Arsip untuk Juli 2008

Drunken Molen

Juli 29, 2008

Akhirnya saya bisa beli itu buku Drunken Molen. Di gramedia gatsoe. Saya bela-belain kabur dari kantor karena inibuku.com gak bisa ngirim segera. Di jalan pulang, saya tak sabar untuk segera membacanya. Karena pulang lewat lorong dan jalan kaki pula, jadi banyak orang yang melihat saya tertawa-tawa sendiri sepanjang jalan.

Alhasil, sampai di kantor, buku itu tinggal separuh lagi. Menyesal juga, kenapa saya tidak irit-irit bacanya, supaya lebih enak meresap. Saya ngumpet di pojok dekat studio, di mana banyak selebritis lewat mau syuting. Cut Tari, Bedu, dan Adul lewat bawa gitar. Saya jadi terharu. Kok mereka gak bisa lucu seperti Pidi Baiq ya.

Tapi karena masih harus kerja, saya harus berhenti sejenak menikmati Drunken Molen. Hari ini lumayan rame. Pinang Ranti masih panas, dan Si Jagal Jombang itu baru saja menambah korbannya jadi 11. Hamka Yandhu juga sudah mengakui siapa-siapa saja pejabat kampret yang kebagian duit korupsinya.

Panas sekali tanah ini. Selain kawan saya Arham Kendari dan Pidi Baiq, orang-orang sudah tak lucu lagi. Aku pikir, karena orang seperti mereka berdua inilah sehingga kiamat agak lambat datangnya.

Iklan

Pinang Ranti

Juli 27, 2008

Suara murottal mengalun syahdu dari pengeras suara masjid. Dilantunkan oleh qori cilik entah siapa namanya seperti yang pernah aku dengar di kios penjual mp3 di pameran buku tempo hari. Orang-orang sudah sejak tadi selesai shalat azar. Hanya tampak beberapa orang polisi saja yang menyusul shalat dalam kelompok jamaah kecil. Yang lain masih mengambil air wudhu.

Di luar, sebagian besar polisi masih berjaga-jaga dengan tameng yang tersusun rapih dekat pagar. Jumlahnya mungkin sekitar dua ratusan, tersebar di beberapa RW.

Malam sebelumnya, dari pengeras suara yang sama itu, seseorang membangunkan warga yang sedang tertidur. Mengajak untuk berjihad. Tak lama, massa sudah terkumpul. Situasi mulai memanas. Hingga pukul 3 pagi, asrama putri yang terletak berhadapan dengan rumah warga itu sudah bolong-bolong ditimpa lemparan batu. Pagarnya rubuh. Malam itu juga, sekitar 250 mahasiswi Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar dievakuasi ke gedung kampus yang berjaraksekira 100 meter dari asrama. Asrama putra di tempat yang berbeda sudah terlebih dulu dirusak massa.

Sampai sore ini, situasi masih mencekam. Warga kembali berjaga-jaga karena tersiar kabar sekelompok preman sewaan berusaha memasuki kampung mereka.

Kemarin saya sudah bertemu dengan mahasiswi korban penyerangan, rektor, dan warga yang ikut menyerbu. Tapi tetap saja susah untuk memahami persoalan yang sebenarnya. Sama susahnya untuk bisa berbeda di negeri ini.
Mereka yang selalu ingin memindahkan Ambon dan Poso ke tempat lain, sepertinya tak pernah berhenti bekerja.

gigi

Juli 5, 2008

Bertahun-tahun saya menyimpan gigi geraham saya membusuk di dalam mulut. tidak tanggung-tanggung, ada 3 biji. Dua di kanan, satu di kiri. Dan selama itu pula saya menahan sakitnya yang kadang datang tiba-tiba. Saya bukan masokis. Saya sengaja menyimpannya untuk Uce, adikku. Saya bilang hanya dia yang boleh mencabutnya nanti.

Dan bulan lalu, janji sembarangan itu tunai. Hanya beberapa hari setelah dia berhak menyandang gelar dokter gigi, saya pasrah duduk di dental chair di klinik tempatnya menumpang berpraktek. Membuka mulut hampir tiga jam, dan membiarkan dia mengutak-atiknya.  Selain pasien-pasien selama kurva belajarnya, saya adalah pasien pertamanya.

Sepuluh tahun sejak dia datang pertama kali ke kampus sebagai mahasiswa baru, baru sekarang saya bisa melihatnya sebagai sosok yang lain. Adik saya itu telah bermetamorfosa menjadi semacam Salman Al-Farisi bagi keluarga kami. Di depan sidang yudisium, dia berpidato mewakili dokter gigi-dokter gigi baru. Tentu saja itu bukan karena dia yang paling pintar. Yang paling lama, mungkin.

Ibuku, yang demi azas keadilan bertekad tak akan menghadiri semua wisuda anak-anaknya, hadir di yudisium itu. Ibu menangis ketika saya menghubunginya lewat telepon. Saya mengerti, dari kami lima bersaudara, Uce-lah yang paling sering membuat ibuku khawatir. Tapi sekarang Ibu boleh tersenyum. Dan saya, tidak pernah merasa menyesal telah menyimpan 3 gigi busuk itu bertahun-tahun.