Arsip untuk Maret 2007

[…]

Maret 30, 2007

Ya Allah, aku datang bersimpuh di gerbang maaf-Mu. Bukalah untukku juga. Karena jika itu hanya untuk orang-orang saleh dan suci,  lalu kemana lagi aku harus pergi mengetuk… 

Iklan

Kelak

Maret 29, 2007

Saya tak sempat melihat Bapak dikafani. Mungkin Uce, Fuad, Ari, dan Bang Iccang juga.  Kami berlima masih sibuk mengganti pakaian yang basah sehabis memandikan jenazah beliau, ketika seperti tergesa-gesa Bapak sudah dibawa untuk dibaringkan di ruang tengah.

Setiba di ruang tengah, kami mendapati Bapak sudah terbungkus kain putih. Mau marah, rasanya.  Kami maklum, bahwa Bapak sudah melewatkan 5 waktu shalat sejak terakhir dia menghembuskan nafas ba’da Jumat sehari sebelumnya. Tapi tak bisakah mereka menunggu kami barang sebentar saja!?

Seperti putus asa, saya berlutut mencari-cari keningnya. Tak ada kerut kulit yang bertahun-tahun aku tinggalkan menua itu. Hanya terasa wewangi kain baru beli dari toko.  Kami tak akan pernah bisa melihat Bapak lagi!

Saya tahu Bapak tak lagi bisa mendengar,  tapi saya tetap berbisik dekat telinganya. Saya punya harap yang lirih.  Itu saja yang tersisa.  Anak tak tahu diri yang penuh karat dosa ini berharap bertemu Bapaknya di surga, kelak.

Nahjul Balaghah: #45

Maret 28, 2007

Segala puji bagi Allah yang dari belas kasih-Nya tak ada orang kehilangan harapan, yang dari nikmat-nikmat-Nya tak ada orang yang tak mendapatkan, yang dari keampunan-Nya tak ada orang yang kecewa, dan yang ibadat kepada-Nya tak ada yang terlalu tinggi.

Dunia ini adalah suatu tempat yang fana dan penghuninya akan meninggalkannya. Ia manis dan hijau. Ia bergegas kepada pencarinya dan bertaut pada hati si pemandang. Maka tinggalkanlah dia dengan perbekalan terbaik yang dapat Anda peroleh, dan jangan meminta di sini lebih banyak dari yang cukup, dan jangan menuntut darinya lebih dari kebutuhan hidup. 

[Khotbah #45 Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib r.a, dalam Nahjul Balaghah]

Pulang

Maret 22, 2007

Engkau, yang karunia-Mu sangat aku harapkan, yang keadilan-Mu sangat aku khawatirkan. Semoga ini panggilan “pulang” yang terakhir dari-Mu. Semoga petunjuk-Mu tak berhenti sampai di sini. Semoga selesai semua kesesatan ini. Semoga Kau maafkan semua khilaf ini. Semoga tak berhenti Kau beri kebaikan sampai akhir nafasku kelak.

Tiba-tiba  aku rindu pulang ke kosan sesore ini. 

Harder

Maret 20, 2007

You left me with goodbye and open arms
A cut so deep I don’t deserve
You were always invincible in my eyes
the only thing against us now is time

Could it be any harder to say goodbye and without you,
Could it be any harder to watch you go, to face what’s true
If I only had one more day
I lie down and blind myself with laughter
A quick hope is what I’m needing
And how I wish that I could turn back the hours
But I know I just don’t have the power

I’d jump at the chance
We’d drink and we’d dance
And I’d listen close to your every word,
As if its your last, I know its your last,
Cause today, oh, you’re gone.

Like sand on my feet
The smell of sweet perfume
You stick to me forever
and I wish you didn’t go,
I wish you didn’t go away
To touch you again,
With life in your hands.
It couldn’t be any harder.. harder.. harder.

[The Calling, Could It Be Any Harder, Camino Palmero, 2001]  

Untukmu Saja

Maret 13, 2007

Saya baru pulang, dari pergi yang seperti lari dari sesuatu. Empat hari di Ujung Kulon. Pemanasan. Assignment pertama saya di program “Jelajah”, setelah “terkurung” hampir 5 bulan bersama data-data matematis. 5 bulan di mana sepertiganya begitu bergolak bagi saya, bagi pikiran saya. 5 bulan di mana akhirnya saya dipaksa memahami bahwa saya tak pernah berhak apa-apa atas sesuatu, pun yang secara serampangan terlanjur saya anggap sebagai “hak” saya.

Di sini saya banyak menemukan, tapi juga kehilangan sesuatu yang luar biasa.  Ada yang memutuskan pergi di saat seharusnya dia ada menemani langkah saya. Tapi, sudahlah. Tak baik menyesali keadaan. Pada akhirnya impian hanya dongeng kanak-kanak.

Banyak hikmah setelah ini. Itu pasti. Besok akan saya ceritakan ke kamu sesuatu yang semoga menenangkan. Menenangkan saya dan kamu. Saya cerita ini kepadamu saja. Ya. Untukmu saja.

satu

Maret 12, 2007

Saya datang lagi, memulai sesuatu yang baru di sini. Mungkin melanjutkan saja apa yang pernah ada. Mungkin juga bukan untuk apa-apa.