Bangun Pagi

Hari ini saya bangun pagi, tapi tidak terus mandi. Selesai shalat subuh, saya langsung ke pantry, bikin teh hangat, lalu nongkrong di teras belakang kantor. Keliling cari rokok, tapi belum banyak siapa-siapa di kantor sepagi ini.  Baru ada Indri dan Irwin yang mau berangkat liputan luar kota, tapi mereka berdua tidak merokok. Ada juga Abe yang nginap di kantor sama seperti saya, tapi dia lupa ditaro dimana itu rokoknya. Dia sibuk ngecengin Nadya, reporter cantik yang sedang bertugas PA untuk Reportase Pagi. “Dia ngeliat ke gue, Bang!” katanya bangga. Kata Abe, Nadya dalam balutan sweater putihnya tampak sangat kontras di tengah-tengah gerombolan orang-orang yang belum mandi.

Sebenarnya saya tidak merokok, tapi karena dihempas hawa dingin 18-19 derajat sepanjang malam membuatmu akan rela menghisap knalpot sekalipun demi satu dua kepul asap hangat. Di pelataran kantor, panggung yang disiapkan untuk ulang tahun Insert masih sedang dikerjakan. Entah seperempat jadi, setengah jadi, atau tiga perempat jadi, yang pasti masih belum jadi. Stage crew yang kelelahan tampak tertidur di mana saja mereka bertemu bidang datar. Besok atau lusa pasti akan ramai sekali. Percayalah.

Tadi malam saya tidur cepat. Migren parah membuat saya tumbang. Ada bagusnya juga, berarti saya bisa mendapatkan kasur empuk dan bantal lebih banyak dan lebih dulu dari siapa pun. Di lantai tempatku bekerja ini hanya ada dua ruang tidur dengan masing-masing dua kasur. Saya lebih suka tidur di ruang yang sebelah kiri, karena ruang tidur sebelah kanan itu konon ada hantunya. Begitu kata teman-teman yang punya ilmu terawang. Saya sendiri, alhamdulillah, belum pernah melihat. Yang saya tahu, ruang itu pernah jadi tempat tidurnya Sumanto si pemakan mayat waktu dia dibawa ke sini dua tahun lalu untuk sebuah wawancara eksklusif setelah diungsikan dari hotel karena dikejar-kejar stasiun tivi lain.

Oya, sampai di mana tadi? Oh sampai saya dapat migren itu ya. Ok. Saya dapat migren itu karena terlalu lama berjemur di Monas. Jadi ceritanya, kemarin saya ditugaskan jagain live report dari dari pelataran Monas depan istana presiden. Kemarin itu memang ada demo besar-besaran massa yang tergabung dalam Forum Umat Islam dan sejumlah forum lain untuk menuntut Presiden SBY segera membubarkan Ahmadiyah. FPI? sudah pasti ada. Saya beberapa kali kena kibas bendera mereka yang besar-besar.  Di undangannya sih katanya akan dihadiri 15000 orang. Tapi kemarin itu dengan cara mencongak sederhana sekalipun kita bisa tahu kalau jumlahnya tidak sampai sebesar itu. Mungkin hanya sekitar 7000-an orang saja. Dari bendera yang berkibar, saya mencatat ada Gerakan Reformis Islam, Mahabbatussholihin, Laskar Aswaja, dan Laskar Empati Pembela Islam. Yang tidak ada Laskar Pelangi, karena mereka sibuk maen film.

Di atas mobil penuh speaker yang mereka jadikan panggung utama, para habib dan pemimpin massa bergantian berorasi yang semuanya diarahkan ke istana presiden. Mereka menyeru kepada istana saja sebenarnya, karena presiden malah sedang di Ancol. Presiden baru balik ke istana sekitar jam dua siang untuk menerima Paskah Suzetta dan MS. Kaban yang dia panggil karena terkait kasus suap. Ah, pejabat-pejabat itu.  Di istana ada Chris Rey dan Danu yang jaga, sedang di luar ada Tijo, Taufik, Dada, Al, dan saya bersama tim teknis dari TS dan Transmisi dengan segala SNG (Satellite News Gathering) dan News Van. Tipi-tipi lain juga semua sudah pasang SNG masing-masing. Yang paling besar dan makan tempat punya kami, sedikit lebih besar dari punya Indosiar.

Ada hadir Ustad Abu Bakar Basyir yang pernah dipenjara dengan tuduhan pemufakatan jahat, Habib Al Habsi yang pernah dipenjara karena dituduh meledakkan Borobudur, dan habib-habib lain yang belum pernah dipenjara. Habib Riziek tentu tak hadir, karena dia sedang ditahan sama Polda dan dititipkan di tahanan Kejati.

Para pemimpin massa terus berorasi bergantian. Mereka berjejer di atas bak terbuka, mirip Pangeran Diponegoro atau Tuanku Imam Bonjol. Jika yang satu berorasi, yang lain manggut-manggut. Ada beberapa yang saya kenali. Salah satunya yang pernah dipepet sama teman-teman wartawan di depan tahanan Polda beberapa waktu yang lalu.

Saya mau cerita sedikit tentang dia. Begini. Waktu itu dia mau menjenguk Habib Riziek yang tersangkut kasus rusuh Monas 1 Juni, tapi tidak diperbolehkan oleh petugas.

“Ada Arab! Ada Arab!” saya ingat itu Danny yang teriak. Wartawan lain yang tadinya nongkrong bercanda-canda langsung bereaksi. Seketika dia sudah dikerubung wartawan.
“Jangan sentuh saya. Saya sudah wudhu,” tangkisnya sembari menghindari sorotan kamera.
Wartawan terus mencecar.
“Bapak siapa? Saudara Habib ya?”
“Saudara sama-sama Islam,” jawabnya.
“Dari Petamburan juga Pak?” tanya wartawan.
“Enggak. Dari Jakarta,” sahut pria berjenggot ini.
Seorang wartawan perempuan tak ingin ketinggalan untuk bertanya. Dari SCTV, tapi saya lupa namanya. Cantiklah pokoknya. Namun, dengan malu-malu si habib yang masih muda itu malah berbalik menghadap tembok.

“Ane tidak boleh pandang cewek cantik. Ane nggak kuat….” katanya tersipu-sipu sambil terus menghadap tembok. Dan meledaklah tawa para wartawan.

Ini saya tidak mengada-ada. Kalau tidak percaya, klik di sini.

Kembali ke masalah demo kemarin. Jadi begitulah. Makin siang, suasana makin memanas. Lebih karena matahari, sebenarnya. Polisi terus berjaga membuat rantai manusia karena beberapa kali ada provokasi untuk merengsek ke istana. Hanya beberapa kali perwira-perwira polisi dan intel maju mendekat jika mendengar ada teriakan yang tak senonoh. Sumpah, saya mendengar ada yang berteriak “Ahmadiyah lebih baik mampus! SBY-JK lebih baik mampus!”

Saya bukan Ahmadiyah. Saya bukan pendukung SBY-JK, dan saya juga tidak mencoblos mereka atau siapapun di Pemilu lalu, tapi saya miris mendengar teriakan seperti itu. Siapa mereka itu? Islam-kah? Orang Islam-kah yang mendoakan orang lain agar mampus!?  Nabi Muhammad yang mana yang mereka ikuti?

Dari balik pagar di belakang SNG, saya terus mengamati mereka sembari mencatat apa-apa yang saya rasa perlu untuk diingat. Di sebelah saya ada Jimmi Simarmata, kawan saya anak Technical Support, yang penganut kristen Protestan. Saya merangkul pundaknya.

“Inilah ‘Islam’, Jim,” kata saya dengan harapan dia bisa merasakan tanda petik di kalimat saya itu. Jimmi cuma tersenyum. Mungkin dia merasa lucu. Mungkin dia juga berpikir bahwa kalau begitu kami juga sesat. Saya ingat kawan saya yang lain, seorang Katolik, dia pernah bilang, “Kenapa kalian harus marah jika ada yang mengaku nabi setelah Muhammad? Toh kami juga tidak pernah marah kalian tidak mengakui Yesus sebagai rasul terakhir…”

Di panggung utama, para habib dan ustadz terus berorasi. Sesekali mereka menyeru “Allahu Akbar!” dengan tangan yang terkepal. Dengan kemarahan.  Tiba-tiba saya teringat pada rekaman black box Adam Air yang bocor ke publik itu. Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo dan seorang mantan pilot Adam Air yang saya hubungi tempo hari tidak bisa memastikan kalau rekaman itu asli atau palsu. Mereka cuma bilang itu mendekati kebenaran. Tapi bukan itu masalahnya sehingga saya teringat. Ada teriakan “Allahu Akbar” juga di situ.  Dengan intonasi dan level kepasrahan yang berbeda.  Tidak selalu saya mendengar nama-Nya diteriakkan dan membuat merinding seolah-olah kita ini bukan apa-apa. Sori, bukan seolah-olah. Karena sejatinya kita ini memang bukan apa-apa.

Dan saya segera membandingkannya dengan teriakan yang sama di depan sana itu. Nama-Nya yang dibawa-bawa untuk menyerang atau menghabisi sesuatu. Allahu Akbar! Siapa mereka yang merasa sebagai pemegang sah kebenaran itu?

Puncaknya setelah mereka selesai shalat dhuhur berjamaah, seorang habib entah darimana tiba-tiba menantang massa untuk maju memasuki istana. Katanya, apa gunanya kalau cuma teriak-teriak dari belakang situ!?  Massa dari beberapa ormas pun sempat tersulut. Saya tanya seseorang yang bersorban. “Itu siapa yang tadi memprovokasi?” tanya saya. Dia tidak tahu. “Mungkin dari Bogor,” katanya.

Di panggung utama, seorang habib yang lain berteriak-teriak seperti kebakaran jenggot mencegah massa supaya tidak bertindak brutal. “Kita di sini aksi damai! Kita di sini aksi damai!” teriaknya berulang-ulang. Sementara itu, massa yang kebanyakan anak muda mulai berhadap-hadapan dengan polisi. Wartawan serentak bersiap-siap. Kru-kru teknis semua stasiun segera menarik kabel dari SNG dan newsvan masing-masing untuk mempersiapkan breaking news. Kameramen-kameramen berlarian menggotong tripod, dan presenter-presenter cantik sibuk meratakan make up. Matahari panas memang membuat bedak gampang sekali meleleh.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

7 Komentar pada “Bangun Pagi”

  1. atut Says:

    Allahu akbar!

    (diucapkan dengan intonasi yang juga berbeda dengan intonasi dua kejadian lalu
    -trima kasih sudah membukakan nurani-)

  2. atta Says:

    Yang bener jam satu. Paskah datang lebih dulu setelah itu Kaban.

    Islam jadi tak ramah ya… Saya juga miris

  3. ria Says:

    kembali, sebuah tulisan yg memesona.. 🙂

    oh iya boleh ralat gak ya, setahu saya sih imam bonjol tuh ‘tuanku’ bukan ‘tengku’..

  4. iwied Says:

    hari yang sibuk tampaknya, bang. sementara, saya dan gita terpuruk dengan deadline-deadline di ruangan sekotak. terkaget-kaget setiap mendengar berita di luar sana. tapi, untunglah bang ochan kembali, membawa berita-berita terkini (eh, ada rima “i” di kalimat ini =D). hihi. salam 🙂

  5. yati Says:

    dan kini abu bakar ba’asyir ga lg mengakui mmi …? ada apa ini dengan para uztad? apa yg mereka cari ya? :d

  6. Pretty M Says:

    wah kok tidak dilanjutkan ceritanya .. terus ? … 🙂

  7. andi kanda Says:

    saya bangun sepagi ini…..
    kucuba menengadah keatas dengan sutra sehasta menjadi batasan tempat sujudku, mengingat dan mencoba melaksanakan komitmen yang kadangkala masih kuragukan. kucoba meminta sesuatu, minimal kujadikan sebuah kekuatan dan kuyakinkan aku bukan seorang penghianat.
    malam tadi, saya meghabiskan malam dan sekasur bersama teman-teman yang beberapa tahun terakhir ini kujaga untuk tetap punya metakomuikasi yang dalam untuk menjadi tempat berbagi.
    pagi…..
    selalu membuka suasana indah dan segar, juga memulai beberapa rencana yang tertunda atau agenda baru yang masih hangat karena baru diproduksi beberapa saat sebelum tidur semalam
    pagi….
    suasana yang tidak populis bagi sebagian teman dekat yang membuat saya bertanya dan berusaha mejawab sendiri…? mengapa teman-teman kurang bersahabat dengan pagi, mengapa pagi terlewatkan begitu saja tanpa tegur sapa dan kesan.

    teman baenya adetta uce disemesteran awalnya……kanda’
    salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: