guru

Tidak lama lagi sebuah situs keren akan muncul meramaikan semesta dunia maya. Namanya “Bukan Tokoh Indonesia”. Insya Allah bisa diakses di alamat http://www.bukan-tokohindonesia.com. Diprakarsai oleh Budi Afriyan a.k.a Buyung, pemilik situs budiafriyan. wordpress. com. Seperti namanya, situs “Bukan Tokoh Indonesia” ini akan diisi dengan profil orang-orang sederhana, bukan tokoh, tapi inspiratif. Bisa siapa saja. Mungkin saja dia seorang guru TK di Gunung Kidul, atau tukang sedot tinja yang tinggal di sebelah rumah.

Beberapa hari lalu, Buyung mengajak saya untuk ikut menyumbang satu-dua tulisan. Dan yang segera terpikir di kepala saya adalah kisah tentang seorang dosen di kampus saya. Dia guru saya. Saya berencana menulis tentang dia.

Namanya Pak Mansyur Semma. Saya mengenalnya pertama kali di kelas mata kuliah “Dasar-dasar Jurnalisik”. Waktu itu saya baru menginjak semester 2. Badannya tegap dan tinggi. Gagah. Kesan pertama saya adalah dia bukan bagian dari kaum dosen formalis. Dia datang mengajar dengan pakaian celana jins dan topi rimba. Kepada mahasiswa pun dia selalu ramah.

Meski begitu, Pak Mansyur ini pengetahuan agamanya luas. Shalat jamaahnya tak pernah putus. beliau bahkan diangkat sebagai penasihat anak-anak mushalla se-universitas. Kalau Jumat beliau sering pakai baju gamis. Suatu hari, saya pernah “dipungut” di jalan sepulang jumatan. Diajak berboncengan di motornya, dan diantar sampai ke tempat kost saya. Menjelang turun, dia sempat menasehati saya tentang hidup sederhana. “16 tahun jadi dosen, Chan, saya cuma bisa punya vespa ini. Tapi saya bahagia…”
Itu yang saya ingat dia bilang.

Saya curiga dia mengenal saya sebagai anak bengal di kelas. Dalam salah satu kelas mata kuliahnya, saya pernah “mengolok-ngolok” teori yang dia ajarkan. Itu di mata kuliah “Sistem Komunikasi Indonesia”, di mana beliau menerangkan tentang kebiasaan2 masyarakat desa yang berhubungan dengan sistem komunikasi. Ada sesi dimana kami semua disuruh menyebutkan contoh kasus. Teman saya pada umumnya punya jawaban ilmiah. Ada yang memberi contoh penggunaan petunjuk rasi bintang oleh petani untuk menentukan musim bercocok tanam, dsbnya. Tiba giliran saya, saya memberi contoh -yang dikemudian hari sangat saya sesali. Saya bilang kebanyakan nelayan bisa meramalkan cuaca hanya dengan melihat posisi tidur istri mereka ketika bangun di pagi hari. Dari situlah mereka akan memutuskan untuk turun melaut atau tidak. Jika sang istri tidur miring ke kiri atau ke kanan berarti laut alun dan ombak tak terlalu besar. Jika telungkup, berarti angin semilir dan aman melaut. Tapi jika seorang nelayan terbangun dan mendapati istrinya sedang tidur telentang, maka biasanya mereka tak jadi melaut…
“memangnya cuaca kenapa kalau istri telentang?” ada yang bertanya.
“Cuacanya tidak apa-apa, si nelayan yang apa-apa…” kata saya.

Satu kelas tertawa. Dan seketika itu juga saya merasa akan membuat Pak Mansyur marah besar karena cerita karangan saya itu. Saya pun menoleh takut-takut ke beliau, tapi saya malah mendapati senyumnya mengembang lebar. Beliau tak jadi marah, dan memang tak pernah marah.
Setelah itu saya dan Pak Mansyur menjadi lumayan dekat. Di kemudian hari, saya justru ditawari jadi asistennya untuk mata kuliah ini. Tapi, tentu saja saya menolak. Bisa-bisa sesat itu mahasiswa semua…

Beliau juga mengenal saya sebagai seorang “wartawan mahasiswa” yang pernah berbuat “salah”. Saya pernah harus menggunting semua halaman terakhir di majalah kampus yang saya buat karena di situ ada ucapan selamat kepada beliau sebagai “Ketua Jurusan yang Baru”. Ternyata, beliau gak jadi dilantik sebagai Ketua Jurusan. Kami yang mengharapkan Pak Mansyur memimpin jurusan, mencurigai telah terjadi penjegalan, karena beberapa hari sebelumnya beliau telah dinyatakan sebagai ketua jurusan terpilih.


Pada suatu hari yang saya tak ingat pasti, Pak Mansyur menghampiri saya yang sedang nongkrong di pelataran baruga –gedung auditorium tempat nongkrong kami sehari-hari menanti kuliah. Di tangannya ada amplop coklat besar, yang ketika isinya dia keluarkan saya tahu itu foto rontgen.

“Ini batu ginjal saya, Chan” katanya menunjuk selarik titik putih di negatif foto itu. Dia memang biasa menyapa saya dengan nama kecil saja. Ochan. itulah kenapa pernah suatu kali nilai saya hampir error di salah satu mata kuliahnya karena lupa nama asli saya di daftar nilai.

“Saya disuruh opname sama dokter,” katanya lagi, yang disebutnya sebagai ‘perawatan ringan’. Dan beberapa hari kemudian beliau masuk rumah sakit. Saya tidak sempat menjenguknya di hari-hari awal perawatannya, tapi tiba-tiba saya mendengar Pak Mansyur kehilangan penglihatannya. Saya kaget bukan main. Demi Allah! Matanya baik-baik saja pada saat terakhir kami bertemu!

Kemungkinan beliau mengalami infeksi nasokomial, penyakit yang justru diperoleh pasien ketika dirawat di rumah sakit. Di kemudian hari, beberapa kali ngobrol dengan beliau, tak pernah sekalipun secara eksplisit dia menyebut kejadian yang menimpanya sebagai malpraktek.

Dalam masa perawatan karena ginjal di RS. Wahidin di Makassar itu, matanya tiba-tiba merah. Entah kenapa.

“Saat itu oleh mahasiswa kedokteran yang praktik dan dipandu satu dokter penanggung jawab, mata saya diberi sendothropi, kemudian diperiksa menggunakan kaca pembesar. Tapi setelah itu, bukannya mata saya sembuh, tapi malah tambah perih dan merah. Belakangan ketahuan kalau ternyata obat tetes yang diberikan ke mata saya sudah kedaluwarsa. Seminggu kemudian penglihatan saya gelap. Akhirnya setelah berobat ke sana kemari hingga ke Jakarta, dokter akhirnya memvonis mata saya buta total,” katanya saat diwawancarai KOMPAS.

Dalam rubrik profil di KOMPAS edisi 12 Desember 2006 itu, Pak Mansyur diwawancarai setelah beberapa hari sebelumnya berhasil memperoleh gelar Doktor dalam bidang ilmu sosial. Beliau berhasil mempertahankan desertasinya di depan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Hasanuddin.
Momen itu menjadi istimewa karena studi S-3 itu dilakoninya dalam keadaan buta total yang menderanya sejak tahun 2001.

Desertasinya yang berjudul “Negara dan Korupsi dalam Pandangan Mochtar Lubis” itu dikerjakannya dalam situasi serba prihatin. Pak Mansyur menganalisa pandangan Mochtar Lubis dalam editorial harian Indonesia Raya dengan pendekatan antropologi politik dan antropologi jurnalistik.
Untuk mengerjakan penelitian dan mengejar narasumbernya yang kebanyakan berada di Jakarta, Pak Mansyur harus berjibaku dengan ritme Jakarta yang keras. Dalam keadaan buta, Pak Mansyur dituntun putranya, Bosnia, naik turun bis kota dan kereta api. Sering dia terjatuh karena terlambat naik atau bis tiba-tiba sudah melaju padahal beliau belum benar-benar turun.

Pernah juga beliau dan anaknya diusir karena dikira peminta-minta sumbangan, dan dibiarkan menunggu berjam-jam di pintu pagar di depan rumah narasumbernya.
Kisah itu diceritakan Pak Mansyur sambil tertawa-tawa ketika saya mengunjunginya di rumah tempatnya menginap di Jakarta beberapa tahun lalu. Baginya, hidup memang senantiasa indah. dalam keadaan terang ataupun gelap.

Pak Mansyur aktif di Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) Sulawesi Selatan. Kebutaan yang dia alami tidak membuatnya berhenti berbuat baik. Di kalangan tuna netra, Pak Mansyur dikenal sebagai seorang motivator. Bersamanya, orang-orang seolah lupa yang dihadapi adalah seorang buta. Aktivitasnya sebagai dosen pun tetap berjalan. Dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa nya, proses belajar-mengajar tetap berlangsung normal. Saya, termasuk beruntung pernah berkhidmat kepadanya. Jika sempat mengunjunginya di kampus, saya sering membantunya membacakan beberapa bahan-bahan penelitiannya.

Tahun lalu, program Good News (almarhum) pernah mengangkat kisah beliau dalam salah satu segmennya. Saya menontonnya dengan mata berkaca-kaca. Tak dipungkiri lagi, saya punya ikatan emosional dengan beliau. Beberapa saat setelah itu, beliau menelpon saya minta dikirimi copyan tayangan itu. Saya janji akan mengirimkan secepatnya.

Lalu, secepat itu pula saya lupa. Sampai tadi pagi, saya dapat kabar Pak Mansyur Semma meninggal di RS.Labuang Baji Makassar karena gagal ginjal.

Si Lembut Hati itu telah berangkat. Semoga tenanglah engkau di sana. Maafkan saya, Pak…
Innalillaahi wainna ilaaihi raajiuun..

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

13 Komentar pada “guru”

  1. rusle Says:

    selamat jalan pak Mansyur
    meskipun saya tidak mengenalnya, tp dari magnitude yang beliau sebarkan ke orang-orang yang saya kenal membuat saya tergugah dan ikut berduka atas kepergiannya.
    semoga ilmu yang disebarkan, menjadikan wasilah buat dirinya di alam sana. Amin!

  2. yati Says:

    innalillah….
    :(( nda bisa ka….aduh….gemetaran ka, Chan 😦 ya Tuhan…
    nda ada yg bilang2… 😦

  3. dwi Says:

    kak, kita mrasakan kehilangan yang sama. semoga beliau tenang di sisi Tuhan

  4. yoyok Says:

    satu orang besar telah pergi, Tuhan menyayanginya

  5. icchankamin Says:

    sebagai pembimbing skripsi jelas mi kak kita’ yang paling kehilangan…tetapi kami semua merasa kehilangan beliau, yang sederhana itu..

  6. maryn03 Says:

    dua hari sebelum kepergian beliau…..
    aku masih berbincang di kamarnya beserta istri
    beliau cuma bisa makan sepotong gabin manis kala itu dan berkata, “saya pusing dan sakit sekali maryn……………”
    bapak…..
    selamat jalan…………….
    maafkan saya yang selalu menolak menjadi asistenmu karena ketidakmampuanku

  7. arhamkendari Says:

    Turut berduka..

    btw, berdiri bulu-buluku, Chan..
    jago mentongko bikin tulisan pembangun jiwa, ces.. 😦

  8. dJorsh Says:

    dalem bgt bos tulisannya…..
    “16 tahun jadi dosen, Chan, saya cuma bisa punya vespa ini. Tapi saya bahagia…”

    ga bs komen lagi…..

    thx bro….

  9. nourmi Says:

    Selamat jalan pak…
    saya mengenal beliau, meski beliau tidak pernah mengenal saya…
    hiks. Sedih juga waktu baca berita kepergiannya di koran.

  10. rahe Says:

    ka’ ochan, kapan nulis lagi, kami selalu menunggu tulisan2ta’
    salam biru merah kosmik….

  11. echy Says:

    kk, sudah lama postingan ta tdk muncul… aku merindukan sosokmu dalam tulisan…

  12. vey Says:

    aku pernah ketemu beliau di kantor AJI Mks, waktu itu beliau dimintai nasehat/petunjuk oleh teman2 di AJI Mks. Aku ikut nganterin beliau ke kampus pake mobil Sius….I knew he’s a great man….and after i read this, i know i was right.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: