Sukardal dan Kasifah: yang Tercecer di Pendakian

Umur saya baru delapan tahun ketika mendengar  tentang  Sukardal. Saya masih belajar membaca, dan dengan susah payah mengeja berita itu di koran yang selalu Bapak bawa pulang dari kantor. Bapak saya, seorang PNS yang tak  mau ketinggalan informasi, berlangganan 1 koran mingguan dan 2 koran harian plus tabloid Bola. Bola masih jadi sisipan Kompas ketika itu, belum berdiri sendiri seperti sekarang. Saya lupa di koran yang mana, yang pasti di salah satunyalah saya menemukan hikayat Sukardal. Seingat saya, itu salah satu informasi yang paling meretakkan jiwa di masa kecil saya, selain “Marni si kepala kuda” –tokoh dalam sebuah PSA tentang polusi udara, dan peristiwa Gerhana Matahari Total tahun 1983.

Sukardal, tukang becak berusia 53 tahun, mati gantung diri karena becaknya disita oleh petugas tramtib –dulu namanya tibum (ketertiban umum)– pada tanggal 2 Juli 1986. Ia memilih mati karena tak tahan mata pencahariannya direnggut. Sukardal kehilangan becaknya dalam sebuah penertiban malam di perempatan Kota Bandung. Melihat becaknya diangkut ke atas truk,  Sukardal meloncat dan bergelantungan di mobil tramtib yang sedang berjalan. “Saya mau bunuh diri! Saya mau bunuh diri!” teriaknya.

Dan dia membuktikan ucapannya. Pada sebuah pohon di depan sebuah rumah di Jalan Ternate, Sukardal ditemukan tergantung. Sebelum bunuh diri, kepada anaknya yang sulung, Sukardal menulis surat wasiat, meminta si sulung mengirim kembali adik-adiknya ke Jawa –entah Jawa sebelah mana, dan dia sendiri minta dimakamkan di Majalengka. “Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu,” begitu tulisnya.

Meski hanya seorang tukang becak, Sukardal adalah orang yang literer-ekspresif. Di tembok dekat dia gantung diri, Sukardal juga meninggalkan pesan: “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum!”

Begitulah. Sukardal memilih mati sebagai bentuk perlawanannnya terhadap (perangkat) negara yang represif. Dan karena dia  ‘hanya’ seorang tukang becak, dalam demografi dia sering disebut sebagai ‘orang kecil’. Dan karena disebut orang kecil, keberadaannya nyaris tak dianggap. Juga kematiannya.

19 tahun kemudian, satu lagi ‘orang kecil’ mati. Dan seperti Sukardal, kematiannya mirip slogan iklan motor Yamaha: nyaris tak terdengar. Kasifah namanya, nenek jompo berusia 86 tahun, penduduk kampung Karangsari, Banyuwangi, Jawa Timur ini, roboh ketika antri untuk mengambil dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada sebuah Jumat siang yang terik di akhir oktober 2005. Bersama ribuan warga desa lainnya, Kasifah berharap pada sedekah pemerintah sebagai kompensasi kenaikan BBM yang sejumlah 300 ribu untuk tiga bulan itu. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk Kasifah yang tinggal bersama anaknya, Poniem, seorang janda satu anak yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Kasifah menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke Puskesmas, ditangisi oleh Poniem yang seolah tak percaya hidup ibunya harus berakhir gara-gara uang sejumlah 300 ribu. “Oalah, Mbok, goro-goro duit telung ewu wahe dibayar karo nyowo…”
Tiba-tiba uang sebesar itu jadi begitu kecil artinya.

Saya menjamin, setiap kali pemerintah membuat kebijakan, kemungkinan besar mereka tak akan mempertimbangkan Sukardal dan Kasifah. Mereka –orang2 pintar dan berkuasa itu– terlalu agung untuk direcoki oleh hal-hal remeh seperti itu. Pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat terus bergulir, sementara rakyat kecil yang berdiam di bawah matahari yang sama itu hanya direken sebagai bagian dari data statistik. Golongan pra-sejahtera, sebentar lagi juga sejahtera. Entah kapan. Mungkin setelah mereka menang lotere.

Pak SBY berkali-kali berpidato dengan mimik yang letih seperti pegawai habis lembur, meminta rakyat untuk memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. SBY dibantu menteri-menterinya yang kaya raya itu tak henti-hentinya memaparkan landasan teori ekonomi yang ruwet agar dipahami oleh masyarakat. Tentu saja rakyat tak begitu saja bisa paham. Yang kita tahu, ketika BBM naik, tak ada yang akan turun kecuali harga diri.

Saya baru saja menamatkan buku “Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY”. Buku setebal dua ruas jari yang ditulis Dino Patti Djalal itu banyak memaparkan hal-hal di balik pengambilan keputusan SBY. Tentu saja semuanya yang baik-baik saja. Meski menurutku bagus, saya curiga buku itu jelas sebagai bagian dari kampanye SBY. Asal tahu saja, buku itu dibagi-bagikan gratis kepada tamu VIP di acara 100 Tahun Kebangkitan di Gelora Bung Karno tempo hari. Buku yang saya dapat itu sisa-sisanya, saya ambil di sekretariat panitia setelah acara selesai. Dino memang hebat memilih kata-kata. Saya sempat tersihir dan memaklumi semua keputusan SBY selama ini. Tapi tidak lama. Bergaul dengan orang miskin adalah mekanisme menjaga kesadaran yang paling efektif. Itulah kenapa Baginda Rasulullah Muhammad SAW berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan di tengah-tengah orang miskin. Dan dalam Amsal 14:31 juga disebutkan, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, berarti memuliakan Dia.”

Dalam buku itu,  SBY digambarkan sebagai seorang yang mission-oriented, mungkin karena latar belakangnya yang militer tulen. Dalam pemahaman yang kaku, kita dengan segera akan menilai SBY sebagai orang yang tak begitu peduli pada proses. Beberapa keputusannya belakangan ini memang cukup membuktikan itu. Seorang militer memang beda dengan pendaki gunung. Pendaki gunung bersusah payah ingin mencapai puncak, tapi puncak itu tak begitu penting untuknya. Ketika berada di atas, puncak gunung justru ada di bawah kaki seorang pendaki. Yang terpenting bagi seorang pendaki adalah proses untuk mencapai puncak itu sendiri. Jejak kaki yang hati-hati, keletihan, tarikan nafas, semangat kebersamaan, dan sebagainya yang  komunal.

Dia, yang sedang menjalankan negara ini, selalu ingin segera berhasil sampai ke puncak. Dia lupa, ada Sukardal dan Kasifah yang pernah ikut bersamanya, tercecer entah di tikungan jurang yang mana.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

7 Komentar pada “Sukardal dan Kasifah: yang Tercecer di Pendakian”

  1. baca ! « .. Says:

    […] .. « biru ? mana ? baca ! May 25, 2008 klik di sini […]

  2. ria Says:

    akhirnya bisa baca2 tulisan bang ochan lagi,
    selalu ada cara pandang berbeda melalui tulisan2nya…

    saya nyaris ikut2n memaklumi setiap hal yang beliau putuskan karena terpesona dengan gaya dan kemampuan berpidato dan berbicaranya..

    terima kasih buat tulisannya yang mencerahkan.

  3. dan Says:

    well said. seperti halnya dalam perang, seorang prajurit akan melakukan apapun agar bisa menang, tanpa mementingkan prosesnya. injek sana, injek sini, tembak sana, tembak sini.

    salam. nice blog, btw.

  4. muara hafidz Says:

    senang menemukan ‘halamanrawa’. begitu membaca rasanya tak kuasa untuk tidak menceburkan diri di kedalamannya… entah yang mana…

    salam dari anak Gerhana Matahati Total untuk para pendaki, pejalan kemalaman yang sll berharap baik pada akhirnya…

  5. yati Says:

    esmosi….! saya bisanya cuma emosi kalo bicara tentang DIA

  6. mc Says:

    sibuk q k’ochan? lamanya baru ada tulisan ta.
    welcome back:)

  7. erin Says:

    hem….what a blog…terima kasih dah mengunjungi bog saya….jadi saya bisa ketemu blog sehebat ini…

    anda benar boz…puncak tak begitu penting bagi seorang pendaki…proses..kebersamaan…tiap langkah…tarikan nafas…tetesan keringat…itu yang terpenting…karena dari situ kita belajar…

    aku link ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: