Arsip untuk Desember 2007

Harapan

Desember 31, 2007

besok malam akan live dari Ancol pas countdown. Malam ini masih ngerjain video tape aneh bin ajaib, menyalahi pakem vt pada umumnya. Dalam menit, saya coba ngumpulin harapan orang2.  semua dapat kecuali pengungsi Aceh. Bang Didik gak sempat kirim gambar karena keburu digeser ke Sabang ngejar pesawat nomad AL yang jatuh di perairan Sabang. Dari “O” juga gagal, saya gak sempat ngajuin permohonan wawancaranya. Padahal beberapa hari sebelumnya saya menghubungi dia dan dia juga menghubungi saya, tapi gak nyambung. Waktu saya telpon gak aktif. Waktu dia telpon, saya lagi shalat isya. Saya telpon balik, hpnya dah gak aktif lagi.

Baru kemarin kepikiran buat ngejar soundbite dia tentang harapannya di 2008. Kalau masih ada. Menurut jadwal, tahun depan dia akan segera menjalani hukuman matinya.  

Turun

Desember 18, 2007

alhamdulillah. saya menulis ini ketika ngantuk yang saya tunggu-tunggu belum juga sampai di ubun-ubun. saya ucapkan banyak terima kasih untuk mereka yang telah memporakporandakan jam tidurku. tadi siang lagi2 saya bangun dan dengan begonya bertanya “kok terang?”.

hari ini juga. saya menjadwalkan untuk bangun jam lima pagi nanti, tapi hingga jam segini saya masih mengetuk-ngetuk keyboard gak jelas. di luar hujan turun. tapi pengejawantahan kenaikan gaji yang ditunggu-tunggu malah gak turun. Halah!!

Surat

Desember 14, 2007

Ada surat yang tiba di meja kami hari ini. Tertanggal 27 November 2007. Dari Jibril Ruhul Kudus, katanya. Isinya tentang penghakiman Tuhan atas 3 orang yang dianggap sewenang-wenang: Bagir Manan, Arief Basuki, dan Oktario Hartawan Achmad.

Baru tau saya, Jibril bisa tanda tangan juga, ternyata. 

Tugas

Desember 7, 2007

Kira-kira seminggu yang lalu, saya ikut melerai (hampir) perkelahian antara kawan saya Teddy dan Y, sebut saja begitu, seorang ajudan informal Wapres JK. Saya pakai inisial Y karena dalam pertemuan di ruangan bekas Mas Iwan itu, telah diperoleh kesepakatan untuk tidak melanjutkan masalah ini. Masalah dianggap selesai di ruangan itu.

Tapi tidak bagi Teddy, dan Y juga. Keluar ruangan, Y masih menyumpah-nyumpah, merasa dipermalukan karena harus datang minta maaf. Dia memang bersalah, setidaknya begitu menurut surat pernyataan permohonan maaf yang dia tandatangani sendiri. Teddy pun demikian, dia menganggap Y masih berhutang 1 pukulan, seperti yang dia terima di lokasi liputan, ketika Y melayangkan tinjunya dan mengenai wajah Teddy.

Teddy merasa melaksanakan tugas jurnalistik, sedang Y merasa melaksanakan tugas keprotokoleran pengamanan Wapres. Dan saya melaksanakan tugas melaporkan di blog ini. Hehehehe…