Arsip untuk Mei 2007

Enuff Z’nuff

Mei 30, 2007

Waktunya untuk berhenti. Hanya satu yang kuyakini sekarang.  Five months enough for pain.

Scar. Bismillah. Amin. Doakan saya.

the cameraworks

Mei 19, 2007

High angle. Menunggu adzan azar di teras belakang ditemani segelas kopi, sambil menonton orang yang datang dan pergi di parkiran bawah. Hari libur yang tetap ramai. Ada persiapan panggung untuk besok. Panggung kebangkitan. Mungkin mereka pikir keterpurukan negara ini bisa bangkit dengan selagu dua lagu. 

Eye level. Di kejauhan,  mobil-mobil tampak bergerak pelan, terseok-seok mendaki fly over Pancoran. Dari tempat ini, saya bisa melihat setinggi mobil-mobil itu.

Di ruang pantry, terhalang kaca, 3 orang kameramen sedang membahas teknis kamera. Saya sempat mendengar sebagian obrolan mereka ketika lewat tadi. Tentang golden moment. Itu ketika matahari mulai menanjak di pagi hari, sekira pukul 6 hingga 9 pagi. Dan ketika matahari mulai menukik di sore hari, sekira pukul 3 hingga 6 sore.

Itu waktu di mana cahaya matahari bersinar paripurna, dan semua warna akan tertangkap jauh lebih indah di kamera.

Akankan hidup seperti itu pula. Mungkin indah hanya ketika mulai menanjak dan menukik berakhir. Rasa-rasaya hanya ketika fajar dan senja pendar-pendar warna terindah akan keluar dan menghibur mata.  Waktu yang tidak lama.

Setelah fajar, tiba-tiba kita sadar bahwa hidup harus diperjuangkan. Lalu kita membabi buta. Dan menjelang senja, seketika kita ingat bahwa hidup akan segera berakhir. Hanya diberi sedikit peringatan oleh warna kuning jingga serupa telur dadar. Yang sebentar lagi juga tenggelam di batas cakrawala.

Dan demikianlah saya merasa ada yang salah dengan hidup saya selama ini. Mungkin jalurnya. Banyak yang perlu dibenahi. Tidak terlalu elok dilihat di view finder.

Allah,  aku tahu Engkau tak hanya melihat dengan Bird’s Eye View. Engkau punya semua angle, yang tak bisa dilakoni oleh kamera paling mutakhir sekalipun.

Engkau Maha Melihat. Terima kasih masih Engkau biarkan hidupku terekam. Jangan kasih scratch lagi

glossary:

High Angle: In this shot the camera looks down on the subject, decreasing its importance. The subject looks smaller. It often gives the audience a sense of power, or makes the subject seem helpless.

Eye level:  A fairly neutral shot; the camera is positioned as though it is a human actually observing a scene, so that eg actors’ heads are on a level with the focus. The camera will be placed approximately five to six feet from the ground.

Viewfinder: The device through which the camera operator views the scene being photographed. The camera viewfinder is a miniature televison monitor.

Bird’s Eye View: This shows a scene from directly overhead, a very unnatural and strange angle. Familiar objects viewed from this angle might seem totally unrecognisable at first (umbrellas in a crowd, dancers’ legs). This shot does, however, put the audience in a godlike position, looking down on the action. People can be made to look insignificant, ant-like, part of a wider scheme of things. Hitchcock (and his admirers, like Brian de Palma) is fond of this style of shot.

Scratch: apa ya…? gak tau. rusaklah pokoknya! 

Tenang

Mei 18, 2007

Duduklah yang tenang, Nak. Dan biarkan doa ibumu bekerja….

Tentang Kabut

Mei 6, 2007

Saya belum pernah merasakan kabut setebal ini, dan tak pula ingin membayangkan terjebak di dalamnya. Saya pikir kabut di Kintamani yang paling keren –karena ada lagunya, “Kabut di Kintamani”–, tapi ini ternyata lebih keren. Cemorosewu, jalur menanjak perbatasan Madiun-Solo. Salah satu titik awal pendakian menuju Gunung Lawu. Sebelah kiri jurang, sebelah kanan tebing. Beberapa kali kami berpapasan dengan iring-iringan kendaraan yang berjalan pelan, membentuk siluet yang, “seperti di film,” kata Bagus, kawan reporter saya.

Di sepanjang jalan, banyak kendaraan yang sudah berhenti menyalakan lampu sein, menyerah pada kabut dan tanjakan yang mematikan. Padahal malam masih terlalu muda. Azan magrib baru saja berkumandang.

Kami menemukan sebuah mesjid kecil yang lumayan terang cahayanya, kontras dengan jalanan yang gelap dan jarak pandang yang pendek. Di dalam lumayan ramai juga, ada serombongan anak muda shalat berjamaah yang kelihatannya sedang menjalani pelatihan. Beberapa dari mereka mengenakan kaos seragam yang ada tulisan PPA-nya.  Setahu saya itu singkatan dari Perhimpunan Pecinta Alam.

Malam ini, kami harus kembali lagi ke Solo, setelah berangkat dari sana sore tadi menuju Maospati, yang gak jelas masuk wilayah Madiun atau Magetan. Liputan baru bisa dikerjakan Senin pagi besok. Sabtu-Minggu tempat yang kami tuju itu libur.

Tapi kami sudah bertemu dengan Pak Suyono, yang sudah berjanji akan memfasilitasi kami. Mudah-mudahan semuanya seperti yang diharapkan. Saya ingin merasakan seperti apa kekuatan empat kali gravitasi itu.

Ya, semoga bisa, Nak. Sehingga kelak yang bisa kuceritakan kepadamu tidak hanya tentang kabut.