Jam Berapa Lebah Pulang?

Posted Mei 23, 2009 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

Kemarin, hanya berselang sehari setelah aku pulang, gantian kamu yang berangkat. Hampir terucap di mulutku yang kurang ajar: hubungan apa ini? Tapi kamu tahu, aku orang yang lucu. dan aku tak akan pernah bicara seperti itu. Seperti kamu pahami aku, aku pun memahamimu. Memahami pekerjaanmu. Kita ini, dua jurnalis karbitan yang berusaha eksis.
Kurang lebih seminggu lalu, aku ingin menulis ini sebenarnya. tepat saat sebelum aku berangkat menyisir kaki pulau Sulawesi, melewatkan seminggu memandangi jalan, sawah, pantai, dan kepompong ulat sutra.
Lalu aku pulang bawa banyak cerita, yang belum sempat aku ceritakan dan tiba-tiba kamu sudah harus berangkat, ikut Pak Beye ke Suramadu.

Ini sudah dua bulan lebih bersamamu. Serumah denganmu. Menarikku dari sebuah kosan sempit di gang B ke sebuah rumah kontrakan yang lumayan lapang di gang L, di jalan yang sama. Rumah yang kita sewa seharga lebih dari gabungan sewa masing-masing kontrakan kita yang lama. Akhirnya kita punya tempat untuk menaruh botol-botol pasir yang kita kumpulkan dari pantai di mana saja.
Sebuah rumah yang di bagian belakang dekat tempat jemurannya, ternyata ikut bersarang sekawanan lebah. Lebah tawon dengan sarang sebesar empat kepalan tangan.

Lebah-lebah itu, yang dari sejak pertama kita tahu mereka di situ, kita beri kesempatan tinggal tanpa harus ikut membayar sewa.

Lalu hari bergerak sebegitu cepat. Semakin lama bersamamu, semakin aku sadar ternyata aku tidak pandai-pandai banget. Setiap malam saat tidur di sampingmu seolah-olah seperti pelajaran mengeja di kelas satu SD. Belajar mengeja tarikan nafas, butiran keringat, dan wangi rambutmu, hingga aku paham arti keindahan. Kita berusaha membawa semua hal bergerak ke kanan.

Tapi, tentu saja tidak semua bisa kita bawa ke kanan. Ada yang berubah, itu pasti. Di rumah ini, kita belajar bahagia, yang dengan itu kadang kita terpaksa harus menutup pintu rapat-rapat, yang membuat kita makin jauh dari gangguan pengemis, salesman, dan mungkin musafir yang ingin minta air. Bukan salahmu. Berita-berita di koran dan TV lah yang membuat kita seperti itu, berpikir seolah-olah semua orang yang datang mengetuk pagar pastilah ingin menipu atau menyakiti.

Lalu apa arti bahagia tanpa melibatkan orang lain? Atau hewan lain? Jangan dijawab. Ini pertanyaan naif.
Tapi setidaknya kita masih beruntung, kawanan lebah itu masih mau bersarang di belakang rumah kita, dekat sekali dengan tali jemuranmu.

Ini sudah dua bulan lebih bersamamu. Baru dua bulan. Jika Allah meridhoi, kita masih akan melewati banyak tahun. Tahun yang pasti tidak semuanya ringan. Tidak perlu ilmu roket untuk tahu itu. Toh bukankah hidup adalah perjuangan abadi melawan kesedihan?

Malam ini, aku bolos satu pelajaran. Kamu, guru kehidupanku, masih di luar kota tugas liputan. Besok pagi pulang, kau bilang. Dari Surabaya, Pak Beye terus ke Bali, dan kalian tidak diajak.

Aku tunggu, Sayang. Malam ini aku tidur di kantor, malas pulang setelah main layangan di teras belakang tadi. Jemuran masih aku biarkan di tali gantungannya di belakang rumah, dekat sarang lebah itu. Belum aku pindahkan. Biar kata orang itu obat, aku ngeri kena sengat lebah-lebah itu.
Hanya kamu yang tahu kapan mereka berangkat dan pulang ke sarang, dan dengan itu kita tak perlu mengganggunya.

datanglah, kami tunggu…

Posted Maret 8, 2009 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

Assalamualaikum Wr. Wb.
Mengabarkan dan meneruskan kebahagiaan, dan tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang Bapak/ Ibu/ Saudara/ Sahabat/ Rekan untuk menghadiri syukuran dan resepsi pernikahan kami, FAUZAN MUKRIM dan DESANTI SARAH, yang insya Allah akan dilaksanakan pada: 
Sabtu, 14 Maret 2009, pukul 11.00-14.00 WIB, bertempat di Gedung Serasan SESKO TNI, Jl. R.A.A Martanegara, No.11 Bandung, Jawa Barat.
Akad nikah insya Allah akan dilaksanakan pada hari yang sama, pukul 08.00 WIB di Masjid Djannatul Ma’wa Ksatrian SESKO TNI, Jl. RAA. Martanegara No.11 Bandung.
 
Besar harapan kami, Bapak/ Ibu/ Saudara/ Sahabat/ Rekan bisa hadir untuk memberi restu dan mendoakan kami agar menjadi keluarga yang sakinah.
 
 
FAUZAN MUKRIM (Ochan) 
News TRANS TV Jakarta
 
 
DESANTI SARAH (Desanti)
News TRANS7 Jakarta
 

tak jadi datang

Posted Januari 6, 2009 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

dan hingga tahun berganti, badut dari surga yang ditunggu-tunggu itu ternyata tak jadi datang.  kabarnya dia bersisian jalan dengan segerombolan peternak matahari dari neraka.  hidung merahnya diambil, dijadikan hiasan pipi gadis kecil kena influensa.

maka saya menggantikannya.  mencoba mengambil alih perannya. saya pernah sekolah badut meski tak tamat. saya tahu cara bikin ketawa. yang saya tak tahu adalah bagaimana cara agar tak bersedih.

badut dari surga

Posted November 17, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

..akan datang.. akan datang…

formasi 100-3-100

Posted November 9, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

dua tahun lalu, di depan monumen korban bom Bali di Kuta, saya berdiri menghitung nama-nama yang tertera di situ. 200 lebih.

dini hari ini, saya membayangkan mereka berdiri membuat barisan seperti penyambut tamu pengantin. 100 di kiri, 100 di kanan. menyambut 3 orang yang baru saja berangkat, dan akan segera menginjak karpet merah mereka.

[breaking news eksekusi mati amrozi cs: tvone, CNN, Trans7, ANTV...]

ketiga orang itu

Posted November 4, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

saya tahu sangat salah mengharapkan sesuatu yang buruk agar terjadi bagi orang lain. tapi kali ini saya harus membuat pengecualian, setelah terlebih dahulu merevisi konsep buruk itu sendiri dalam hati dan pikiran saya. dalam beberapa remang malam hampir pagi, saya kadang berharap ketiga orang itu segera saja dieksekusi.
saya menunggu-nunggu kapan juru tembak itu menarik picu. dan mengakhiri riwayat mereka. saya merasa cukup lelah, dan bisa merasakan betapa lebih lelahnya teman-teman yang di cilacap.

ketiga orang itu. beberapa bulan lalu saya bertemu mereka di nusakambangan, wawancara dengan mereka. dan saya membawa pulang kemarahan. sebagai orang islam. sebagai umat manusia. berbulan-bulan setelah itu, di televisi, setelah shalat idul fitri kemarin, saya melihat salah seorang dari mereka masih meneriakkan kata-kata dengan rima yang sama. muklas namanya. dia berjanggut dan bersorban, dan dengan begitu merasa bisa mengobarkan kebencian. atas nama Allah. seperti banyak ustadz lainnya.

imam samudra. saya juga latah memanggilnya “ustadz” ketika itu. sesekali Kang Azis. saya tanya tak pernahkah sekali waktu tergerak hatinya untuk melihat mata istri atau anak orang-orang yang mereka jadikan korban atas nama jihad? saya tak suka jawabannya. dia menyebut tentang kafarat. tak perlulah saya tulis.

hanya amrozi yang tak banyak bicara. dia yang di banyak berita dijadikan ikon, malah terlihat tenggelam oleh dominasi dua sekondannya itu. atau mungkin dia memang pendiam. tak tahulah saya.

dan saya masih dipenuhi bimbang untuk menyetujui atau tidak hukuman mati bagi ketiga orang itu. bukannya saya tidak berusaha untuk memahami. saya berusaha. kadang saya berpikir, mungkin saya akan seperti mereka juga jika seandainya saya telah melihat apa yang mereka lihat. saya tidak pernah ke afghanistan atau irak dan melihat orang islam dibantai. saya hanya pernah mendengar cerita ambon dan poso dari kawan-kawan yang pernah terjebak perang di sana.

kecuali kau terlalu sering nongkrong di starbucks, banyak hal yang bisa membuat dendammu membatu. kata imam samudra, dia berbuat seperti itu salah satunya karena ada seorang wanita muslimah yang diperkosa oleh orang yang disebutnya kafir di Batam. Saya mendengar sendiri dia bilang itu.

entahlah. saya bingung dalam taraf yang cukup memusingkan.

lalu seorang teman mengirimi saya sms. kasih saya pendapatmu tentang hukuman mati, katanya. dan saya membalas: jika yang kau maksud adalah ketiga orang itu, saya setuju mereka dihukum mati. baik buat mereka, dan baik pula untuk korban-korban mereka. hukuman itu mungkin akan segera memenuhi rasa keadilan keluarga korban teror mereka, dan mereka bertiga juga akan segera bertemu dengan ainul mardiah, bidadari surga, seperti yang mereka cita-citakan.

lucu. saya tidak bisa paham mengapa Allah Yang Maha Rahman akan menghadiahimu bidadari cantik setelah engkau membunuh ratusan orang.

begitulah saya menjawab. padahal jujur, saya sesungguhnya berharap ini seperti pilkada dan saya boleh abstain.

wake me up before oktober ends

Posted Oktober 25, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

oktober belum berakhir, dan aku sudah harus terbangun. ada patahan mimpi yang mencelat, muncul dari lubang tidur seperti ranggas pohon-pohon kekeringan.

maafin aku, dek. jualan belum juga laku, padahal hujan mulai turun satu-satu.

wake me up when oktober ends

Posted Oktober 22, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

Hanya agar supaya bulan Oktober tak berakhir begitu saja tanpa ada apa-apa, maka saya menulis di sini.  Inilah.

Cacat

Posted September 8, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

Dalam mata yang diserang kantuk, saya melihat dia di dalam mobil sedan merah. Seorang laki-laki turun lebih dulu, membuka bagasi dan mengeluarkan kursi roda yang masih terlipat. Setelah itu dia menyusul turun, berpindah dari jok depan mobil ke kursi roda.

Laki-laki itu, mungkin suaminya atau pacarnya atau kakaknya, mendorongnya kemudian. Dia menguap kecil  menandakan tidurnya belum paripurna hari ini. mungkin dia harus bangun sahur, atau bangun memasakkan sahur. Saya tidak tahu. Hanya sebegitu saya bisa melihatnya. setelah itu dia menghilang di balik bingkai kaca yang berembun, disebabkan hujan yang membantai Jakarta dini hari tadi.

Saya tidak mengenalnya. mungkin dia dari lantai 5,6, atau 7. Entahlah. yang pasti bukan dari lantai 3, tempatku bekerja. Di lantaiku, semua bisa berjalan normal, kecuali mesin Automatic News Networking (ANN) yang sudah dua hari ini mogok tidak mau jalan, yang menyebabkan semua proses siaran berita pagi harus dikerjakan manual, dan software canggih sekian ratus juta itu terpaksa digantikan oleh Microsoft Excel, juga mesin prompter harus diinput satu-satu supaya presenter di studio bisa tetap tampak pintar dan hapal di luar kepala berita yang dibawakannya.

Dan perempuan di kursi roda itu, mengingatkanku kembali kepada guru peradaban Aristoteles, yang mengkhotbahi murid-muridnya pada suatu pagi: tak ada yang bercacat selain pikiran, Anakku. Hanya dia yang jahat yang boleh disebut cacat.

Ringan

Posted September 4, 2008 by halamanrawa
Categories: Uncategorized

Ternyata sudah berhari-hari aku meninggalkan si kecil Guazuma kedinginan di luar situ. Tadi subuh sewaktu roko’an bareng teman-teman di teras, aku baru teringat padanya. Akhirnya kami berbagi minuman menjelang imsak, dari gelas aqua plastik yang sama.
dia tidak marah, kelihatannya, meski sebagian tubuhnya telah menguning dipapar matahari dan hujan yang tak tentu. ini salahku.
harusnya aku mendengar kata Danang yang menitipkannya padaku. “Kamu bisa menjaganya tidak?”
aku yakin iya, maka aku bilang iya. aku baru tahu mengapa dia disebut amanah. karena jika seandainya ringan maka dia bernama kapas atau helium.