Arsip untuk Mei 2008

Sukardal dan Kasifah: yang Tercecer di Pendakian

Mei 25, 2008

Umur saya baru delapan tahun ketika mendengar  tentang  Sukardal. Saya masih belajar membaca, dan dengan susah payah mengeja berita itu di koran yang selalu Bapak bawa pulang dari kantor. Bapak saya, seorang PNS yang tak  mau ketinggalan informasi, berlangganan 1 koran mingguan dan 2 koran harian plus tabloid Bola. Bola masih jadi sisipan Kompas ketika itu, belum berdiri sendiri seperti sekarang. Saya lupa di koran yang mana, yang pasti di salah satunyalah saya menemukan hikayat Sukardal. Seingat saya, itu salah satu informasi yang paling meretakkan jiwa di masa kecil saya, selain “Marni si kepala kuda” –tokoh dalam sebuah PSA tentang polusi udara, dan peristiwa Gerhana Matahari Total tahun 1983.

Sukardal, tukang becak berusia 53 tahun, mati gantung diri karena becaknya disita oleh petugas tramtib –dulu namanya tibum (ketertiban umum)– pada tanggal 2 Juli 1986. Ia memilih mati karena tak tahan mata pencahariannya direnggut. Sukardal kehilangan becaknya dalam sebuah penertiban malam di perempatan Kota Bandung. Melihat becaknya diangkut ke atas truk,  Sukardal meloncat dan bergelantungan di mobil tramtib yang sedang berjalan. “Saya mau bunuh diri! Saya mau bunuh diri!” teriaknya.

Dan dia membuktikan ucapannya. Pada sebuah pohon di depan sebuah rumah di Jalan Ternate, Sukardal ditemukan tergantung. Sebelum bunuh diri, kepada anaknya yang sulung, Sukardal menulis surat wasiat, meminta si sulung mengirim kembali adik-adiknya ke Jawa –entah Jawa sebelah mana, dan dia sendiri minta dimakamkan di Majalengka. “Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu,” begitu tulisnya.

Meski hanya seorang tukang becak, Sukardal adalah orang yang literer-ekspresif. Di tembok dekat dia gantung diri, Sukardal juga meninggalkan pesan: “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum!”

Begitulah. Sukardal memilih mati sebagai bentuk perlawanannnya terhadap (perangkat) negara yang represif. Dan karena dia  ‘hanya’ seorang tukang becak, dalam demografi dia sering disebut sebagai ‘orang kecil’. Dan karena disebut orang kecil, keberadaannya nyaris tak dianggap. Juga kematiannya.

19 tahun kemudian, satu lagi ‘orang kecil’ mati. Dan seperti Sukardal, kematiannya mirip slogan iklan motor Yamaha: nyaris tak terdengar. Kasifah namanya, nenek jompo berusia 86 tahun, penduduk kampung Karangsari, Banyuwangi, Jawa Timur ini, roboh ketika antri untuk mengambil dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada sebuah Jumat siang yang terik di akhir oktober 2005. Bersama ribuan warga desa lainnya, Kasifah berharap pada sedekah pemerintah sebagai kompensasi kenaikan BBM yang sejumlah 300 ribu untuk tiga bulan itu. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk Kasifah yang tinggal bersama anaknya, Poniem, seorang janda satu anak yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Kasifah menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke Puskesmas, ditangisi oleh Poniem yang seolah tak percaya hidup ibunya harus berakhir gara-gara uang sejumlah 300 ribu. “Oalah, Mbok, goro-goro duit telung ewu wahe dibayar karo nyowo…”
Tiba-tiba uang sebesar itu jadi begitu kecil artinya.

Saya menjamin, setiap kali pemerintah membuat kebijakan, kemungkinan besar mereka tak akan mempertimbangkan Sukardal dan Kasifah. Mereka –orang2 pintar dan berkuasa itu– terlalu agung untuk direcoki oleh hal-hal remeh seperti itu. Pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat terus bergulir, sementara rakyat kecil yang berdiam di bawah matahari yang sama itu hanya direken sebagai bagian dari data statistik. Golongan pra-sejahtera, sebentar lagi juga sejahtera. Entah kapan. Mungkin setelah mereka menang lotere.

Pak SBY berkali-kali berpidato dengan mimik yang letih seperti pegawai habis lembur, meminta rakyat untuk memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. SBY dibantu menteri-menterinya yang kaya raya itu tak henti-hentinya memaparkan landasan teori ekonomi yang ruwet agar dipahami oleh masyarakat. Tentu saja rakyat tak begitu saja bisa paham. Yang kita tahu, ketika BBM naik, tak ada yang akan turun kecuali harga diri.

Saya baru saja menamatkan buku “Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY”. Buku setebal dua ruas jari yang ditulis Dino Patti Djalal itu banyak memaparkan hal-hal di balik pengambilan keputusan SBY. Tentu saja semuanya yang baik-baik saja. Meski menurutku bagus, saya curiga buku itu jelas sebagai bagian dari kampanye SBY. Asal tahu saja, buku itu dibagi-bagikan gratis kepada tamu VIP di acara 100 Tahun Kebangkitan di Gelora Bung Karno tempo hari. Buku yang saya dapat itu sisa-sisanya, saya ambil di sekretariat panitia setelah acara selesai. Dino memang hebat memilih kata-kata. Saya sempat tersihir dan memaklumi semua keputusan SBY selama ini. Tapi tidak lama. Bergaul dengan orang miskin adalah mekanisme menjaga kesadaran yang paling efektif. Itulah kenapa Baginda Rasulullah Muhammad SAW berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan di tengah-tengah orang miskin. Dan dalam Amsal 14:31 juga disebutkan, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, berarti memuliakan Dia.”

Dalam buku itu,  SBY digambarkan sebagai seorang yang mission-oriented, mungkin karena latar belakangnya yang militer tulen. Dalam pemahaman yang kaku, kita dengan segera akan menilai SBY sebagai orang yang tak begitu peduli pada proses. Beberapa keputusannya belakangan ini memang cukup membuktikan itu. Seorang militer memang beda dengan pendaki gunung. Pendaki gunung bersusah payah ingin mencapai puncak, tapi puncak itu tak begitu penting untuknya. Ketika berada di atas, puncak gunung justru ada di bawah kaki seorang pendaki. Yang terpenting bagi seorang pendaki adalah proses untuk mencapai puncak itu sendiri. Jejak kaki yang hati-hati, keletihan, tarikan nafas, semangat kebersamaan, dan sebagainya yang  komunal.

Dia, yang sedang menjalankan negara ini, selalu ingin segera berhasil sampai ke puncak. Dia lupa, ada Sukardal dan Kasifah yang pernah ikut bersamanya, tercecer entah di tikungan jurang yang mana.

setelah kebangkitan

Mei 21, 2008

saya mengira setelah tadi malam, saya telah bermetamorfosa. Setelah dua anak kecil pembawa obor itu menyulut api kaldron, saya bahkan sempat terhinggapi rasa jumawa telah menjadi orang Indonesia yang baru: yang bisa bangun lebih pagi. Ternyata tidak.

Tadi malam, di stadion utama Gelora Bung Karno, saya termasuk di antara seratus ribu orang yang membalas berteriak “bisa!” begitu Presiden SBY selesai meneriakkan kata “Indonesia!”. sebuah yel-yel yang sudah dilatih sejak sore sebelum acara di mulai. Karena disiarkan oleh seluruh TV swasta dan lokal, mereka yang selain pelanggan TV kabel pasti menonton acara ini.

Inilah siaran langsung yang diklaim sebagai pagelaran terbesar kedua di dunia setelah acara pembukaan Olimpiade Sidney tahun 2000. Melibatkan lebih dari seribu panitia, 30 ribu pendukung acara, dan tentu saja penonton yang dua kali lipatnya penonton Woodstock 1969.
Tidak tanggung-tanggung, karena berdasarkan SK Presiden RI, kepanitiaan ini pun disejajarkan sebagai tugas negara. Saya, meskipun hanya kebagian peran kecil, tentu saja ikut bangga. Meski nggak ada apa-apanya dibanding kebanggaan Effendy Soen dan Misirin, dua dari lima peterjun yang sempat saya ajak ngobrol setelah pendaratan di gladi sehari sebelumnya.

Begitu pula dengan Pak Tursimin, seorang pemain reog yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek. Meski hanya dijatah 20 ribu sehari di luar honor main, dia tetap bangga bisa jumpalitan di depan SBY bersama rombongan reognya. Demikian pula dengan para pemain silat, prajurit pembawa umbul-umbul, penarik bendera, hingga pengusung jembatan yang dilalui dua anak kecil pembawa obor itu menuju podium SBY.

Mau tak mau, saya terbawa euforia itu. Buncah rasanya dada ini karena terlahir sebagai warga sebuah bangsa yang besar dan kaya. Apalagi ketika pada bagian tarian kipas dipertunjukkan rangkaian penari yang mengayunkan kipas membentuk konfigurasi gelombang. Maudy dan Tantowi yang menjadi MC membacakan filosofinya bahwa gelombang persoalan akan selalu ada dalam kehidupan namun kita akan tetap berdiri sebagai sebuah bangsa. Mantap kaleee!

Tapi pagi ini tiba-tiba saya mengalami burn-out point. Saya ternyata bukan Nicholas Saputra yang di iklan Sampoerna Foundation di Kompas hari ini, foto separuh wajahnya di-montage dengan wajah Dr. Soetomo sebagai ikon kebangkitan pemuda di zamannya.
Berjalan dari mesin ATM saya seperti kehilangan semangat yang tadi malam begitu bergelora. Bonus yang dijanjikan tak kunjung turun. Padahal susah sekali untuk bangkit jika nominal di rekeningmu tak mendukung, sementara ibu kos sudah menancapkan kuitansi di depan pintu kamar –dengan ps: mohon segera dilunasi.

Untungnya, sebagai panitia, Saya akhirnya bisa merasakan kedekatan emosional dengan sebagian pengisi acara yang memeriahkan acara tadi malam. Tiba-tiba saya merasa akrab dengan pemain pencak silat yang harus pulang ke Bogor dengan sisa satu lembar duit di dompet, juga seorang prajurit yang mengeluhkan bensin yang terus naik dan betapa susahnya memutar uang lauk pauk harian sejumlah 30.000 rupiah untuk memenuhi gizi keluarga.