gigi

Bertahun-tahun saya menyimpan gigi geraham saya membusuk di dalam mulut. tidak tanggung-tanggung, ada 3 biji. Dua di kanan, satu di kiri. Dan selama itu pula saya menahan sakitnya yang kadang datang tiba-tiba. Saya bukan masokis. Saya sengaja menyimpannya untuk Uce, adikku. Saya bilang hanya dia yang boleh mencabutnya nanti.

Dan bulan lalu, janji sembarangan itu tunai. Hanya beberapa hari setelah dia berhak menyandang gelar dokter gigi, saya pasrah duduk di dental chair di klinik tempatnya menumpang berpraktek. Membuka mulut hampir tiga jam, dan membiarkan dia mengutak-atiknya.  Selain pasien-pasien selama kurva belajarnya, saya adalah pasien pertamanya.

Sepuluh tahun sejak dia datang pertama kali ke kampus sebagai mahasiswa baru, baru sekarang saya bisa melihatnya sebagai sosok yang lain. Adik saya itu telah bermetamorfosa menjadi semacam Salman Al-Farisi bagi keluarga kami. Di depan sidang yudisium, dia berpidato mewakili dokter gigi-dokter gigi baru. Tentu saja itu bukan karena dia yang paling pintar. Yang paling lama, mungkin.

Ibuku, yang demi azas keadilan bertekad tak akan menghadiri semua wisuda anak-anaknya, hadir di yudisium itu. Ibu menangis ketika saya menghubunginya lewat telepon. Saya mengerti, dari kami lima bersaudara, Uce-lah yang paling sering membuat ibuku khawatir. Tapi sekarang Ibu boleh tersenyum. Dan saya, tidak pernah merasa menyesal telah menyimpan 3 gigi busuk itu bertahun-tahun.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

8 Komentar pada “gigi”

  1. muara hafidz Says:

    hemm… Selamat ya Kang, Anda selalu menyentuh ‘rasa’ tepat di kedalaman halamanrawa. saya tunggu selalu karyanya. Selamat jua untuk ‘Kang Uce’ si pembuat parit di mulut kakaknya sendiri. Semoga kecerdasan dan kebersahajaan ‘Salman al-Farisi’ memberkati hidupnya…

  2. budiafriyan Says:

    bro…gua turut senang…gua berharap anak-anak gua akan sekompak kalian bersaudara…

  3. balq Says:

    tapi blm pernah cabut gigi di UGD Cipto kan can..?
    iiih.. nggemesin deh rasanya.. ngilu2 sedep gitu deh..
    (kiri gw org klindes pickup bijinya, dikanan org abis mabu2’an baygon)

    mantaaaff dah rasanya!
    cukup satu tampolan buat dokter baru yg sontoloyo itu.
    hehe..

  4. tante_angga Says:

    idihh, amit-amit,,, sakit kok dipelihara sih kang,,,
    untung ‘cuma’ gigi,,,

    kebayang dong kalo kasusnya aku, ada sodara yang niat gak mau melahirkan sampai aku lulus? di pending berapa lama tuh hamil? heheheh.

    btw,, kenapa kang, ibu akang gak mau menghadiri wisuda anak-anaknya? bingung aku…

  5. Roy Thaniago Says:

    Wsah..ceritanya menarik bgt.. Sayang, cuma pendek. Mngkin akan lebih seru bila diceritakan hal2 lainnya.. Salam kenal!

  6. abi_ai Says:

    I am….., no.
    speechless.

  7. yati Says:

    selamat buat Uce 🙂

  8. vey Says:

    ini Uce yang pas demo pernah gw liput ya??? hehehe…selamat ya…berarti demo-nya waktu itu ga’ sia2 donk;-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: