setelah kebangkitan

saya mengira setelah tadi malam, saya telah bermetamorfosa. Setelah dua anak kecil pembawa obor itu menyulut api kaldron, saya bahkan sempat terhinggapi rasa jumawa telah menjadi orang Indonesia yang baru: yang bisa bangun lebih pagi. Ternyata tidak.

Tadi malam, di stadion utama Gelora Bung Karno, saya termasuk di antara seratus ribu orang yang membalas berteriak “bisa!” begitu Presiden SBY selesai meneriakkan kata “Indonesia!”. sebuah yel-yel yang sudah dilatih sejak sore sebelum acara di mulai. Karena disiarkan oleh seluruh TV swasta dan lokal, mereka yang selain pelanggan TV kabel pasti menonton acara ini.

Inilah siaran langsung yang diklaim sebagai pagelaran terbesar kedua di dunia setelah acara pembukaan Olimpiade Sidney tahun 2000. Melibatkan lebih dari seribu panitia, 30 ribu pendukung acara, dan tentu saja penonton yang dua kali lipatnya penonton Woodstock 1969.
Tidak tanggung-tanggung, karena berdasarkan SK Presiden RI, kepanitiaan ini pun disejajarkan sebagai tugas negara. Saya, meskipun hanya kebagian peran kecil, tentu saja ikut bangga. Meski nggak ada apa-apanya dibanding kebanggaan Effendy Soen dan Misirin, dua dari lima peterjun yang sempat saya ajak ngobrol setelah pendaratan di gladi sehari sebelumnya.

Begitu pula dengan Pak Tursimin, seorang pemain reog yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek. Meski hanya dijatah 20 ribu sehari di luar honor main, dia tetap bangga bisa jumpalitan di depan SBY bersama rombongan reognya. Demikian pula dengan para pemain silat, prajurit pembawa umbul-umbul, penarik bendera, hingga pengusung jembatan yang dilalui dua anak kecil pembawa obor itu menuju podium SBY.

Mau tak mau, saya terbawa euforia itu. Buncah rasanya dada ini karena terlahir sebagai warga sebuah bangsa yang besar dan kaya. Apalagi ketika pada bagian tarian kipas dipertunjukkan rangkaian penari yang mengayunkan kipas membentuk konfigurasi gelombang. Maudy dan Tantowi yang menjadi MC membacakan filosofinya bahwa gelombang persoalan akan selalu ada dalam kehidupan namun kita akan tetap berdiri sebagai sebuah bangsa. Mantap kaleee!

Tapi pagi ini tiba-tiba saya mengalami burn-out point. Saya ternyata bukan Nicholas Saputra yang di iklan Sampoerna Foundation di Kompas hari ini, foto separuh wajahnya di-montage dengan wajah Dr. Soetomo sebagai ikon kebangkitan pemuda di zamannya.
Berjalan dari mesin ATM saya seperti kehilangan semangat yang tadi malam begitu bergelora. Bonus yang dijanjikan tak kunjung turun. Padahal susah sekali untuk bangkit jika nominal di rekeningmu tak mendukung, sementara ibu kos sudah menancapkan kuitansi di depan pintu kamar –dengan ps: mohon segera dilunasi.

Untungnya, sebagai panitia, Saya akhirnya bisa merasakan kedekatan emosional dengan sebagian pengisi acara yang memeriahkan acara tadi malam. Tiba-tiba saya merasa akrab dengan pemain pencak silat yang harus pulang ke Bogor dengan sisa satu lembar duit di dompet, juga seorang prajurit yang mengeluhkan bensin yang terus naik dan betapa susahnya memutar uang lauk pauk harian sejumlah 30.000 rupiah untuk memenuhi gizi keluarga.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

4 Komentar pada “setelah kebangkitan”

  1. Chalicious Says:

    Siip…
    Terimakasih, atas penegurnya…
    Bagai ditampar, mengingatkan saya bahwa, menulis dengan perasaan lagi kesel/bt adalah kurang baik.. :p Hehehe…

    Sukses ya…

  2. stania Says:

    Mao dong iklan Sampoerna Foundationnya discan terus ditempel disini. GUe belum liat nih.. Jauh.. 😀

  3. arsyi Says:

    Nasionalisme abang tak pernah aku ragukan sejak dulu….merdeka!!!

  4. yati Says:

    dananya brapa tuh? coba buat beli sembako yg harganya makin naik…
    😦 ah, saya, bisanya cuma ngomong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: