Kelak

Saya tak sempat melihat Bapak dikafani. Mungkin Uce, Fuad, Ari, dan Bang Iccang juga.  Kami berlima masih sibuk mengganti pakaian yang basah sehabis memandikan jenazah beliau, ketika seperti tergesa-gesa Bapak sudah dibawa untuk dibaringkan di ruang tengah.

Setiba di ruang tengah, kami mendapati Bapak sudah terbungkus kain putih. Mau marah, rasanya.  Kami maklum, bahwa Bapak sudah melewatkan 5 waktu shalat sejak terakhir dia menghembuskan nafas ba’da Jumat sehari sebelumnya. Tapi tak bisakah mereka menunggu kami barang sebentar saja!?

Seperti putus asa, saya berlutut mencari-cari keningnya. Tak ada kerut kulit yang bertahun-tahun aku tinggalkan menua itu. Hanya terasa wewangi kain baru beli dari toko.  Kami tak akan pernah bisa melihat Bapak lagi!

Saya tahu Bapak tak lagi bisa mendengar,  tapi saya tetap berbisik dekat telinganya. Saya punya harap yang lirih.  Itu saja yang tersisa.  Anak tak tahu diri yang penuh karat dosa ini berharap bertemu Bapaknya di surga, kelak.

Iklan
Explore posts in the same categories: Uncategorized

One Comment pada “Kelak”

  1. mBarep Says:

    turut berduka mas…walo udh lewt 4bln dan Amin…buat doa nya bertemu ayahanda di surga kelak……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: