Arsip untuk Agustus 2008

Salahkah Jadi Pelacur?

Agustus 31, 2008

Sudah beberapa hari ini kami selalu mendapat pasokan berita razia Pekerja Seks Komersil (PSK) dari koresponden dan kontributor Jakarta maupun daerah. Beberapa hari menjelang Ramadhan, di berbagai tempat polisi maupun Satpol PP rajin menggelar razia. Tugas saya antara lain adalah mem-preview gambar-gambar liputan itu sebelum diedit visual. Editor visual kadang bertanya pada saya, “Mas, ini mukanya di-blured nggak?” Jika mereka bertanya begitu, pasti saya minta di-blur. Saya suka tidak tega melihat PSK-PSK itu. Begitu-begitu mereka juga pasti punya keluarga yang tak mau melihat mereka masuk TV dengan cara seperti itu.

Tadi malam ada satu lagi berita razia PSK yang bikin saya sedih. Bukan pada liputan atau wartawannya, tapi pada cara orang-orang yang merazia itu. Mereka sampai masuk ke kamar-kamar kos atau rumah di lokasi yang dicurigai sebagai sarang PSK. Banyak yang kaget karena dibangunkan malam-malam, diminta menunjukkan KTP, disuruh berpakaian, lalu diangkut paksa dengan mobil ke kantor entah apa itu. Kantor itu mungkin isinya moralis atau nabi semua, sehingga merasa bisa mendudukkan orang di lantai seperti itu hanya karena mereka bekerja menjajakan kelamin.

Razia-razia seperti itu memang semakin sering digelar belakangan ini. Baik itu di jalan-jalan maupun yang langsung jemput bola seperti tadi. Alasannya untuk menjaga kesucian Ramadhan. Ya Allah yang Maha Mengetahui, ampunilah saya, karena tidak bisa memahami cara pikir mereka. Orang-orang pintar itu, mereka telah merendahkan Ramadhan-Mu dengan mengukur kesuciannya berdasarkan seberapa banyak PSK yang bisa digaruk!

Saya pernah punya sahabat yang dianggap PSK, meski saya tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kadang ada saja orang yang nanya, “Kamu berteman sama dia, Chan? Dia itu kan.. bla.. bla…” Atau ada yang cerita, “Iya, dia di SMA-nya dikeluarin gara-gara… bla.. bla.. bla…”
So what! Kalaupun dia benar PSK, memangnya kenapa? Apa bedanya dia dengan kalian? Kalau kalian bekerja dengan pikiran dan sedikit tenaga, dia bekerja dengan kelamin dan sedikit erangan. Sama-sama untuk bertahan hidup juga, bukan?

Ada juga teman SD saya yang sekarang jadi PSK. Saya pernah melihat dia berkeliaran di jalan jam dua pagi. Saya ingin menegurnya, tapi takut membuat dia merasa tidak nyaman. Saya juga khawatir kalau dia melihat saya, dia akan berubah dari PSK menjadi PSTK atau Pekerja Seks Tidak Komersil. Paling tidak mungkin dia akan kasih saya harga teman. Hehehehe…

Ya begitulah, menjelang Ramadhan ini, banyak orang yang tiba-tiba merasa dirinya lebih saleh daripada orang lain. Ustadz-ustadz yang berdiri di mimbar mesjid ramai-ramai menghakimi orang-orang berdosa di luar sana, atau menakut-nakuti jemaahnya akan masuk neraka. Mereka mungkin lupa, bahwa Rasulullah Muhammad tidak berdakwah seperti mereka. Mudah saja berdakwah di depan orang-orang yang sudah duduk manis di mesjid, yang susah adalah mengajak orang untuk datang ke mesjid. Dakwah Rasulullah bertahun-tahun adalah untuk mengajak orang ke mesjid. Kalau hanya menceramahi orang-orang berbaju koko mahal di majelis-majelis pengajian yang terorganisir, saya pikir kontestan Pildacil juga bisa melakukan itu.
Sekalinya ada da’i yang langsung terjun berdakwah ke sarang maksiat, dianggap aneh. Ulama-ulama mapan menganggap dakwah seperti itu akan lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, dan hanya akan menimbulkan fitnah. Ibaratnya meneteskan madu ke dalam segelas racun. Di Surabaya, ada ustadz yang dianggap sableng karena berdakwah di lokalisasi Bangunsari.

kembali ke masalah razia PSK. Saya bukan liberalis tapi tidak juga menentang atau mendukung hukum ala Taliban. Siapalah saya ini. Kalau misalnya diminta, “Hei kamu, coba kasih solusi supaya PSK-PSK tidak perlu dirazia?” Wah, saya sudah pasti teler duluan. Mbok ya, mengurusi diri sendiri saja susahnya minta ampun, apatah lagi kalau disuruh kasih solusi bagaimana cara menghapuskan profesi yang usianya hampir setua peradaban ini sendiri.

Saya hanya berharap, akan ada orang seperti Nabi Isa Alaihissalam, yang ketika seorang pelacur akan dihakimi massa, Nabi Isa segera maju dan menawarkan batu. “Ayo, siapa yang merasa dirinya lebih bersih daripada perempuan ini, silahkan melempar pertama kali.”

Akhirul kalam, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika saya ada berbuat kesalahan yang menyakiti hati atau tubuh teman-teman sekalian. Untuk teman-teman yang berpuasa, selamat menjalankan ibadah puasa, baik itu yang mengikuti NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, maupun pemerintah….

Iklan

Pantat Bayi

Agustus 23, 2008

Pak Didin Hafidudin ngasih khotbah di jumatan kantor. Khotbahnya pendek saja, tentang satu larangan dan dua perintah Allah. Itu kemarin siang, dan saya hampir lupa. Tapi entah kenapa isi khotbah itu muncul lagi di pikiran saya ketika terbengong-bengong di depan tipi pagi ini.

Zapping semua channel. Ada banyak acara dakwah di televisi. Lili Rahmawati, Sahrul Gunawan, Ustadz Arifin Ilham di TPI, serta Mamah dan Aa di Indosiar. Semuanya bergantian memberi wejangan pada penonton yang baru bangun atau belum tidur, termasuk saya. Pagi hari iman memang masih lumayan tokcer. Setidaknya begitu menurut data Nielsen. Di slot itu Mamah dan Aa tak tertandingi. Audience share berkisar 20 persen.

Apalagi menjelang Ramadhan seperti ini. Suka nangis kalau ingat dosa. Dan makin nangis karena sadar susah banget ninggalin dosa-dosa itu. Perasaan dari tahun-tahun lalu sudah bikin tekad yang kayak gini. Tapi nggak berubah-berubah juga. Pengen rasanya mencontoh politisi yang gampang berubah. Hari ini di sini, besok sudah menclok di sana. Hari ini lawan, besok sudah kawan. Zaenal Maarif sudah menyeberang ke Demokrat, padahal kemarin dia ngegosipin SBY. Kamerad Adian Napitupulu sekarang di PDIP menyusul Budiman Sudjatmiko. Dita Indah Sari akhirnya ke PBR. Pengacara itu juga, sudah dari kapan tahu meninggalkan Golkar. Yang artis nggak usah disebut, nambah-nambahin huruf aja.

Politik itu memang kayak pantat bayi. Lucu montok menggemaskan tapi suka ada keluar pup tiba-tiba. Dan politisi itu kayak diapers (popok), harus sering diganti dengan alasan yang sama.

Dia

Agustus 18, 2008

Begitu saya bisa berpikir, saya segera mengenalnya sebagai orang yang selalu ingin membahagiakan keluarganya. Istrinya, anak-anaknya, adik-adiknya, ibunya yang masih hidup, dan ayahnya yang telah pergi tak lama setelah dia bisa memberinya cucu pertama.

Saya tahu, dia berjuang-juang mati-matian untuk itu. Kadang-kadang dengan caranya yang tampak aneh bagi saya. Dia mengisi rumahnya dengan kesenangan, ketika semua orang di sekitarnya masih bergelut dengan hidup yang keras. Dia membawa pulang Mitsubhisi Colt yang dia beri nomer DD 1048, yang anak-anaknya bikin jadi rumah-rumahan dan sesekali pura-pura menyetir. Dia bawa pulang Betamax Video Player sehingga ruang tamu rumahnya setiap hari penuh anak-anak tetangga yang menonton Megaloman atau Gaban. Gratis. Dia bawa pulang aquarium besar dengan ikan-ikan gendut untuk ditaruh di ruang tengah, supaya anak keduanya tidak lagi keluar mencari ikan cupang di kubangan bekas galian pabrik batu bata. Dia beli kompor gas Rinnai keluaran pertama lengkap dengan tabung gasnya, jauh sebelum pemerintah menyuruh konversi minyak tanah. Dia beli rice cooker ukuran paling besar, yang akhirnya dibiarkan menganggur karena tak cukup untuk kebutuhan 11 orang di dalam rumahnya. Akhirnya kembali ke kukusan dandang yang bisa dipakai masak untuk dapur umum.

Dia punya senapan angin Benjamin. Dia punya kamera Kodak. Dia beli buku “Seratus Tokoh” yang legendaris itu untuk anak-anaknya yang bahkan belum bisa baca. Untuk istrinya, dia beli permadani Persia dan guci-guci Cina dari sebuah kapal dagang Singapura yang merapat di dermaga dekat kantornya.

Ketika terjadi malaise ekonomi di rumah tangganya, sebagian benda-benda itu pernah terpaksa harus menginap di Pegadaian. Anak-anaknya dan anak-anak tetangga kehilangan tontonan Voltus. Tapi dia tetap sempurna untuk disebut sebagai suami dan ayah yang baik.

Dia sayang bukan main pada anak-anaknya. Tak satu pun anak-anaknya pernah merasakan pukulan tangannya. Dia sering bawa pulang lelucon yang bikin anak-anaknya tertawa terpingkal. Dia sering bawa anak-anaknya jalan bertamasya atau sekadar makan di warung kaki lima. Bahkan ketika dia tak lagi punya mobil tapi hanya sebuah motor dinas butut yang tak kuat menanjak. Saya pernah menemaninya bertugas ke sebuah pabrik gula yang harus melewati jalan  bergunung-gunung. Motor dinasnya tidak kuat menanjak dan terpaksa ditipkan ke rumah penduduk dan selanjutnya kami menumpang truk.

Suatu hari saya menemaninya mengunjungi anak sulungnya yang sedang berkemah pramuka di sebuah desa, dan di perjalanan ke sana kami dapat masalah karena tak sengaja dia menyenggol kaca spion sebuah angkot dengan bahunya dan si sopir minta ganti. Dia menggantinya setelah menghitung sisa uang di dompetnya masih cukup untuk membawa kami berdua pulang. Si anak sulung tak tahu kejadian ini.

Dia selalu tertawa, seberat apapun  situasi yang dia hadapi. Dia selalu menunjukkan betapa cintanya kepada istrinya. Sebelum istrinya pulang kerja, dia sudah ada di beranda kantor istrinya siap menjemput, ngobrol apa saja dengan semua teman-teman istrinya, yang kadang membuat istrinya ingin segera beranjak dari situ. Dia pernah ngasih baju Korpri dan sepatu PDH miliknya untuk seorang pesuruh di kantor istrinya, dan istrinya tidak tahu.

Beberapa hari sebelum tepat dua tahun lalu, dia duduk di pinggir ranjang dengan kepayahan. Minta maaf karena tidak bisa mengantar saya yang sudah harus berangkat lagi. Dia cuma membekali selarik doa yang menurutnya bisa mempertemukan kami lagi sebelum ajal menjemputnya.

Saya membaca dan menghapal doa itu, di perjalanan, di pesawat, di tempat tujuan. Selalu. Kadang dengan gemetar.

Tapi tidak semua doa manjur, kiranya. Apalagi jika dirapal oleh orang penuh dosa seperti saya. Dua tahun lalu, saya pulang. Memberi ciuman di keningnya yang dingin. Saya pulang sebagai anak yang kalah.

Tenang di sana ya, Pak…

Gerhana Kemerdekaan

Agustus 17, 2008

Pagi-pagi sekali. Saya menengok ke langit barat. Bulan perlahan-lahan mulai meninggalkan penumbra. Bentuknya sabit seperti sering digambarkan di komik. Gerhana hampir selesai. Jam dua lewat tadi, saya dan Albert Wiliancoen Sumilat, menonton bulan yang sama itu memasuki penumbra. Tapi kami tidak bisa menikmati puncak gerhananya, karena saya harus bekerja cari nafkah, dan Albert Williancoen Sumilat telah menghilang entah kemana. Meninggalkan saya kelaparan dan kedinginan akibat gempuran AC biadab. Dan tega-teganya pula dia memberi saya rokok menthol.

Roundtable kali ini, alhamdulillah, memberi saya kesempatan luas untuk menikmati malam. Atas nama tour of duty, saya kena rolling ke Reportase Pagi. Artinya, setidaknya hingga enam bulan ke depan, saya akan jarang ketemu matahari. Ada banyak berita hari ini. Kecelakaan kereta di Lampung, razia diskotik di Banten, dan Markis Kido cs dapat emas di Olimpiade.

Ada kabar angin juga. Dalam waktu dekat, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia akan diusir lagi, mengulang peristiwa tahun 2004 dan 2006. Waktu itu sekitar 100.000 orang TKI dienyahkan oleh Pemkot Kinabalu, Negara Bagian Sabah. Mereka diusir lewat Tawau dan terlunta-lunta di penampungan Nunukan. Dan tahukah engkau wahai kawan? 80.000 orang di antara mereka berasal dari daerah yang sama denganku.

Kampungku memang sentra eksportir TKI. Sedari kecil, saya sudah sering mendengar nama Tawau disebut-sebut seperti mantra harapan. Setiap tahun, banyak tetangga dan kerabat kami yang berangkat ke sana mengadu nasib. Indo Rama, yang pernah bekerja pada nenek buyutku, semua anaknya masih berada di Tawau. Sesekali mereka mengirim satu dua kaleng Milo minuman sihat bertenaga, dan surat dengan alamat yang terdengar keren: somewhere Plantation.

Bertahun-tahun kemudian, ketika menyusup ke Tawau setelah meliput konflik Ambalat, saya baru tahu seperti apa rupa tempat yang mereka sering tulis di alamat surat itu. Banyak dari TKI itu yang tinggal dalam barak-barak tripleks di tengah lahan perkebunan sawit. Tidur dalam dingin dan ketakutan bakal kena razia Polisi Diraja. Mereka bertahan demi ringgit yang nilainya tidak lebih besar dari rupiah. Memang banyak yang pulang kaya, tapi yang pulang mati juga tidak sedikit.

Adapun saya, akhirnya menyerah pada AC biadab, jadi saya keluar sebentar mencari bihun goreng dan segelas ovaltine hangat. Di lobi, saya bertemu teman-teman yang mau berangkat tugas live Hari Ulang Tahun Kemerdekaan di Istana hari ini. Ada Pak Yono, office boy kantor, yang tampak masih terkantuk-kantuk. Dia juga akan ikut ke istana untuk meng-asisteni teman-teman yang bertugas di sana nanti.

“Titip colek sama Pak SBY, Pak Yono,” kata saya. Dia tertawa sambil merapatkan jaketnya.

Kemarin saya dengar dari Nita, kalau protokoler istana mengubah semua bentuk tenda di  upacara HUT RI kali ini. Tahun ini, semua tenda yang dipakai beratap rata, tidak boleh lagi ada tenda yang atapnya lancip seperti tahun lalu. Konon, itu karena pandangan Pak SBY terhalang ke arah Monas gara-gara tenda atap lancip itu, sehingga Yang Mulia tidak bisa melihat konfigurasi-konfigurasi wajahnya dan istrinya.

Pagi masih sangat muda. Di taman kurma depan kantor, saya melihat ada tiga orang yang tertidur berjejer. Meringkuk kedinginan. Saya tak tahu siapa mereka, yang pasti bukan karyawan. Di emperan dekat apotik juga ada.

Gila! Sudah 63 tahun negara ini merdeka, masih ada juga orang yang tidur beratap langit. Mereka bahkan tak punya tenda yang ujungnya lancip atau rata. Tak terlihatkah mereka oleh para pemimpin dan politisi negara ini?

Dan pagi ini, ketika SBY berdiri di tribun kehormatan memimpin upacara, semoga tak ada lagi yang menghalangi pandangannya seperti umbra gerhana bulan. Semoga terlihatlah olehnya rakyatnya yang tertidur di emperan. Semoga terlihatlah olehnya nasib ribuan rakyat Indonesia yang masih terlunta-lunta di negeri orang, yang diuber-uber seperti tikus.

Selamat HUT Kemerdekaan RI yang ke-63. Besok, berarti sudah 2 tahun bapakku wafat. Bapak, di situ ada upacara jugakah? Adakah engkau juga merayakan kemerdekaan di situ Bapak? Kemerdekaan dari dunia, yang pasti.

Sampai jumpa di surga, Bapak. Jika kita tidak berselisih jalan.

GPS

Agustus 6, 2008

Sekira tiga minggu yang lalu, untuk suatu hal saya membutuhkan GPS.  Yang benar-benar GPS, bukan gps-gps-an seperti yang banyak ditanam dalam handphone. Saya berencana beli, tapi belum ada modal. Untunglah Mas HSG berbaik hati merelakan satu dari sekian banyak GPS-nya untuk saya jajal.  Garmin e-trex Legend HCx. Saya boleh pakai beberapa hari.

Dari situ saya baru tahu kalau jarak kantor ke kosan saya ternyata 714 meter. Jauh juga. Pantesan keringetan melulu kalau jalan pergi atau pulang.

“Jajal ke hutan dong. Kalau cuma di dalam kota, buat apa?” begitu kata Mas HSG menantang. Saya memang tidak membawanya terlalu jauh.

“Iya, Mas. Saya cuma butuh beberapa koordinat tempat-tempat tertentu,” kata saya. Saya tak bilang padanya, kalau saya tak perlu jauh-jauh ke hutan atau gunung untuk tahu bagaimana rasanya tersesat.

Di sini, di tempat terang dan tak terhalang kanopi ini, saya sudah tersesat. Susah sekali menemukan jalan pulang.

Bangun Pagi

Agustus 5, 2008

Hari ini saya bangun pagi, tapi tidak terus mandi. Selesai shalat subuh, saya langsung ke pantry, bikin teh hangat, lalu nongkrong di teras belakang kantor. Keliling cari rokok, tapi belum banyak siapa-siapa di kantor sepagi ini.  Baru ada Indri dan Irwin yang mau berangkat liputan luar kota, tapi mereka berdua tidak merokok. Ada juga Abe yang nginap di kantor sama seperti saya, tapi dia lupa ditaro dimana itu rokoknya. Dia sibuk ngecengin Nadya, reporter cantik yang sedang bertugas PA untuk Reportase Pagi. “Dia ngeliat ke gue, Bang!” katanya bangga. Kata Abe, Nadya dalam balutan sweater putihnya tampak sangat kontras di tengah-tengah gerombolan orang-orang yang belum mandi.

Sebenarnya saya tidak merokok, tapi karena dihempas hawa dingin 18-19 derajat sepanjang malam membuatmu akan rela menghisap knalpot sekalipun demi satu dua kepul asap hangat. Di pelataran kantor, panggung yang disiapkan untuk ulang tahun Insert masih sedang dikerjakan. Entah seperempat jadi, setengah jadi, atau tiga perempat jadi, yang pasti masih belum jadi. Stage crew yang kelelahan tampak tertidur di mana saja mereka bertemu bidang datar. Besok atau lusa pasti akan ramai sekali. Percayalah.

Tadi malam saya tidur cepat. Migren parah membuat saya tumbang. Ada bagusnya juga, berarti saya bisa mendapatkan kasur empuk dan bantal lebih banyak dan lebih dulu dari siapa pun. Di lantai tempatku bekerja ini hanya ada dua ruang tidur dengan masing-masing dua kasur. Saya lebih suka tidur di ruang yang sebelah kiri, karena ruang tidur sebelah kanan itu konon ada hantunya. Begitu kata teman-teman yang punya ilmu terawang. Saya sendiri, alhamdulillah, belum pernah melihat. Yang saya tahu, ruang itu pernah jadi tempat tidurnya Sumanto si pemakan mayat waktu dia dibawa ke sini dua tahun lalu untuk sebuah wawancara eksklusif setelah diungsikan dari hotel karena dikejar-kejar stasiun tivi lain.

Oya, sampai di mana tadi? Oh sampai saya dapat migren itu ya. Ok. Saya dapat migren itu karena terlalu lama berjemur di Monas. Jadi ceritanya, kemarin saya ditugaskan jagain live report dari dari pelataran Monas depan istana presiden. Kemarin itu memang ada demo besar-besaran massa yang tergabung dalam Forum Umat Islam dan sejumlah forum lain untuk menuntut Presiden SBY segera membubarkan Ahmadiyah. FPI? sudah pasti ada. Saya beberapa kali kena kibas bendera mereka yang besar-besar.  Di undangannya sih katanya akan dihadiri 15000 orang. Tapi kemarin itu dengan cara mencongak sederhana sekalipun kita bisa tahu kalau jumlahnya tidak sampai sebesar itu. Mungkin hanya sekitar 7000-an orang saja. Dari bendera yang berkibar, saya mencatat ada Gerakan Reformis Islam, Mahabbatussholihin, Laskar Aswaja, dan Laskar Empati Pembela Islam. Yang tidak ada Laskar Pelangi, karena mereka sibuk maen film.

Di atas mobil penuh speaker yang mereka jadikan panggung utama, para habib dan pemimpin massa bergantian berorasi yang semuanya diarahkan ke istana presiden. Mereka menyeru kepada istana saja sebenarnya, karena presiden malah sedang di Ancol. Presiden baru balik ke istana sekitar jam dua siang untuk menerima Paskah Suzetta dan MS. Kaban yang dia panggil karena terkait kasus suap. Ah, pejabat-pejabat itu.  Di istana ada Chris Rey dan Danu yang jaga, sedang di luar ada Tijo, Taufik, Dada, Al, dan saya bersama tim teknis dari TS dan Transmisi dengan segala SNG (Satellite News Gathering) dan News Van. Tipi-tipi lain juga semua sudah pasang SNG masing-masing. Yang paling besar dan makan tempat punya kami, sedikit lebih besar dari punya Indosiar.

Ada hadir Ustad Abu Bakar Basyir yang pernah dipenjara dengan tuduhan pemufakatan jahat, Habib Al Habsi yang pernah dipenjara karena dituduh meledakkan Borobudur, dan habib-habib lain yang belum pernah dipenjara. Habib Riziek tentu tak hadir, karena dia sedang ditahan sama Polda dan dititipkan di tahanan Kejati.

Para pemimpin massa terus berorasi bergantian. Mereka berjejer di atas bak terbuka, mirip Pangeran Diponegoro atau Tuanku Imam Bonjol. Jika yang satu berorasi, yang lain manggut-manggut. Ada beberapa yang saya kenali. Salah satunya yang pernah dipepet sama teman-teman wartawan di depan tahanan Polda beberapa waktu yang lalu.

Saya mau cerita sedikit tentang dia. Begini. Waktu itu dia mau menjenguk Habib Riziek yang tersangkut kasus rusuh Monas 1 Juni, tapi tidak diperbolehkan oleh petugas.

“Ada Arab! Ada Arab!” saya ingat itu Danny yang teriak. Wartawan lain yang tadinya nongkrong bercanda-canda langsung bereaksi. Seketika dia sudah dikerubung wartawan.
“Jangan sentuh saya. Saya sudah wudhu,” tangkisnya sembari menghindari sorotan kamera.
Wartawan terus mencecar.
“Bapak siapa? Saudara Habib ya?”
“Saudara sama-sama Islam,” jawabnya.
“Dari Petamburan juga Pak?” tanya wartawan.
“Enggak. Dari Jakarta,” sahut pria berjenggot ini.
Seorang wartawan perempuan tak ingin ketinggalan untuk bertanya. Dari SCTV, tapi saya lupa namanya. Cantiklah pokoknya. Namun, dengan malu-malu si habib yang masih muda itu malah berbalik menghadap tembok.

“Ane tidak boleh pandang cewek cantik. Ane nggak kuat….” katanya tersipu-sipu sambil terus menghadap tembok. Dan meledaklah tawa para wartawan.

Ini saya tidak mengada-ada. Kalau tidak percaya, klik di sini.

Kembali ke masalah demo kemarin. Jadi begitulah. Makin siang, suasana makin memanas. Lebih karena matahari, sebenarnya. Polisi terus berjaga membuat rantai manusia karena beberapa kali ada provokasi untuk merengsek ke istana. Hanya beberapa kali perwira-perwira polisi dan intel maju mendekat jika mendengar ada teriakan yang tak senonoh. Sumpah, saya mendengar ada yang berteriak “Ahmadiyah lebih baik mampus! SBY-JK lebih baik mampus!”

Saya bukan Ahmadiyah. Saya bukan pendukung SBY-JK, dan saya juga tidak mencoblos mereka atau siapapun di Pemilu lalu, tapi saya miris mendengar teriakan seperti itu. Siapa mereka itu? Islam-kah? Orang Islam-kah yang mendoakan orang lain agar mampus!?  Nabi Muhammad yang mana yang mereka ikuti?

Dari balik pagar di belakang SNG, saya terus mengamati mereka sembari mencatat apa-apa yang saya rasa perlu untuk diingat. Di sebelah saya ada Jimmi Simarmata, kawan saya anak Technical Support, yang penganut kristen Protestan. Saya merangkul pundaknya.

“Inilah ‘Islam’, Jim,” kata saya dengan harapan dia bisa merasakan tanda petik di kalimat saya itu. Jimmi cuma tersenyum. Mungkin dia merasa lucu. Mungkin dia juga berpikir bahwa kalau begitu kami juga sesat. Saya ingat kawan saya yang lain, seorang Katolik, dia pernah bilang, “Kenapa kalian harus marah jika ada yang mengaku nabi setelah Muhammad? Toh kami juga tidak pernah marah kalian tidak mengakui Yesus sebagai rasul terakhir…”

Di panggung utama, para habib dan ustadz terus berorasi. Sesekali mereka menyeru “Allahu Akbar!” dengan tangan yang terkepal. Dengan kemarahan.  Tiba-tiba saya teringat pada rekaman black box Adam Air yang bocor ke publik itu. Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo dan seorang mantan pilot Adam Air yang saya hubungi tempo hari tidak bisa memastikan kalau rekaman itu asli atau palsu. Mereka cuma bilang itu mendekati kebenaran. Tapi bukan itu masalahnya sehingga saya teringat. Ada teriakan “Allahu Akbar” juga di situ.  Dengan intonasi dan level kepasrahan yang berbeda.  Tidak selalu saya mendengar nama-Nya diteriakkan dan membuat merinding seolah-olah kita ini bukan apa-apa. Sori, bukan seolah-olah. Karena sejatinya kita ini memang bukan apa-apa.

Dan saya segera membandingkannya dengan teriakan yang sama di depan sana itu. Nama-Nya yang dibawa-bawa untuk menyerang atau menghabisi sesuatu. Allahu Akbar! Siapa mereka yang merasa sebagai pemegang sah kebenaran itu?

Puncaknya setelah mereka selesai shalat dhuhur berjamaah, seorang habib entah darimana tiba-tiba menantang massa untuk maju memasuki istana. Katanya, apa gunanya kalau cuma teriak-teriak dari belakang situ!?  Massa dari beberapa ormas pun sempat tersulut. Saya tanya seseorang yang bersorban. “Itu siapa yang tadi memprovokasi?” tanya saya. Dia tidak tahu. “Mungkin dari Bogor,” katanya.

Di panggung utama, seorang habib yang lain berteriak-teriak seperti kebakaran jenggot mencegah massa supaya tidak bertindak brutal. “Kita di sini aksi damai! Kita di sini aksi damai!” teriaknya berulang-ulang. Sementara itu, massa yang kebanyakan anak muda mulai berhadap-hadapan dengan polisi. Wartawan serentak bersiap-siap. Kru-kru teknis semua stasiun segera menarik kabel dari SNG dan newsvan masing-masing untuk mempersiapkan breaking news. Kameramen-kameramen berlarian menggotong tripod, dan presenter-presenter cantik sibuk meratakan make up. Matahari panas memang membuat bedak gampang sekali meleleh.

istri dan anak

Agustus 2, 2008

Baru saja saya dapat sms dari Bang Buyung, isinya tentang kereta api Purwojaya yang berangkat dari Cilacap pukul 17.45, membawa penumpang seorang ibu dengan 3 orang anaknya. Diperkirakan akan tiba di Gambir atau Jatinegara sekira pukul 1 atau 2 dinihari nanti. Saya sudah mengirim 2 tim malam untuk menunggu kedatangan mereka di dua stasiun itu.

Tidak lama masuk sms lagi, dari Kang Budi. Katanya dia sudah kirim gambar ibu bersama 3 anaknya itu melalui FTV supaya bisa dikenali setibanya di Jakarta nanti. Si Ibu itu perempuan bercadar, ternyata, sehingga tidak tampak jelas ekspresi wajahnya. Tapi saya melihat 3 orang anak kecil yang putus asa, duduk mengelilingi ibunya.

Kalau kamu tahu bagaimana rasanya punya ayah yang sebentar lagi akan ditembak mati tapi kamu tak berhasil menemuinya di saat-saat terakhir karena dilarang oleh pihak Lapas, berarti kamu tahu yang mereka rasakan.