Arsip untuk Februari 2008

Mata

Februari 17, 2008

Saya terobsesi pada mata. Bagi saya, bagian tubuh yang paling indah dari seseorang adalah matanya. Tidak peduli dia laki atau perempuan. Sejauh ini, pemilik mata yang paling indah urutan kedua di dunia menurutku adalah Aishwarya Rai, bintang film India yang mata hijaunya konon menyimpan kutukan manglik. Urutan pertama tentu saja Sarah.

Tapi kepada beberapa orang, saya sering bilang kalau suatu saat saya akan bertemu Imam Samudra. sekadar untuk melihat ke dalam matanya yang setajam pedang itu. Saya ingin merasakan seperti apa rasanya bersiborok mata dengannya. getar yang ditimbulkannya pasti beda dengan saat ketika bertatapan pertama kali dengan putri seorang tentara di SMA-ku dulu.

Dan ketika itu benar-benar terjadi, orang pertama yang saya kabari adalah adik saya, pengikut Ikhwanul Muslimin yang sering saya ajak debat ttg kebenaran. Saya bilang padanya, saya sudah bertemu dengan orang yang merasa dirinya sebagai Kebenaran itu sendiri.

Minggu lalu, Imam Samudra cs dijenguk keluarga dan pengacaranya di Nusakambangan. Kami ikut. Ada Mbak Aderia, Mbak Anie Rahmi, Prabu, Abe, dan saya. Setelah delapan jam perjalanan darat Jakarta-Cilacap ditambah beberapa menit menyeberang dengan feri, sampailah kami di LP Batu, Nusakambangan. Matahari masih sepenggalah tingginya. Kira-kira jam 10 pagi.

Tidak seperti yang kami harapkan sebelumnya, bahwa kami dijanjikan wawancara eksklusif dengan mereka, ternyata sudah banyak wartawan lain di sana. Ada Sinta juga, reporter tivi tetangga yang pernah bikin kasus dengan pura2 menyamar sebagai keluarga terpidana dan bawa pen-cam masuk ke penjara.

Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron alias Mukhlas, terlihat baik-baik saja. Siang itu semuanya pakai gamis. Imam dan Amrozi pakai sorban, sedang Mukhlas pakai topi ala taliban. Di catatan tamu yang harus diabsen petugas penjara, ada 44 nama. Yang pasti ada Embay Badriah dan Zakiah Syaiful Fauzan, ibu dan istri Imam. Mungkin istri Mukhlas, Paridah Abas yang menulis buku “Orang Bilang Ayah Teroris” itu, juga ada. Tapi saya tak yakin. Ada beberapa perempuan bercadar, dan saya tak pasti yang mana dia. Tidak seperti Imam yang tampak begitu rindu bercengkerama dengan istrinya, Mukhlas dan Amrozi lebih banyak ngobrol dengan penjenguk laki-laki lainnya. Ruangan tak seberapa besar itu seketika jadi penuh. Beberapa bocah berlarian, ada yang naik ke jendela, mencoba menghalangi kamera.

Menjelang tengah hari, Imam keluar menggandeng ibunya. Saya mencoba mencegatnya. “Kang, ada yang mau disampaikan? ” tanya saya. Saya ingin sesuatu yang benar-benar ingin dia katakan. Mungkin kemarahan seperti biasa, ketika dia mengutuk negara ini sebagai bangsa yang merugi. Bangsa yang menghambakan diri pada hukum kafir. KUHP itu kafir, begitu pernah kata dia.
“Nanti dulu, saya masih rindu sama ibu saya tercinta,” kata Imam.
Ditemani beberapa petugas penjara, Imam mengantar ibunya ke klinik LP. Ibu Embay agak kurang sehat tampaknya. Saya tak habis pikir, orang yang kelihatan begitu menyayangi ibunya itu bisa meledakan bom yang mematikan banyak orang.

Dalam beberapa wawancara, Ibu Embay sering menyebut Imam sebagai anak yang cengeng di masa kecilnya. Sama sekali bukan pemberani. Lulu, adiknya nomer 10 juga mengiyakan. Menurutnya, Imam itu tak pernah berkelahi dan tak suka kekerasan. Meski Imam sendiri cenderung membantah dirinya disebut sebagai anak cengeng. Wajar, tentu tak ada yang ingin disebut anak cengeng, bukan? Sebaliknya, Imam cerita kalau suatu kali dia pernah dihukum ibunya dan dia hanya tertawa-tawa menjalani hukumannya.

Tapi yang pasti, matanya tak bisa berbohong. Saya teringat Perry Smith, tokoh dalam buku In Cold Blood-nya Truman Capote. Dia orang yang dingin dan tak punya belas kasihan. Meski dia bilang semua yang dia lakukan awalnya adalah karena urusan belas kasih. Entah bentuk yang mana. Dia menyebut Uswatun Hasanah, tentang seorang perempuan yang membuatnya meledakkan sebuah gereja di Batam pada tahun 2000. Uswatun Hasanah adalah bahasa arab yang artinya suri teladan, biasa dinisbatkan kepada Rasulullah. Tapi ada beberapa orang yang memakai Uswatun Hasanah sebagai nama perempuan.

Belakangan saya coba searching di Google Yang Maha Tahu, dan dari 161 entri dengan keyword “Imam Samudra+Uswatun Hasanah”, tak satu pun yang menerangkan itu adalah nama seseorang yang berkaitan. Jadi, jika saya tak salah tangkap, berarti inilah pertama kali dia menyebut nama itu kepada media. Imam cerita tentang seorang perempuan muslimah yang dimurtadkan lalu diperkosa oleh laki-laki dari agama lain. Dari sinilah kebenciannya bermula. Setelah itu dia berpikir, siapa pun yang kafir wajib diledakkan.

Wawancara dengan Imam berjalan lama. Beberapa kali dia membuatnya seperti khotbah Jumat. Saya butuh dua kaset untuk merekam semua omongannya. Tidak semua pertanyaan dari kami. Kebanyakan dari seorang wartawan berkacamata yang kalau melihat daftar pertanyaannya seperti ingin bikin disertasi.

Sebagai camera-person, saya memberanikan diri bertanya di kesempatan terakhir: “Pernah tidak, sekali saja, dalam kepala Anda ada keinginan untuk bertemu dengan istri atau anak-anak dari korban-korban bom Anda. Sekadar untuk melihat mata mereka, dan penderitaan yang Anda sebabkan?”

Dia menjawab, dengan matanya yang tajam menatap saya yang meringkuk di bawah tripod. Tak ada lagi eye level, kali ini. Dan sudah pasti saya tak suka jawabannya. Dia bicara tentang “kafarat”. Sesuatu yang tak akan dipahami oleh anak-anak yang kehilangan ayah. Sesuatu yang tak akan dipahami oleh istri-istri yang melihat jazad suaminya telah berupa cabikan-cabikan daging.

Abraham Lincoln pernah bilang, siapa pun yang pernah melihat mata seorang prajurit yang meregang nyawa, akan berpikir dua kali untuk memulai perang. Bush pasti tak pernah. Tapi Imam Samudra mungkin sering. Dia veteran perang Afganistan. Toh, dia memulai perangnya juga.

Menjelang sore, kunjungan bubar. Napi-napi yang sudah jadi warga binaan berkerumun menawarkan batu permata di sepanjang jalan. Selain pulang bawa berita, saya juga membawa kebingungan. Sadar betapa sedikit yang saya pahami tentang kebenaran.
Hampir sepanjang hidup saya, saya selalu melihat ke mata seseorang untuk memastikan dia tidak membohongi saya. Kali ini beda, rasanya saya hanya menerima agresi.

Di dermaga menunggu menyeberang pulang, saya bertemu anak kecil membawa gelas aqua kecil. Itu Salsabilla atau Tasniem, putri Imam Samudra. Dan saya tak berani melihat matanya.

Iklan

Banjir

Februari 3, 2008

saya udah hampir lima tahun di kantor ini, tapi seingat saya baru kali suara hujan tembus masuk hingga ke dalam ruangan. Petir juga, kilatannya terlihat lebih menyeramkan di malam hari. jam satu lewat. besok pasti akan banjir besar lagi. Kemarin Pak SBY terjebak banjir di daerah thamrin.  Biar saja. biar dia tahu. Saya tugas live di pondok karya kemarin. Banjir sepinggang orang dewasa. Miris melihat harta benda terendam dan tergenang. Seorang wartawan Jepang nanya gedean mana banjir ini dibanding banjir tahun 2002. Tahun 2002 saya belum jadi wartawan, masih nongkrong2 di kampus nun jauh di makassar. saya jawab seenaknya saja. Saya bilang gedean kali ini. Padahal lebih gede tahun 2002, kata temanku kemudian. Tahun lalu saja masih lebih parah. Di mataku, banjir sebetis juga tetap saja menyakitkan. Rumahku di daerah gunung, rumah panggung khas orang kampung. tak pernah kami harus mengungsi bawa2 barang hanya karena air. Cuma di Jakarta saya bisa melihat kursi sofa mengambang di depan rumah.

Sukur besok saya libur. Sedih juga kalau besok harus live banjir lagi. Libur cuma sesekali sejak dari Pak Harto wafat. Kemarin itu saya kebagian tugas di Halim pas pemberangkatan jenazah Pak Harto ke Solo. Omong-omong tentang Pak  Harto, banyak yang syukur beliau wafat. Mas Dayat sampe sujud syukur. Saya juga dapat sms dari seorang teman. isinya: “god damnit! soeharto mati. enak banget!!!”

Dari segi konten, Trans termasuk yang lumayan kontra Pak Harto. mungkin karena sekarang yang megang desk banyak anak-anak muda seperti Aderia, Desi, Ponco, dll. Seharian kita ngundang tamu orang2 yang pernah ditindas ama soeharto. Mulai dari putri Bung Karno sampai mantan gerwani. akhirnya saya, yang megang nomor hotline Reportase kebagian menerima makian2 lewat sms. Fuck Off Trans! Ada yang nulis begitu. Kita dianggap tidak menghargai pemimpin bangsa. Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu masalahnya. kasian orang2 kedungombo, talangsari, kalau kami juga ikut2an seperti tivi lain yang menyanjung-nyanjung,

Secara pribadi, saya gak ada urusan dengan Pak Harto. Tak juga dendam. Bahwa saya pernah digebuk militer, itu bukan salah dia. Saya juga bukan penerima beasiswa Supersemar semasa kuliah.

dan malam ini, hujan turun deras sekali. cocok sekali sambil dengar lagu The Panasdalam.