Arsip untuk November 2007

Proyeksi

November 30, 2007

Hingga malam ini, rasa malas yang menderaku mulai memasuki tahap akut. Ini malam ketiga saya dapat giliran ronda. Tidak ada kejadian istimewa. Cuma pantau-pantau saja. Barusan Irin laporan lewat telpon mengabarkan bahwa tidak apa-apa di Mabes Polri, sekalian minta ijin untuk bergeser ke kantor BNN. Saya bilang boleh saja, asal nanti pulang bawa martabak.

Kemarin malam, Wahyu Kemoceng dapat gambar semi-eksklusif pemindahan Ahmad Albar dari BNN ke Mabes Polri. Dibilang semi-eksklusif karena cuma dia dan wartawan SCTV yang dapat gambar itu. Yang lainnya ketipu masuk ke Polda. Hehehe.

Tapi kita jebol gambar Fachri menyerahkan diri. Anak Ahmad Albar itu konon menyerahkan diri pada saat bersamaan bapaknya dipindahin. Yang dapat gambarnya cuma ANTV yang menurunkan 3 tim sekaligus.  Wahyu VJ malam itu, sendirian. Kasian juga. Tapi mau gimana lagi, timnya gak cukup.

Begitulah. Banyak yang bilang, jadi AE (assigment editor=kordinator liputan, bukan account executive. Kalo AE yang itu mah duitnya banyak!) itu kursi panas. Tapi menurutku biasa aja. Kalo gak salah hitung, ini sudah minggu keduaku di sini dan saya masih baik-baik saja. Kecuali bokong yang mulai bentuk kotak karena kebanyakan duduk. Memang sih stress-nya lumayan tinggi, mulai dari komposisi tim yang biar dibolak-balik gimana pun tetap saja gak pernah cukup, kekhawatiran bakal jebol peristiwa gede –tiba-tiba ada bom misalnya dan saya sedang ketiduran di pojokan, sampai ke komplain teman yang lagi-lagi di-PA Pagi-kan. Seperti Yuti, misalnya. Dia mulai khawatir kehidupan rumah tangganya bakal terganggu karena terlalu sering tugas malam….

[stop press: 02.00 WIB] Irin laporan, Fachri baru saja tiba di BNN diantar bibinya Camelia Malik. Jadi jelaslah, berita tertangkapnya Fachri Albar kemarin malam itu adalah gosip semata. Irin dan kameramennya, Cep Hari, dapat gambar dia masuk, katanya. Saya minta mereka nunggu dulu sampai ada rilis resmi dari BNN, dan tak lupa mengingatkan Irin tentang martabak…

[lanjut] sori, keselak. Oya, sampai di mana tadi? OK. Nah, jadi rollingan kali ini tidak terlalu buruk sebenarnya. Posisi ini tidaklah seseram yang dikatakan teman-teman. Saya malah senang, ada kesempatan untuk mencoba hal baru. Bisa konsen baca koran dan nonton tv lagi. Bisa jeda. Sepulang dari Afrika kemarin, saya memang ada niat untuk duduk tenang dulu. Berpikir ulang tentang banyak hal, dan mempersiapkan rencana-rencana masa depan yang menyangkut diri sendiri maupun berdua. Hugh!!! Tiba-tiba pengen batuk….

Nah, karena gak tau mau nulis apa lagi, berikut saya cantumkan proyeksi untuk Jumat 30 November 2007 sebagai berikut:

Aulia-Cholis: serah terima kapal Jepang di Dir Pol Air. Zulfikri: Unjuk rasa ODHA di Bunderan HI. Ratdum-Tijoe: update Ahmad Albar di Mabes Polri, lanjut kopers UNFCC di kantor KLH. Devi-Selly: sanitasi air Koja, lanjut kejar wawancara Donny Fatah dan Jocky Suryaprayogo. Prabu: update tol ulujami. Fitri-Agus: update korban diare di RS Koja. Miranti-Abe: bikin BISNIS ANDA. Ikhwan: demo Famred di depan istana. Cep Hari-Vanico: hunting kriminal. Sari-Nisa: staf AE. Arien-Felis-Desi: PA Sore. Wilson-Utrich-Dwi: PA Malam. Yoane-Bagus-Helmi-Irin: PA Pagi.

Demikian. Saya ngantuk. Pusing, tadi gak dapat jatah…. 🙂

Iklan

Linda

November 26, 2007

Tiba-tiba pembicaraannya berubah menjadi kuliah sejarah. Dia tak lagi menjelaskan apa saja yang kami lewati di sisi kiri dan kanan.

“Saya tak mungkin bisa menceritakan sejarah Afrika Selatan tanpa menjadi rasis. Orang lain mungkin bisa, tapi saya tidak,” katanya.

Dan akhirnya dia memang banyak bercerita tentang negaranya. Betapa negaranya telah jauh berubah dibanding sebelum Mandela memimpin. Kami sedang dalam perjalanan dari Johannesburg ke Rustenburg, lintas propinsi. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan darat.

Melewati Pretoria, saya minta izin mengajukan satu pertanyaan padanya. Pertanyaan yang mungkin bersifat pribadi tapi entah mengapa saya merasa harus menanyakan itu.

“Okelah, Sir. Mungkin saja negaramu telah jauh berubah saat ini, tapi kalo boleh saya tahu, seingat Anda, kapan Anda terakhir mendapat perlakuan rasis?” tanya saya pelan, khawatir menyinggung perasaannya.

Dia terdiam sebentar, seperti mengingat-ingat. “Yesterday!” katanya mantap, seolah menegaskan bahwa mereka memang tak akan pernah benar-benar terbebas dari diskriminasi, betapapun apartheid telah lama runtuh.

Namanya Linda, nama perempuan, tapi menurutnya begitulah seorang laki-laki perkasa seharusnya dinamai di sukunya. Dia mengaku berasal dari suku Zulu. Kakeknya yang memberi nama itu. Kulitnya legam. Saya harus menaikkan beberapa stop bukaan iris  di kamera saya supaya wajahnya bisa terlihat lebih jelas. Kamera ini juga rasis, setting auto-nya dibuat sesuai standar skin tone orang Jepang kayaknya!

Sampai di Rustenburg, kami berpisah. Saya turun, sedang Linda bersama busnya harus kembali lagi Johannesburg. Hampir magrib saat itu, dan entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada Nabi Nuh.

[my african journey, last assignment in “Jelajah”, 9-17 November 2007]

Celebration of Hope

November 19, 2007

Jam 7 masih terlalu pagi di sini; sepi dan dingin; plaza-plaza belum buka; hanya ada 2 orang penjaga yang berdiri di depan patung pahlawannya; celebration of hope.

sedang apa? pasti siang gedombrangan di situ; dan kamu baru bergegas;

aku rindu ayun langkahmu; yang sering sengaja kubiarkan berjalan beberapa langkah di depanku.

[nelson mandela square,  sandown, south africa: 111107-o7.00]