Mata

Saya terobsesi pada mata. Bagi saya, bagian tubuh yang paling indah dari seseorang adalah matanya. Tidak peduli dia laki atau perempuan. Sejauh ini, pemilik mata yang paling indah urutan kedua di dunia menurutku adalah Aishwarya Rai, bintang film India yang mata hijaunya konon menyimpan kutukan manglik. Urutan pertama tentu saja Sarah.

Tapi kepada beberapa orang, saya sering bilang kalau suatu saat saya akan bertemu Imam Samudra. sekadar untuk melihat ke dalam matanya yang setajam pedang itu. Saya ingin merasakan seperti apa rasanya bersiborok mata dengannya. getar yang ditimbulkannya pasti beda dengan saat ketika bertatapan pertama kali dengan putri seorang tentara di SMA-ku dulu.

Dan ketika itu benar-benar terjadi, orang pertama yang saya kabari adalah adik saya, pengikut Ikhwanul Muslimin yang sering saya ajak debat ttg kebenaran. Saya bilang padanya, saya sudah bertemu dengan orang yang merasa dirinya sebagai Kebenaran itu sendiri.

Minggu lalu, Imam Samudra cs dijenguk keluarga dan pengacaranya di Nusakambangan. Kami ikut. Ada Mbak Aderia, Mbak Anie Rahmi, Prabu, Abe, dan saya. Setelah delapan jam perjalanan darat Jakarta-Cilacap ditambah beberapa menit menyeberang dengan feri, sampailah kami di LP Batu, Nusakambangan. Matahari masih sepenggalah tingginya. Kira-kira jam 10 pagi.

Tidak seperti yang kami harapkan sebelumnya, bahwa kami dijanjikan wawancara eksklusif dengan mereka, ternyata sudah banyak wartawan lain di sana. Ada Sinta juga, reporter tivi tetangga yang pernah bikin kasus dengan pura2 menyamar sebagai keluarga terpidana dan bawa pen-cam masuk ke penjara.

Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron alias Mukhlas, terlihat baik-baik saja. Siang itu semuanya pakai gamis. Imam dan Amrozi pakai sorban, sedang Mukhlas pakai topi ala taliban. Di catatan tamu yang harus diabsen petugas penjara, ada 44 nama. Yang pasti ada Embay Badriah dan Zakiah Syaiful Fauzan, ibu dan istri Imam. Mungkin istri Mukhlas, Paridah Abas yang menulis buku “Orang Bilang Ayah Teroris” itu, juga ada. Tapi saya tak yakin. Ada beberapa perempuan bercadar, dan saya tak pasti yang mana dia. Tidak seperti Imam yang tampak begitu rindu bercengkerama dengan istrinya, Mukhlas dan Amrozi lebih banyak ngobrol dengan penjenguk laki-laki lainnya. Ruangan tak seberapa besar itu seketika jadi penuh. Beberapa bocah berlarian, ada yang naik ke jendela, mencoba menghalangi kamera.

Menjelang tengah hari, Imam keluar menggandeng ibunya. Saya mencoba mencegatnya. “Kang, ada yang mau disampaikan? ” tanya saya. Saya ingin sesuatu yang benar-benar ingin dia katakan. Mungkin kemarahan seperti biasa, ketika dia mengutuk negara ini sebagai bangsa yang merugi. Bangsa yang menghambakan diri pada hukum kafir. KUHP itu kafir, begitu pernah kata dia.
“Nanti dulu, saya masih rindu sama ibu saya tercinta,” kata Imam.
Ditemani beberapa petugas penjara, Imam mengantar ibunya ke klinik LP. Ibu Embay agak kurang sehat tampaknya. Saya tak habis pikir, orang yang kelihatan begitu menyayangi ibunya itu bisa meledakan bom yang mematikan banyak orang.

Dalam beberapa wawancara, Ibu Embay sering menyebut Imam sebagai anak yang cengeng di masa kecilnya. Sama sekali bukan pemberani. Lulu, adiknya nomer 10 juga mengiyakan. Menurutnya, Imam itu tak pernah berkelahi dan tak suka kekerasan. Meski Imam sendiri cenderung membantah dirinya disebut sebagai anak cengeng. Wajar, tentu tak ada yang ingin disebut anak cengeng, bukan? Sebaliknya, Imam cerita kalau suatu kali dia pernah dihukum ibunya dan dia hanya tertawa-tawa menjalani hukumannya.

Tapi yang pasti, matanya tak bisa berbohong. Saya teringat Perry Smith, tokoh dalam buku In Cold Blood-nya Truman Capote. Dia orang yang dingin dan tak punya belas kasihan. Meski dia bilang semua yang dia lakukan awalnya adalah karena urusan belas kasih. Entah bentuk yang mana. Dia menyebut Uswatun Hasanah, tentang seorang perempuan yang membuatnya meledakkan sebuah gereja di Batam pada tahun 2000. Uswatun Hasanah adalah bahasa arab yang artinya suri teladan, biasa dinisbatkan kepada Rasulullah. Tapi ada beberapa orang yang memakai Uswatun Hasanah sebagai nama perempuan.

Belakangan saya coba searching di Google Yang Maha Tahu, dan dari 161 entri dengan keyword “Imam Samudra+Uswatun Hasanah”, tak satu pun yang menerangkan itu adalah nama seseorang yang berkaitan. Jadi, jika saya tak salah tangkap, berarti inilah pertama kali dia menyebut nama itu kepada media. Imam cerita tentang seorang perempuan muslimah yang dimurtadkan lalu diperkosa oleh laki-laki dari agama lain. Dari sinilah kebenciannya bermula. Setelah itu dia berpikir, siapa pun yang kafir wajib diledakkan.

Wawancara dengan Imam berjalan lama. Beberapa kali dia membuatnya seperti khotbah Jumat. Saya butuh dua kaset untuk merekam semua omongannya. Tidak semua pertanyaan dari kami. Kebanyakan dari seorang wartawan berkacamata yang kalau melihat daftar pertanyaannya seperti ingin bikin disertasi.

Sebagai camera-person, saya memberanikan diri bertanya di kesempatan terakhir: “Pernah tidak, sekali saja, dalam kepala Anda ada keinginan untuk bertemu dengan istri atau anak-anak dari korban-korban bom Anda. Sekadar untuk melihat mata mereka, dan penderitaan yang Anda sebabkan?”

Dia menjawab, dengan matanya yang tajam menatap saya yang meringkuk di bawah tripod. Tak ada lagi eye level, kali ini. Dan sudah pasti saya tak suka jawabannya. Dia bicara tentang “kafarat”. Sesuatu yang tak akan dipahami oleh anak-anak yang kehilangan ayah. Sesuatu yang tak akan dipahami oleh istri-istri yang melihat jazad suaminya telah berupa cabikan-cabikan daging.

Abraham Lincoln pernah bilang, siapa pun yang pernah melihat mata seorang prajurit yang meregang nyawa, akan berpikir dua kali untuk memulai perang. Bush pasti tak pernah. Tapi Imam Samudra mungkin sering. Dia veteran perang Afganistan. Toh, dia memulai perangnya juga.

Menjelang sore, kunjungan bubar. Napi-napi yang sudah jadi warga binaan berkerumun menawarkan batu permata di sepanjang jalan. Selain pulang bawa berita, saya juga membawa kebingungan. Sadar betapa sedikit yang saya pahami tentang kebenaran.
Hampir sepanjang hidup saya, saya selalu melihat ke mata seseorang untuk memastikan dia tidak membohongi saya. Kali ini beda, rasanya saya hanya menerima agresi.

Di dermaga menunggu menyeberang pulang, saya bertemu anak kecil membawa gelas aqua kecil. Itu Salsabilla atau Tasniem, putri Imam Samudra. Dan saya tak berani melihat matanya.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

6 Komentar pada “Mata”

  1. abo Says:

    sarah itu siapa bro?

  2. yati Says:

    selalu bikin iri!

    * chan, taukah alamat imelnya istrinya arief budiman? atau pak arief-nya aja skalian. kalau boleh sih…

  3. arhamkendari Says:

    saya juga pingin banget ketemu imam 😦

    *imam penghulu, maksudnya*

  4. Ndy Says:

    masih ingat juga putri tentara itu, Chan… heheheh…

  5. ryan Says:

    maafkan adikmu ini, tapi mengapa paman ochan gak pernah mau jujur dengan semuanya…..

  6. stania Says:

    chan, kok gak langsung di posting di http://www.bukan-tokoh... aja sih? secara itu situs masih kosong sampe sekarang…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: