di Tawau. Sesekali mereka mengirim satu dua kaleng Milo minuman sihat bertenaga, dan surat dengan alamat yang terdengar keren: somewhere Plantation.

Bertahun-tahun kemudian, ketika menyusup ke Tawau setelah meliput konflik Ambalat, saya baru tahu seperti apa rupa tempat yang mereka sering tulis di alamat surat itu. Banyak dari TKI itu yang tinggal dalam barak-barak tripleks di tengah lahan perkebunan sawit. Tidur dalam dingin dan ketakutan bakal kena razia Polisi Diraja. Mereka bertahan demi ringgit yang nilainya tidak lebih besar dari rupiah. Memang banyak yang pulang kaya, tapi yang pulang mati juga tidak sedikit.

Adapun saya, akhirnya menyerah pada AC biadab, jadi saya keluar sebentar mencari bihun goreng dan segelas ovaltine hangat. Di lobi, saya bertemu teman-teman yang mau berangkat tugas live Hari Ulang Tahun Kemerdekaan di Istana hari ini. Ada Pak Yono, office boy kantor, yang tampak masih terkantuk-kantuk. Dia juga akan ikut ke istana untuk meng-asisteni teman-teman yang bertugas di sana nanti.

“Titip colek sama Pak SBY, Pak Yono,” kata saya. Dia tertawa sambil merapatkan jaketnya.

Kemarin saya dengar dari Nita, kalau protokoler istana mengubah semua bentuk tenda di  upacara HUT RI kali ini. Tahun ini, semua tenda yang dipakai beratap rata, tidak boleh lagi ada tenda yang atapnya lancip seperti tahun lalu. Konon, itu karena pandangan Pak SBY terhalang ke arah Monas gara-gara tenda atap lancip itu, sehingga Yang Mulia tidak bisa melihat konfigurasi-konfigurasi wajahnya dan istrinya.

Pagi masih sangat muda. Di taman kurma depan kantor, saya melihat ada tiga orang yang tertidur berjejer. Meringkuk kedinginan. Saya tak tahu siapa mereka, yang pasti bukan karyawan. Di emperan dekat apotik juga ada.

Gila! Sudah 63 tahun negara ini merdeka, masih ada juga orang yang tidur beratap langit. Mereka bahkan tak punya tenda yang ujungnya lancip atau rata. Tak terlihatkah mereka oleh para pemimpin dan politisi negara ini?

Dan pagi ini, ketika SBY berdiri di tribun kehormatan memimpin upacara, semoga tak ada lagi yang menghalangi pandangannya seperti umbra gerhana bulan. Semoga terlihatlah olehnya rakyatnya yang tertidur di emperan. Semoga terlihatlah olehnya nasib ribuan rakyat Indonesia yang masih terlunta-lunta di negeri orang, yang diuber-uber seperti tikus.

Selamat HUT Kemerdekaan RI yang ke-63. Besok, berarti sudah 2 tahun bapakku wafat. Bapak, di situ ada upacara jugakah? Adakah engkau juga merayakan kemerdekaan di situ Bapak? Kemerdekaan dari dunia, yang pasti.

Sampai jumpa di surga, Bapak. Jika kita tidak berselisih jalan.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

3 Komentar pada “Gerhana Kemerdekaan”


  1. salam saya untuk bapak dalam kenangan, dan yang senantiasa menjaga kenangan dalam khidmat…

  2. orange Says:

    apakah rokok menthol, juga akan membuatmu berselisih jalan. ? coba tanya MUI

  3. yati Says:

    bah…itu alasannya tenda diganti? ckckck…yang mulia…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: